
Data penerbangan melalui Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta di Tangerang pada hari pertama hingga pukul 23.59 WIB tertanggal 6 September 2026 mencatat sebanyak 923 penerbangan terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Jumlah tersebut terdiri atas 671 penerbangan domestik, 232 penerbangan internasional dan 20 penerbangan kargo dengan melibatkan 119.215 penumpang.
Memasuki hari kedua hingga pukul 18.00 WIB tertanggal 7 September 2026, dampak penutupan bertambah ke 624 penerbangan tambahan, meliputi 461 penerbangan domestik, 156 penerbangan internasional dan 7 penerbangan kargo dengan total 75.236 penumpang terdampak.
Berdasarkan kalkulasi simulasi data keuangan mengacu pada acuan tarif resmi Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 118 Tahun 2022 mengenai Besaran Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U/PSC) dan regulasi pendaratan pesawat (PJP4U), total potensi kerugian finansial di Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan mencapai sekitar Rp47,36 miliar.
Kehilangan potensi penerimaan terbesar berasal dari pos PJP2U atau airport tax yang diperkirakan mencapai Rp32,94 miliar.
Angka tersebut dihitung berdasarkan asumsi rata – rata tarif PJP2U domestik sebesar Rp135.000 per penumpang (dengan menyerap potensi Rp19,37 miliar) dan tariff PJP2U internasional sebesar Rp266.400 per penumpang (menyerap potensi Rp13,57 miliar) sesuai dengan komposisi historis penumpang harian.
Selain itu, pengelola bandara berpotensi kehilangan pendapatan dari lini PJP4U atau landing fee sekitar Rp4,70 miliar.
Angka ini berasal dari 1.520 penerbangan penumpang dengan rata – rata tarif pendaratan Rp3.000.000 per pesawat dan 27 penerbangan kargo dengan estimasi tarif Rp5.000.000 per pesawat.
Sementara itu, dari sektor bisnis non-aeronautika di antaranya pendapatan tenant retail, fasilitas makanan dan minuman (Food and Beverage/F&B) hingga jasa kargo, maka potensi kerugian diperkirakan sekitar Rp9,72 miliar, dengan perkiraan hilangnya estimasi belanja penumpang sebesar Rp50.000 per orang.
Sementara itu, sejumlah bandara di Sumatra dan Jawa masih terdampak operasionalnya akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di Provinsi Banten hingga Senin (7/9/2026) pagi.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus menyesuaikan operasional penerbangan dan menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk menjaga konektivitas penerbangan dengan tetap mengutamakan keselamatan.
Menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi, berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), maka diputuskan bahwa penutupan operasional bandara sementara masih dilanjutkan hingga pukul 18.00 WIB.
Namun demikian, Kemenhub terus memantau informasi terbaru dari BMKG, karena apabila terjadi perubahan, maka segera menginformasikannya kepada para pengguna jasa transportasi udara.
“Penyesuaian operasional penerbangan dilakukan secara dinamis mengikuti kondisi aktual di lapangan dan perkembangan sebaran abu vulkanik,” ujar Menhub saat memantau secara langsung Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada Senin (7/9/2026).
Berdasarkan pembaruan kondisi operasional pada Senin (7/9) pukul 09.00 WIB, bandara yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih akan ditutup hingga pukul 18.00 waktu setempat.
Bandara tersebut, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Banten berdasarkan NOTAM A3373/26 NOTAMR A3368/26, lalu Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Budiarto di Banten, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Pondok Cabe di Banten, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat.
Adapun sebagai informasi Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatra Selatan yang sempat ditutup, sudah dapat beroperasi secara normal per 7 September 2026 pada pukul 09.00 WIB.
“Tadi malam, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sehingga menimbulkan debu vulkanik baru. Dari BMKG juga menyampaikan bahwa arah angin yang terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau terdapat pada beberapa layer berbeda – beda di udara,” tutur Menhub.
Debu erupsi tersebut, dia menambahkan, ada yang mengarah dari Timur Tenggara, Timur Laut Barat Daya dan sebagainya, sehingga membuat debu masih bertahan di sekitar lokasi bandara – bandara yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Dari pemantauan BMKG pada Senin (7/9/2026) pagi, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terpantau pada dua lapisan ketinggian, yakni hingga 15.000 kaki dan 50.000 kaki.
Kondisi tersebut masih berpotensi memengaruhi jalur penerbangan, sehingga penyesuaian operasional bandara dan penerbangan terus dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan sebaran abu vulkanik serta informasi keselamatan penerbangan terbaru.
Dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap operasional penerbangan hingga Senin (7/9) pukul 09.00 WIB tercatat sekitar 2.300 penerbangan dan 270.337 penumpang terdampak.
Data tersebut merupakan akumulasi dampak operasional sejak 5 September 2026 dan mencakup penerbangan yang mengalami pembatalan, penundaan, maupun pengalihan.
Pada bandara yang berstatus ditutup sementara, tercatat 1.397 penerbangan dengan sekitar 177.579 penumpang terdampak, sedangkan pada bandara lain yang penerbangannya terdampak akibat penyesuaian rute tercatat 922 penerbangan dengan sekitar 92.758 penumpang terdampak.
Kemenhub terus melakukan koordinasi dengan maskapai dan pengelola bandara untuk menangani dampak terhadap penumpang, serta memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan sesuai ketentuan.
Menhub menegaskan, jika nanti bandara sudah bisa dibuka kembali, maka persiapan penerbangan akan segera dilakukan.
Sejumlah upaya persiapan masih akan dilakukan setelah bandara dibuka dan sebelum siap dioperasikan kembali, sehingga Menhub berharap masyarakat dapat bersabar selama waktu persiapan bandara.
“Dalam persiapannya, apabila kondisi sudah memungkinkan untuk bandara dibuka, kami akan melakukan berbagai upaya, seperti pembersiahan runway, taxi way maupun apron. Ini supaya apabila pada waktunya situasi sudah memungkinkan, bandara siap dioperasikan,” jelas Menhub. B



