
PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports tengah menggenjot proyek beautifikasi dan revitalisasi di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat.
Langkah pembenahan infrastruktur tersebut bertujuan untuk mendongkrak standar pelayanan, sekaligus memberikan kenyamanan lebih bagi para pengguna jasa penerbangan.
Menurut General Manager Bandara Internasional Minangkabau Dony Subardono, pembenahan ini menyasar berbagai lini vital bandara dan pembaruan estetika interior, penataan ulang area komersial hingga peningkatan kualitas fasilitas di dalam terminal penumpang menjadi fokus utama untuk mempertegas identitas kebudayaan ranah Minang.
“Kami ingin Bandara Internasional Minangkabau tidak hanya tempat naik dan turun dari pesawat saja, tetapi juga menjadi etalase budaya yang ramah, modern dan membanggakan bagi masyarakat Sumatera Barat,” jelasnya.
Proyek pengembangan ini menelan total anggaran sekitar Rp693 miliar yang bersumber dari pendanaan internal perusahaan.
Dana tersebut dialokasikan senilai Rp553 miliar berdasarkan kesepakatan adendum 8, sedangkan Rp140 miliar khusus untuk sektor beautifikasi yang saat ini belum masuk proses lelang.
“Anggarannya itu di adendum 8 sudah Rp553 miliar, tetapi ini sedang dalam tahap pendampingan oleh kejaksaan. Untuk beautifikasi saja Rp140 miliar belum dilelang,” tutur Dony.
Transformasi BIM ini bertumpu pada empat fokus utama, yakni sentuhan budaya modern melalui perpaduan arsitektur kekinian dengan motif tradisional, seperti ukiran Kaluak Paku dan Pucuak Rebung.
Kemudian, peremajaan ruang tunggu, optimalisasi suasana dan peningkatan fasilitas toilet berstandar global yang ramah disabilitas.
Selain itu, mencakup manajemen alur penumpang lewat penataan ulang area check-in dan komersial agar pergerakan menjadi lebih lancar.
Fokus yang terakhir, lanjut Dony, adalah penyediaan area hijau di dalam terminal guna menghadirkan suasana asri bagi penumpang.
“Pada Triwulan I/2027 sudah selesai beautifikasi dan revitalisasi Bandara Internasional Minangkabau,” ungkapnya.
Dia menjelaskan bahwa agar tidak mengganggu operasional penerbangan, pengerjaan fisik disekat dengan rapi dan proyek berat digeser ke waktu sepi penerbangan atau malam hari.
Melalui perluasan ini, Dony menambahkan, kapasitas tampung bandara diproyeksikan melonjak drastis dari 2,7 juta menjadi 5,7 juta penumpang per tahun.
“Kalau dilihat dari rencana induk bandara ini nanti akan ada tambahan pembangunan hotel. Di tatanya itu tergantung dari jumlah traffic yang terjadi. Dengan ultimate nanti ada dua hotel, kemudian golf course di tahun 2036,” tuturnya. B



