InJourney Targetkan Tekan Emisi 4.000 Ton CO2e di Tahun 2026

Kawasan The Nusa Dua di Kabupaten Badung, Bali. (dok. itdc)
Bagikan

Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney semakin menguatkan perannya dalam menjadikan aviasi dan pariwisata sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional.

Capaian ini menjadi fondasi bagi InJourney untuk menjalankan peran ganda secara seimbang, yakni sebagai pencipta nilai (value creation) dan agen pembangunan (agent of development), melalui transformasi yang tidak hanya memperkuat kinerja internal.

Namun, juga memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional, sektor aviasi dan pariwisata, serta kesejahteraan masyarakat melalui sinergi dengan para pemangku kepentingan.

Memasuki tahun keempat perjalanannya, InJourney terus berkomitmen terhadap keberlanjutan sebagai arah utama transformasi.

Selaras dengan tema InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia, keberlanjutan diposisikan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang, menjadikan pariwisata sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan dan pemberdayaan sosial, serta membangun pijakan hijau bagi masa depan Indonesia.

Komitmen InJourney terhadap pariwisata berkelanjutan berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan bisnis jangka panjang hanya dapat dicapai apabila pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui visi Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat komunitas lokal serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari strategi bisnis masa depan.

Menurut Direktur SDM dan Digital InJourney Herdy Harman, keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis merupakan fondasi utama transformasi pariwisata nasional.

Menurutnya, pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek paling esensial, yaitu manusia.

Komitmen InJourney mewujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group, yang merupakan sebuah inisiatif untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

“Inisiatif ini kami rancang untuk menghasilkan dampak yang dapat diukur, konsisten dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi InJourney dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang ramah lingkungan,” jelas Herdy.

Dari sisi aspek lingkungan (environmental), sebagai bagian dari penerapan ESG, InJourney menegaskan komitmen penurunan emisi sebesar 4.000 ton CO₂e.

Komitmen tersebut merupakan langkah awal transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan bertanggung jawab, sekaligus bentuk dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission yang ditetapkan Pemerintah Indonesia.

Salah satu kawasan wisata yang dikelola InJorney melalui anak usahanya, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), yakni The Nusa Dua, Bali telah menerapkan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dengan berprinsip pada tanggung jawab lingkungan.

Direktur Operasi ITDC Troy Warokka menjelaskan, mengenai penerapan inisiatif hijau di kawasan ini adalah fondasi operasional untuk menjadikan kawasan ini menjadi destinasi premium yang resilien dan berkelanjutan.

“Penerapan utilitas hijau, seperti Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), Instalasii Pengelolaan Air Limbah (IPAL), Waste Management terintegrasi, dan Reclaim Water telah memastikan bahwa aktivitas pariwisata berjalan efisien, aman, serta tetap menjaga daya dukung lingkungan. Bagi ITDC, keberlanjutan bukan hanya agenda,” ungkapnya.

Namun, dia menambahkan, fondasi operasional kawasan untuk memastikan The Nusa Dua tetap menjadi destinasi premium yang resilien dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

The Nusa Dua, Bali telah mengoperasikan fasilitas (SWRO) selama tiga bulan terakhir.

Fasilitas ini mampu menghasilkan 331.382 m³ air bersih dan saat beroperasi penuh, SWRO memiliki kapasitas produksi hingga 1.314.000 m³ air bersih per tahun.

SWRO memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih alternatif, sehingga secara signifikan mengurangi ketergantungan kawasan terhadap air tanah dan sumber air tawar.

Penerapan teknologi ini juga berperan penting dalam meningkatkan ketahanan air kawasan, menekan risiko kelangkaan air akibat perubahan iklim, dan memastikan keberlanjutan operasional pariwisata di The Nusa Dua.

Penerapan fasilitas SWRO ini juga membawa ITDC NU entitas usaha dibawah ITDC menorehkan pencapaian bersejarah sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak untuk dikonsumsi melalui teknologi modern.

Anak Agung Istri Ratna Dewi, Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas menyatakan, penerapan SWRO merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan air kawasan, sekaligus mendukung pengurangan tekanan terhadap air tanah.

Dengan teknologi yang aman dan terukur ini, lanjutnya, InJourney memastikan pasokan air bersih yang stabil bagi seluruh tenant dan wisatawan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

“Pengakuan KKP sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi menjadi bukti bahwa inovasi hijau dapat berjalan sejalan dengan efisiensi dan standar layanan yang tinggi,” tuturnya. B

Komentar

Bagikan