SDM Indonesia Tangani Penuh Operasional Kereta Cepat Whoosh

Petugas mempersilahkan penumpang untuk naik Kereta Api Cepat Whoosh di stasiun. (dok. kcic)
Bagikan

Manajemen PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyatakan, seluruh kegiatan operasional dan perawatan Kereta Cepat Whoosh kini sepenuhnya ditangani Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia setelah melalui proses transfer pengetahuan bersama tenaga profesional asal Tiongkok sejak tahun 2023.

Menurut General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa operasional Whoosh tidak hanya menghadirkan transportasi modern, tetapi juga mendorong penguasaan teknologi kereta cepat oleh tenaga kerja Indonesia.

“Melalui proses transfer pengetahuan yang terstruktur selama tiga tahun, tenaga Indonesia kini telah mampu menjalankan seluruh kegiatan operasi dan perawatan Whoosh secara mandiri,” katanya di Bandung.

Dia menjelaskan, proses transfer pengetahuan berlangsung sejak tahun 2023 melalui pendampingan tenaga profesional asal Tiongkok yang tergabung dalam Operation and Maintenance Consortium (OMC).

Pada awal operasional, tenaga profesional Tiongkok terlibat langsung dalam kegiatan operasi dan perawatan, sekaligus mendampingi pegawai Indonesia.

“Ini merupakan pencapaian penting yang membuktikan kemampuan SDM Indonesia dalam menguasai teknologi perkeretaapian berkecepatan tinggi,” tutur Eva.

Dia menambahkan, seiring dengan meningkatnya kompetensi tenaga Indonesia, jumlah tenaga pendamping dari Tiongkok dikurangi secara bertahap hingga seluruhnya menyelesaikan masa tugas dan kembali ke negara asal pada Agustus 2026.

“Sejak September 2026, seluruh fungsi operasi dan perawatan Whoosh telah dijalankan secara mandiri oleh pegawai Indonesia,” tegasnya.

Cakupan tugas tersebut meliputi masinis, pusat kendali operasi atau Operation Control Center (OCC), perawatan sarana, jalan rel, jembatan, terowongan, persinyalan, telekomunikasi, kelistrikan hingga berbagai peralatan pendukung lainnya.

KCIC juga terus mengembangkan kompetensi pegawai untuk menjaga kesiapan dan keandalan operasional.

Eva mengatakan, transfer pengetahuan dilakukan secara bertahap melalui pelatihan teori dan simulator, observasi dan pelatihan kerja langsung atau on the job training bersama tenaga profesional Tiongkok.

“Selanjutnya, pegawai Indonesia menjalani praktik kerja, uji kompetensi, sertifikasi, asesmen teknis hingga serah terima tanggung jawab sebelum dinyatakan siap bekerja secara mandiri,” tuturnya.

Menurut Eva, berakhirnya masa pendampingan tenaga profesional Tiongkok tidak mengurangi komitmen KCIC dalam menjaga keselamatan dan keandalan operasional Whoosh.

Seluruh pegawai yang bertugas telah memenuhi persyaratan kompetensi dan sertifikasi sesuai bidang masing – masing, dengan setiap pekerjaan tetap mengacu pada prosedur, serta standar keselamatan yang berlaku. B

Komentar

Bagikan