Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi VI menekankan pentingnya strategi promosi pariwisata yang lebih terukur guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Anggota Komisi VI DPR Sarmuji menilai pendekatan promosi yang bersifat umum sudah tidak efektif.
Dia mendorong InJourney untuk melakukan pemetaan segmentasi wisatawan secara lebih spesifik agar strategi pemasaran tepat sasaran.
Menurutnya, karakter wisatawan yang datang ke Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki keunikan tersendiri, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan destinasi lain.
“Tanpa segmentasi yang jelas, promosi dinilai berisiko tidak optimal dan membuang sumber daya,” katanya.
Selain itu, Sarmuji juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak di daerah, seperti pemerintah daerah dan pelaku budaya.
Dia menilai, pengembangan narasi pariwisata, khususnya yang berbasis kearifan lokal, harus melibatkan banyak pemangku kepentingan agar lebih autentik dan menarik.
Di sisi lain, DPR memberikan perhatian terhadap proses konsolidasi aset dalam holding perhotelan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai masih berjalan lambat.
“Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghambat pencapaian target pertumbuhan sektor pariwisata nasional,” jelasnya.
Untuk itu, DPR mendorong percepatan identifikasi kendala, baik dari sisi regulasi maupun investasi.
Komunikasi dengan pihak terkait, termasuk investor, dinilai perlu ditingkatkan agar solusi konkret dapat segera ditemukan.
Dengan strategi yang lebih terarah dan kolaboratif, DPR optimistis sektor pariwisata Indonesia dapat berkembang lebih pesat, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. B




