PT Jasa Raharja berkolaborasi dengan Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memperkuat keselamatan penerbangan di kalangan generasi muda melalui edukasi, kampanye kesadaran keselamatan dan pembinaan budaya keselamatan sejak dini.
Menurut Direktur Utama Jasa Raharja Muhammad Awaluddin, keselamatan penerbangan harus menjadi budaya yang hidup dalam setiap aspek operasional.
“Keselamatan penerbangan harus menjadi budaya yang hidup, bukan hanya tertulis dalam regulasi dan prosedur, tetapi tertanam dalam setiap proses kerja, setiap pengambilan keputusan, dan pada akhirnya dirasakan manfaatnya oleh para penumpang,” kata Awaluddin dalam keterangan di Jakarta.
Jasa Raharja berkolaborasi dengan INACA menyelenggarakan kegiatan sosialisasi nasional tentang budaya keselamatan dan pemahaman asuransi penerbangan kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek, serta komunitas terkait di Jakarta.
Dia menuturkan kegiatan itu merupakan bagian dari komitmen Jasa Raharja sebagai BUMN dalam ekosistem Danantara Indonesia untuk menghadirkan pelayanan publik yang berorientasi pada perlindungan, keamanan dan keselamatan masyarakat.
“Kegiatan edukasi ini bertujuan meningkatkan literasi keselamatan, khususnya di kalangan generasi muda,” jelas Awaluddin.
Melalui sosialisasi itu, lanjutnya, peserta didorong untuk memahami pentingnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, sekaligus mengetahui hak dan kewajiban penumpang dalam sistem transportasi udara nasional.
“Harapannya, para peserta dapat menjadi agen literasi keselamatan di lingkungannya masing – masing,” tegasnya.
Dia menambahkan, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjalankan amanat Undang – Undang Nomor 33 dan 34 Tahun 1964, Jasa Raharja memiliki mandat untuk memberikan perlindungan dasar kepada penumpang angkutan umum, termasuk penumpang angkutan udara.
Dari sisi pelayanan, kata Awaluddin, Jasa Raharja berkomitmen untuk memastikan negara hadir secara cepat dan tepat ketika terjadi kecelakaan transportasi, tapi kecepatan dan besarnya santunan bukanlah tujuan utama.
“Santunan adalah bentuk tanggung jawab negara ketika musibah terjadi, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas tertinggi yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menekankan komunikasi yang konsisten kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk regulator, operator, akademisi, termasuk mahasiswa hingga media massa menjadi kunci dalam membangun budaya keselamatan.
“Dengan demikian, kesadaran tersebut dapat tumbuh menjadi budaya bersama. Kerja sama INACA dengan Jasa Raharja ini juga merupakan kolaborasi untuk memberikan pemahaman yang baik kepada semua stakeholder,” katanya.
Dia menuturkan, pentingnya penerapan konsep just culture dalam dunia penerbangan, yaitu budaya keterbukaan dalam menyampaikan informasi keselamatan tanpa rasa takut, sebagai fondasi dalam memperkuat sistem pencegahan risiko.
Konsep just culture, kata Denon, akan dapat dipakai untuk mempertahankan standar keselamatan penerbangan Indonesia yang sudah berada di atas rata – rata global sejak tahun 2017.
“Dengan standar keselamatan penerbangan yang di atas rata – rata, maka industri penerbangan Indonesia akan mempunyai kompetitif value yang tinggi di dunia internasional,” tuturnya.
Denon menambahkan pihaknya bersama Jasa Raharja akan terus memperkuat program edukasi, integrasi data dan sinergi lintas sektor dalam mendukung sistem keselamatan transportasi nasional.
Kegiatan itu turut dihadiri Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Shokib Al Rokhman, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Angkutan Penerbangan Indonesia (APJAPI) Alvin Lie, dan perwakilan maskapai nasional.
Rangkaian kegiatan diisi dengan paparan kebijakan keselamatan, simulasi, diskusi interaktif dan sesi berbagi pengalaman.
Peserta juga mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai peran asuransi kecelakaan Jasa Raharja dalam memberikan perlindungan dasar kepada penumpang apabila terjadi risiko selama perjalanan udara. B




