Kesehatan Fisik dan Mental Pramudi: Kunci Utama Budaya Keselamatan Transjakarta

Paramudi armada bus Transjakarta. (dok. istimewa)
Bagikan

Merespon tingginya angka kecelakaan akibat faktor manusia, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memperkuat Budaya Keselamatan melalui kemitraan bersama Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia dan Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia untuk menerapkan Standar Kesehatan Kerja dan Asesmen Psikologis Pramudi berbasis risiko.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Metro Jaya, sepanjang tahun 2025 terjadi sebanyak 13.184 kasus kecelakaan lalu lintas.

Dari jumlah tersebut, mayoritas atau 85% di antaranya disebabkan oleh kelalaian manusia, 10% akibat faktor kendaraan dan 5% sisanya dipicu oleh faktor alam atau lingkungan.

PT Transportasi Jakarta akan menerapkan Standar Kesehatan Kerja Pramudi bekerja sama dengan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki), dan Standar Asesmen Psikologis Pramudi bersama Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia sebagai bagian dari Budaya Keselamatan.

Pramudi memiliki peran sentral dalam menjamin keselamatan, keamanan dan kualitas layanan transportasi publik.

Kondisi kesehatan sangat memengaruhi konsentrasi, kewaspadaan, kemampuan mengambil keputusan dan respons saat mengemudi.

Mengingat Transjakarta mengoperasikan berbagai jenis armada dengan karakteristik risiko yang berbeda, diperlukan standar kesehatan yang relevan dan sesuai.

Berdasarkan data PT Transportasi Jakarta tahun 2025, faktor kesehatan pramudi menjadi kontributor terbesar sumber bahaya operasional, yaitu mencapai 36,26%.

Posisi berikutnya diisi oleh faktor psikologis sebesar 19,40%, faktor teknis kendaraan sebesar 12,05% dan kelalaian pihak eksternal sebesar 5,21%.

Jika digabungkan, faktor kesehatan fisik dan mental menyumbang lebih dari 55% total risiko operasional.

Gangguan kesehatan dapat menyebabkan penurunan stamina, kelelahan (fatigue), penurunan konsentrasi, waktu reaksi yang lebih lambat, kesalahan dalam mengambil keputusan hingga risiko kehilangan kendali atas kendaraan.

Kondisi kesehatan yang kurang optimal ini secara langsung dapat meningkatkan risiko perilaku berkendara yang tidak aman.

Selama ini, pemeriksaan kesehatan masih dilakukan oleh berbagai operator dan fasilitas kesehatan secara terpisah.

Akibatnya, jenis pemeriksaan belum seragam, frekuensinya berbeda – beda dan kriteria fit to work belum terstandarisasi, serta belum mempertimbangkan tingkat risiko dari masing – masing jenis armada.

Oleh karena itu, penyusunan standar kesehatan kerja pramudi bus Transjakarta menjadi hal yang sangat diperlukan.

Sementara itu, faktor psikologis dalam operasional pengemudi dapat memicu berbagai kejadian berisiko, antara lain perilaku agresif dan ketidakpatuhan, seperti Ketidaksabaran, gaya mengemudi ugal – ugalan, menerobos lalu lintas dan overspeeding.

Kelelahan (fatigue), seperti rasa lelah atau mengantuk, penurunan stamina dan kewaspadaan, serta penurunan konsentrasi akibat distraksi, rasa bosan maupun kehilangan fokus.

Tekanan kerja berupa beban target operasional, seperti tuntutan memenuhi jumlah ritase atau ketepatan jadwal.

Ego atau kepercayaan diri berlebih (overconfidence), seperti merasa sudah sangat berpengalaman, sehingga cenderung mengabaikan SOP dan prosedur keselamatan.

Pemeriksaan Khusus

Mengapa pemeriksaan khusus pramudi diperlukan? Pertama, pramudi bertanggung jawab mengoperasikan kendaraan yang mengangkut banyak penumpang dan berinteraksi langsung dengan pengguna jalan lainnya.

Kedua, kemampuan mengemudi secara aman memerlukan kondisi kesehatan yang memadai, termasuk kesiapan fisik, sensorik, kognitif dan psikologis yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

Ketiga, adanya penyakit, cedera, tindakan medis, penggunaan obat – obatan, maupun kondisi kesehatan tertentu dapat memengaruhi kemampuan pramudi dalam menjalankan tugas secara aman.

Keempat, pemeriksaan khusus ini memastikan kesesuaian antara kondisi kesehatan pramudi dengan tuntutan pekerjaannya, terutama sebelum mereka kembali bertugas mengemudi.

Saran

Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki) menyarankan agar pemeriksaan kesehatan secara berkala dilaksanakan bagi pramudi yang telah bekerja sebagai bagian dari surveilans kesehatan kerja.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan, mendeteksi dini penyakit, mengevaluasi dampak lingkungan kerja dan menilai fitness for work.

Pada akhirnya, langkah ini menjadi bagian dari upaya menjamin keselamatan pramudi, penumpang dan pengguna jalan.

