Indonesia Dorong Percepatan Implementasi Sustainable Aviation Fuel di ASEAN

Lokakarya Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) ASEAN: Advancing SAF Implementation in the ASEAN Region di Bali. (dok. hubudkemenhub)
Bagikan

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubud Kemenhub) menegaskan komitmen Indonesia untuk mempercepat pengembangan dan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di kawasan ASEAN melali penyelenggaraan Lokakarya Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) ASEAN: Advancing SAF Implementation in the ASEAN Region di Bali.

Lokakarya yang dihadiri oleh delegasi negara – negara ASEAN, perwakilan ICAO, Uni Eropa, EASA, industri penerbangan, akademisi, dan mitra internasional ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi regional dalam mewujudkan dekarbonisasi sektor penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara yang diwakili oleh Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Sokhib Al Rokhman, dalam sambutannya pada pembukaan lokakarya mengatakan, pertanyaan yang dihadapi saat ini bukan lagi mengenai apakah SAF akan menjadi bagian dari masa depan penerbangan, melainkan mengenai seberapa cepat, efektif dan kolaboratif penerapannya dapat dipercepat di seluruh kawasan ASEAN.

Menurut Sokhib, ASEAN memiliki seluruh elemen kunci untuk membangun ekosistem SAF yang kuat. Indonesia, Malaysia, Tailan dan Vietnam memiliki ketersediaan bahan baku terbarukan yang melimpah, sedangkan negara maju seperti Singapura memiliki keunggulan pada aspek teknologi, inovasi, serta kapasitas industri.

“Dengan menggabungkan kekuatan yang saling melengkapi ini, ASEAN dapat membangun industri SAF regional yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi seluruh negara anggota,” jelasnya.

Sokhib menambahkan, tantangan pengembangan SAF tidak hanya merupakan keharusan lingkungan, tetapi juga peluang strategis untuk menjadikan ASEAN sebagai salah satu pusat ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan terdepan di dunia.

Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Keempat Working Group 5 ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP) yang diselenggarakan di Bali pada pekan sebelumnya.

Rangkaian dua kegiatan internasional tersebut mencerminkan peran aktif Indonesia dalam mendukung agenda global penerbangan berkelanjutan sekaligus menerjemahkannya ke dalam aksi regional melalui pengembangan kapasitas, pertukaran pengetahuan dan penguatan kemitraan.

Dalam forum ini, para peserta membahas berbagai aspek pengembangan SAF, mulai dari diversifikasi bahan baku, sertifikasi keberlanjutan, teknologi produksi, kesiapan infrastruktur, kerangka regulasi, pengembangan pasar, pembiayaan hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Ditjen Hubud Kemenhub menekankan pentingnya penyusunan peta jalan bersama ASEAN yang mencakup harmonisasi regulasi, percepatan pengembangan teknologi, perluasan kapasitas produksi, penguatan jaringan distribusi regional, dan penetapan target implementasi SAF yang jelas.

“Masa depan penerbangan berkelanjutan di ASEAN tidak akan dibangun oleh satu negara yang bertindak sendiri. Masa depan itu akan dibangun melalui saling percaya, berbagi pengetahuan, kepemimpinan kolektif dan kemitraan yang kuat,” tutur Sokhib.

Sebagai salah satu pasar penerbangan terbesar di ASEAN dengan potensi energi terbarukan yang signifikan, Indonesia menyatakan kesiapan untuk terus bekerja sama dengan negara – negara ASEAN, ICAO, Uni Eropa, EASA, dan seluruh pemangku kepentingan guna mempercepat pengembangan dan pemanfaatan SAF di kawasan.

Melalui lokakarya ini, Indonesia berharap tercipta langkah-langkah konkret yang mampu mendorong transformasi sektor penerbangan ASEAN menuju sistem transportasi udara yang lebih bersih, tangguh dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Aspirasional Global Jangka Panjang (LTAG) ICAO untuk mencapai emisi karbon net-zero dari penerbangan internasional pada tahun 2050. B

Komentar

Bagikan