PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA membidik ekspansi kapasitas produksi di pabrik Banyuwangi dan Madiun melalui pemanfaatan Penyertaan Modal Negara (PMN) Tahun Anggaran 2025 senilai Rp473 miliar.
Direktur Utama PT INKA Eko Purwanto menuturkan, suntikan modal tersebut dialokasikan untuk mengeskalasi kapasitas, kapabilitas dan mempercepat transformasi digital pada sejumlah lini manufaktur hilir perusahaan.
Selain itu, injeksi modal tersebut juga akan digunakan untuk melengkapi fasilitas pengujian guna menjamin kualitas final dari produk – produk buatan Inka.
“Rencana penggunaan PMN ini kami pergunakan selain peningkatan kapasitas dan kapabilitas, juga kami pergunakan untuk pengembangan komponen – komponen utama kereta api, yaitu propulsi dan bogie,” tuturnya di Kompleks Parlemen.
Dia menjelaskan, alokasi dana PMN tahun anggaran 2025 senilai Rp473 miliar tersebut secara garis besar terbagi ke dalam dua klaster peruntukan utama demi menyokong kebutuhan pabrik.
Sebesar Rp440 miliar dialokasikan khusus pada sektor fasilitas produksi dan pengembangan, sedangkan sisa anggaran senilai Rp33 miilar ditempatkan untuk memperkuat ketersediaan fasilitas pendukung pabrik.
Saat ini, realisasi PMN 2025 tersebut telah memasuki tahapan proses pengadaan mesin – mesin modern demi memacu output produksi di pabrik Madiun maupun Banyuwangi.
Melalui injeksi PMN 2025, kapasitas produksi bogie di Madiun ditargetkan melesat dari 300 car set menjadi 586 car set per tahun, sedangkan pabrik Banyuwangi meningkat ke angka 250 car kereta berpenggerak per tahun.
Pada saat yang sama, dia juga mengungkap pihaknya bakal membagi fokus produk secara spesifik, dengan pabrik Madiun diorientasikan khusus untuk memproduksi kereta non-penggerak, seperti kereta penumpang konvensional dan gerbong barang.
Fasilitas Madiun juga diarahkan memproduksi lokomotif, komponen rangka bawah hingga sistem propulsi mandiri guna memangkas ketergantungan impor yang selama ini membebani struktur biaya.
Sementara itu, pabrik Banyuwangi seluas 83,49 hektare yang kini masih beroperasi terbatas, akan ddiperuntukkan menjadi pusat perakitan kereta berpenggerak canggih, seperti Kereta Rel Listrik (KRL), Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) hingga Kereta Rel Diesel Listrik (KRDE).
“Jadi kereta – kereta yang berpenggerak nanti akan kami produksi di Banyuwangi. Banyuwangi ini pabrik yang baru dengan luas 83,49 hektare. Ini juga saat ini sudah beroperasi secara terbatas. Nanti, dengan PMN ini bisa untuk melengkapi pabrik Banyuwangi, sehingga Banyuwangi bisa beroperasi dengan optimal,” ungkapnya. B