Pemeriksaan kesehatan berkala bagi pramudi sangat krusial, karena mereka tergolong sebagai safety-critical worker.

Berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan penglihatan, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gangguan tidur, gangguan neurologis, dan mental hingga penyalahgunaan zat yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan secara signifikan.

Oleh karena itu, pemeriksaan ini wajib mempertimbangkan faktor usia, jenis armada, tingkat risiko, dan riwayat kesehatan pramudi.

Pemeriksaan kesehatan berkala bertujuan untuk memantau perkembangan kesehatan, mendeteksi dini penyakit dan faktor risiko, menentukan intervensi medis, menjadi dasar promosi kesehatan, serta pengendalian risiko hingga mengevaluasi efektivitas program kesehatan kerja.

Klinik kesehatan dan Psikologi

Rencana akan diadakan fasilitas Klinik Kesehatan dan Klinik Psikologi di lingkungan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memberikan manfaat yang sangat strategis, baik untuk internal pramudi atau pekerja maupun untuk publik secara umum.

Pertama, menjamin keselamatan dan keamanan penumpang (safety first). Pencegahan kecelakaan (preventive safety), mengingat faktor kesehatan fisik dan psikologis menyumbang lebih dari 55% risiko operasional, serta keberadaan klinik menjadi benteng utama dalam menekan angka kecelakaan di jalan raya.

Memastikan standar fit to work dan fit to drive, pramudi yang akan bertugas dapat dipastikan dalam kondisi stamina optimal, bebas dari kelelahan ekstrem (fatigue), tidak mengantuk dan terbebas dari pengaruh zat berbahaya atau obat – obatan yang memicu kantuk.

Kedua, deteksi dini dan pengendalian risiko kesehatan fisik. Skrining penyakit kritis, pemantauan berkala terhadap penyakit kronis (seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung hingga gangguan penglihatan) yang berpotensi kambuh secara tiba – tiba saat mengemudi.

Penanganan medis cepat dan tepat, memberikan pertolongan pertama dan penanganan kuratif dan rehabilitatif bagi pekerja yang mengalami cedera atau masalah kesehatan kerja.

Edukasi dan promosi kesehatan, menjadi pusat pemberian edukasi pola hidup sehat, manajemen waktu istirahat dan nutrisi yang tepat bagi pramudi yang memiliki jam kerja shift.

Ketiga, menjaga stabilitas mental dan kesehatan jiwa pramudi. Pengelolaan stres pekerjaan (stress management), menghadapi kemacetan lalu lintas Jakarta dan tuntutan target operasional (ritase/jadwal) dapat memicu tingkat stres tinggi.

Klinik psikologi membantu pramudi mengelola emosi dan tekanan kerja. Mencegah perilaku mengemudi berisiko, konseling psikologi membantu memitigasi perilaku emosional, seperti agresivitas di jalan (road rage), ugal – ugalan, ketidaksabaran atau sikap overconfidence yang mengabaikan SOP keselamatan.

Atasi kelelahan mental (mental fatigue and burnout), mengemudi dalam durasi panjang berpotensi menimbulkan kejenuhan dan penurunan fokus. Intervensi psikologis membantu menjaga kesiapan kognitif dan daya konsentrasi pramudi.

Keempat, efisiensi operasional dan produktivitas perusahaan. Pemeriksaan harian yang terintegrasi, proses tes kesehatan harian (daily fit to drive check) menjadi lebih efisien, terstruktur dan akurat, karena ditangani langsung oleh fasilitas medis internal.

Menurunkan angka absensi (ketidakhadiran), dengan adanya pencegahan dan penanganan medis dini, angka kesakitan (morbidity rate) di kalangan pekerja dapat ditekan, sehingga operasional bus tetap lancar.

Data surveilans kesehatan kerja, perusahaan memiliki rekam medis dan data psikologis yang valid untuk menentukan kebijakan rotasi kerja, penyesuaian armada, maupun alokasi waktu istirahat yang berbasis risiko.

Kelima, penguatan budaya keselamatan (safety culture) dan kepercayaan publik. Meningkatkan kepercayaan pengguna jasa, masyarakat merasa lebih aman dan nyaman menggunakan Transjakarta, karena mengetahui pramudi yang membawa armada telah melalui pengawasan medis dan psikologis yang ketat.

Wujud kepedulian perusahaan (employee well-being), menunjukkan komitmen nyata PT transportasi Jakarta dalam melindungi aset terpentingnya, yaitu para pramudi sebagai safety-critical worker.

Catatan Penutup

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dapat menjadikan kajian ini sebagai perangkat hokum, seperti Peraturan Menteri Perhubungan tentang Standar Tata Kelola Kesehatan dan Mental Pengemudi Transportasi Publik.

Saat ini, sebanyak 46 pemerintah daerah telah menyelenggarakan transportasi umum melalui skema pembelian layanan (buy the service).

Ditjen Hubdat Kemenhub tidak perlu lagi membuat kajian dari awal, melainkan tinggal merangkum dan menelaahnya menjadi regulasi acuan bagi pemda yang sedang maupun akan menerapkan sistem tersebut. (Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI))

 

Komentar

Bagikan