Pariwisata Indonesia Catatkan Pertumbuhan Positif Hingga Mei 2026

Para wisatawan mancanegara (wisman) di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. (dok. kemenpar)
Bagikan

Sektor pariwisata Indonesia kembali menunjukkan ketahanan dan daya saing di tengah dinamika geopolitik global dengan mencatatkan pertumbuhan positif hingga Mei 2026.

Pertumbuhan itu tercermin dari peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), surplus kunjungan wisatawan, serta pemulihan tingkat okupansi hotel yang semakin stabil.

Pertumbuhan positif ini menjadi sinyal bahwa berbagai program dan kebijakan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan manfaat serta berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan hal tersebut saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Menurutnya, perjalanan wisnus tetap menjadi penopang utama pergerakan pariwisata dalam negeri di tengah peningkatan kunjungan wisman dan pada saat yang sama, tingkat okupansi hotel menunjukkan pemulihan yang semakin stabil.

“Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan, sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting,” kata Menpar.

Data menunjukkan, pada Mei 2026 kunjungan wisman mencapai 1,38 juta kunjungan atau meningkat 5,83% dibandingkan Mei 2025 yang tercatat sebanyak 1,31 juta kunjungan.

Secara kumulatif, sepanjang Januari – Mei 2026, Indonesia mencatatkan 6,07 juta kunjungan wisman.

Angka tersebut tumbuh 7,68% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Capaian Mei 2026 merupakan capaian kunjungan tertinggi sepanjang tahun berjalan, menunjukkan bahwa minat wisatawan asing terhadap Indonesia tetap kuat,” jelas Menpar.

Pertumbuhan kunjungan wisman terutama ditopang pasar Asia Tenggara yang meningkat signifikan sebesar 11,06%, dari 547.521 kunjungan pada Mei 2025 menjadi 608.076 kunjungan pada Mei 2026.

Pertumbuhan juga tercatat dari pasar Timur Tengah sebesar 5,67%, Asia lainnya 5,37%, Oseania 4,69%, Afrika 3,72%, dan Amerika 1,13%.

Sementara itu, pasar Eropa mengalami kontraksi sebesar 5,91% di tengah gangguan dan ketidakpastian geopolitik global.

Kinerja kunjungan wisman tersebut sejalan dengan strategi adaptif Kemenpar yang terus memperkuat pasar short – haul dan medium – haul, sekaligus menjaga pasar jarak jauh yang memiliki kontribusi pengeluaran wisatawan tinggi.

Dari sisi wisatawan nusantara, pada Mei 2026 tercatat 106,16 juta perjalanan atau meningkat 8,69% dibandingkan Mei 2025 yang mencapai 97,67 juta perjalanan.

Peningkatan terutama ditopang momentum libur nasional dan cuti bersama yang dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata di dalam negeri.

Secara kumulatif, perjalanan wisnus sepanjang Januari – Mei 2026 mencapai 523,22 juta perjalanan, meningkat 2,86% dibandingkan periode Januari – Mei 2025 yang sebesar 508,67 juta perjalanan.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menjelaskan, perjalanan wisatawan nasional (wisnas) atau masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri pada Mei 2026 tercatat sebanyak 550.382 perjalanan.

Jumlah tersebut turun 6,05% dibandingkan dengan Mei 2025 yang mencapai 585.800 perjalanan.

Secara kumulatif, perjalanan wisnas pada Januari – Mei 2026 mencapai 3,69 juta perjalanan atau turun 3,88% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,84 juta perjalanan.

“Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia,” tutur Wamenpar.

Menurutnya, apabila dibandingkan dengan perjalanan wisnas, Indonesia masih mencatatkan surplus kunjungan wisatawan.

Pada Mei 2026, jumlah kunjungan wisman melampaui perjalanan wisnas dengan surplus 0,83 juta kunjungan.

Secara kumulatif sepanjang Januari – Mei 2026, surplus mencapai 2,37 juta kunjungan.

“Kondisi ini mendukung pencapaian net devisa pariwisata yang positif bagi Indonesia,” ungkap Wamenpar.

Pemulihan sektor akomodasi juga semakin stabil, tercermin dari tingkat okupansi hotel bintang.

Pada Mei 2026, tingkat okupansi hotel mencapai 50,76% atau meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025 yang sebesar 48,28%.

Secara kumulatif pada Januari – Mei 2026, tingkat okupansi hotel bintang mencapai 46,99%, naik 2,14 poin persentase dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 44,85%.

“Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata, karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi pendukung di destinasi,” kata Wamenpar.

Dia menjelaskan, sepanjang Juni 2026 Kemenpar terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai kementerian dan Lembaga.

Kemenpar melakukan koordinasi lintas sektor melalui Rapat Koordinasi Tingkat Menteri tentang Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan.

Terdapat tiga arahan utama yang menjadi tindak lanjut Kemenpar.

Pertama, mempercepat pengembangan empat Destinasi Pariwisata Prioritas Percepatan, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika dan Labuan Bajo, secara terintegrasi dengan pengembangan wilayah, bandar udara, serta konektivitas penerbangan.

Kedua, memperkuat promosi dan pengembangan pola perjalanan wisata terpadu.

Ketiga, menyelaraskan dukungan anggaran, pembukaan rute penerbangan internasional dan sinergi pemerintah daerah, serta pengelola bandar udara untuk pengembangan empat Destinasi Pariwisata Prioritas Pecepatan.

Dalam menyambut periode liburan sekolah, Kemenpar sebelumnya telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Pariwisata tentang Penyelenggaraan Kegiatan Wisata yang Aman, Nyaman, dan Menyenangkan.

Guna memastikan implementasi, Kemenpar menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional bersama Kepala Dinas Pariwisata atau perwakilan pemerintah daerah se-Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pariwisata juga mendorong pemerintah daerah dan pengelola destinasi untuk memperbarui dan memvalidasi data destinasi wisata rawan bencana secara berkala guna mendukung pengelolaan risiko yang lebih efektif.

Hingga 25 Mei 2026, sebanyak 5.145 daya tarik wisata di 36 provinsi telah dipetakan berdasarkan tingkat kerawanannya.

“Kemenpar juga melakukan visitasi ke 139 titik destinasi wisata untuk memastikan kesiapan aspek keamanan, keselamatan dan pelayanan selama periode liburan,” jelas Menpar. B

 

Komentar

Bagikan