InJourney Satukan Seluruh Hotel BUMN

The Solitaire di kawasan The Sanur yang dikelola PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality) atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur. (dok. injourneyhospitality)
Bagikan

Hotel – hotel Badan Usaha Milik Negara (BUMN) resmi disatukan di bawah InJourney, dengan integrasi seluruh hotel BUMN ini merupakan bagian dari transformasi BUMN yang diorkestrasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.

“Dengan proyeksi 120 hotel, InJourney akan menjadi operator hotel kedua terbesar di Indonesia,” ujar Kepala BP BUMN dan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Dia mengatakan, 45 unit hotel yang tersebar di beberapa BUMN telah melakukan penandatanganan Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) sebagai bagian dari penyatuan aset hotel di bawah InJourney.

Menurutnya, penandatanganan CSPA oleh 45 unit hotel ini merupakan bagian dari transformasi BUMN di sektor hospitality.

“Penyatuan seluruh hotel BUMN di bawah payung InJourney adalah lompatan besar dalam menata ulang dan memperkuat nilai aset hospitality kita agar lebih berdaya saing,” jelasnya.

Dony memastikan terus menjaga momentum positif dan memproyeksikan adanya penambahan penandatanganan dari beberapa hotel lainnya pada awal pekan depan sebagai langkah konkret menuju optimalisasi nilai aset dan struktur manajemen yang lebih tangguh.

“Skema CSPA ini memastikan proses konsolidasi aset berjalan prudent dan mengedepankan tata kelola yang baik,” ungkapnya.

Dia menambahkan, konsolidasi seluruh hotel BUMN menjadi fondasi yang solid untuk melakukan value creation.

Dony menilai transformasi ini pada akhirnya akan menciptakan portofolio industri pariwisata yang lebih efisien, kompetitif dan terintegrasi.

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney terus mentransformasi sektor pariwisata nasional melalui konsolidasi portofolio hotel BUMN di bawah anak usahanya, yakni PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality).

Langkah strategis ini merupakan bagian dari mandat pemegang saham untuk membangun sektor perhotelan nasional yang lebih kuat, terintegrasi dan mampu meningkatkan nilai aset negara, sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global.

Transformasi tersebut memasuki tonggak penting melalui rangkaian penandatanganan Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) yang dilaksanakan pada 11 Juni 2026 dan dilanjutkan pada 26 Juni 2026.

Kedua tahapan tersebut menjadi fondasi awal dalam membangun sektor perhotelan yang lebih efisien, terintegrasi dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.

“Sebagai Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, InJourney berperan melakukan orkestrasi dan mengakselerasi transformasi ekosistem pariwisata nasional,” tutur Direktur Utama InJourney Maya Watono dalam keterangannya di Jakarta.

Dalam upaya tersebut, lanjut Maya, InJourney Hospitality menjadi entitas yang memimpin pengelolaan portofolio hotel BUMN untuk menghadirkan pengalaman hospitality berstandar global yang mengedepankan kekayaan budaya dam karakter khas Indonesia.

Maya mengatakan konsolidasi ini bukan sekadar penyatuan aset hotel, tetapi merupakan langkah transformasi untuk membangun fondasi industri hospitality Indonesia yang lebih kompetitif di tingkat global.

“Melalui InJourney Hospitality, kami ingin membangun portofolio hotel yang lebih terstruktur, mengangkat keunggulan heritage Indonesia sebagai diferensiasi yang ditawarkan untuk pelanggan, serta menciptakan value creation yang berkelanjutan,” jelas Maya.

Menurutnya, konsolidasi ini juga menjadi jawaban atas berbagai tantangan fundamental yang selama ini dihadapi hotel-hotel BUMN, mulai dari fragmentasi brand, diferensiasi standar layanan hingga optimalisasi kinerja operasional.

Melalui pengelolaan yang lebih terintegrasi, setiap aset diharapkan mampu mencapai potensi terbaiknya, sekaligus menciptakan sinergi yang memberikan nilai tambah bagi seluruh ekosistem.

Maya menjelaskan, tahap awal konsolidasi dimulai melalui penandatanganan CSPA pada 11 Juni 2026, yang mencakup pengalihan unit bisnis hotel milik InJourney Group kepada InJourney Hospitality, yaitu The Manohara Hotel, Pullman Mandalika dan lima hotel bandara yang dikelola oleh IAS Group.

Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan penandatanganan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham Bersyarat PT Hotel Indonesia Properti (HIPRO) sebagai bagian dari penataan struktur kepemilikan portofolio hotel di lingkungan InJourney Group.

Dia mengatakan, momentum tersebut kemudian dilanjutkan pada 26 Juni 2026 melalui penandatanganan CSPA bersama sembilan BUMN, yaitu PT Adhi Karya (Persero) Tbk Group, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Group, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Group, dan PT Hutama Karya (Persero) Group.

Selain itu, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Group, PT Nindya Karya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk Group, PT Waskita Karya (Persero) Tbk Group, serta PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Group.

Tahapan ini mencakup proses pengambilalihan aset, pemisahan usaha dan pengambilalihan saham unit bisnis hotel sebagai bagian dari konsolidasi Hotel BUMN.

“InJourney meyakini proses yang telah berjalan menjadi fondasi kuat menuju pengelolaan hotel yang semakin profesional, lebih optimal dan berdaya saing global, sekaligus memperkuat kontribusi sektor hospitality terhadap pertumbuhan pariwisata dan perekonomian nasional,” tutur Maya.

Maya menilai keberhasilan transformasi ini tidak terlepas dari dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Badan Pengaturan BUMN, Danantara Asset Management, seluruh BUMN dan/atau anak usaha BUMN pemilik asset hotel, serta berbagai pihak yang terlibat dalam proses konsolidasi.

InJourney, lanjutnya, percaya transformasi sebesar ini hanya dapat diwujudkan melalui semangat gotong royong.

“Kami optimistis konsolidasi Hotel BUMN akan menjadi fondasi penguatan ekosistem pariwisata nasional yang semakin kuat, memberikan pengalaman kelas dunia bagi pelanggan dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi Indonesia,” ujarnya. B

Komentar

Bagikan