Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat penetrasi di pasar Australia melalui segmen wisata edukasi dengan mendukung penyelenggaraan famtrip edukasi bertajuk Wonderful Indonesia Edu-Familiarization Trip: Where Heritage Meets a Sustainable Future.
Program ini diselenggarakan oleh University of Tasmania (UTAS) bersama Westpac Scholars Trust dengan melibatkan 43 peserta dari Westpac Australia-Asia Fellowship (WAAF) Leadership Residential Program yang berkunjung ke Jakarta.
Menurut Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Kemenpar Ni Made Ayu Marthini, kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mempromosikan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan di pasar wisata edukasi internasional, khususnya bagi wisatawan asal Australia.
“Australia merupakan salah satu pasar utama pariwisata Indonesia. Melalui program ini, kami ingin para calon pemimpin muda Australia merasakan langsung Jakarta, dari Masjid Istiqlal hingga cerita sejarah Kota Tua, sehingga pengalaman tersebut menjadi cerita positif tentang Indonesia yang mereka bawa ke jejaring akademik dan profesionalnya,” katanya.
Rangkaian program di Jakarta mengangkat tema identitas, perubahan dan pengaruh regional Indonesia.
Peserta mengikuti sesi In-Conversation bersama Dewi Fortuna Anwar sebagai Research Professor BRIN dan diskusi panel Indonesia in Focus yang menghadirkan Prof. Rizaldi Boer dari IPB University Lina Alexandra dari CSIS, dan Rusli Cahyadi dari BRIN.
Rangkaian hari pertama diisi dengan santap siang bersama perwakilan Kemenpar dan CEO Westpac Scholars Trust Amy Lyden.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kemenpar turut mengenalkan destinasi warisan budaya dan keberagaman Indonesia kepada peserta, melalui kunjungan tur berpemandu di Masjid Istiqlal, dilanjutkan dengan Walking tour bertema Jakarta’s Story: Heritage, Identity and Urban Change, menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta, meliputi area Kali Besar dan Lapangan Fatahillah.
Hari pertama ditutup dengan Heritage Networking Dinner di House of Tugu yang mempertemukan peserta dengan akademisi, pakar dan pemangku kepentingan Indonesia dalam balutan kehangatan budaya, serta kuliner Nusantara.
Agenda kemudian berlanjut pada 6 Oktober 2026 dengan sesi pengarahan di Kedutaan Besar Australia, kunjungan ke Sekretariat ASEAN dan kehadiran pada resepsi ASEAN Emerging Leaders.
Sebelum bertolak menuju Ho Chi Minh City pada 7 Oktober 2026, para peserta mengikuti sesi Activity Briefing dan refleksi perjalanan.
CEO Westpac Scholars Trust dan Westpac Foundation Amy Lyden mengungkapkan, apresiasinya atas sambutan hangat yang diberikan selama program berlangsung di Jakarta.
“Bertemu langsung dengan para tokoh dan pakar Indonesia serta menjelajahi warisan budaya kota ini sangat memperkaya pemahaman para peserta tentang Indonesia,” jelasnya.
Edukasi dan minat khusus yang memadukan warisan budaya dengan isu masa depan berkelanjutan turut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan perguruan tinggi, serta mitra di Australia.
Para peserta diharapkan dapat menjadi duta informal yang membagikan pengalaman dan perspektif mereka tentang Indonesia kepada komunitasnya, sehingga mampu memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang kaya akan pengetahuan, budaya, serta pengalaman bermakna.
Sejalan dengan visi tersebut, Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kementerian Pariwisata Yulia menambahkan bahwa kampanye Go Beyond Ordinary hadir untuk memperkuat daya tarik pariwisata Indonesia melalui pengalaman yang melampaui wisata konvensional.
Kampanye ini mengedepankan eksplorasi budaya, pembelajaran dan keterhubungan dengan isu – isu global yang relevan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menarik minat wisatawan yang mencari perjalanan lebih mendalam, sekaligus memberikan nilai tambah bagi destinasi yang dikunjungi.
“Melalui kampanye Go Beyond Ordinary, kami ingin menghadirkan perspektif baru dalam berwisata dengan menawarkan pengalaman yang lebih autentik, berkesan dan bermakna,” tutur Yulia. B




