Bandara A.T.P. Pranoto Lanjutkan Layanan Enam Rute Perintis ke Daerah 3TP

Bandara Aji Pangeran Tumenggung (A.P.T.) Pranoto Samarinda. (dok. hubudkemenhub)
Bagikan

Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Aji Pangeran Tumenggung (A.P.T.) Pranoto Samarinda memastikan keberlanjutan aksesibilitas ke wilayah Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Perbatasan (3TP) Kalimantan Timur dengan mengoperasikan kembali enam rute penerbangan perintis pada tahun 2026.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPBU Kelas I A.P.T. Pranoto I Kadek Yuli Sastrawan menjelaskan, kontrak subsidi angkutan udara perintis tahun anggaran 2026 sudah berlaku efektif mulai 5 Januari hingga 31 Desember 2026 dengan menggandeng operator Smart Aviation.

Dia menjelaskan, enam rute vital yang dilayani meliputi penerbangan pulang pergi (pp) dari Samarinda menuju Long Ampung, Datah Dawai, Muara Wahau, dan Maratua, serta rute koneksi antarwilayah, seperti Datah Dawai – Melak dan Maratua – Berau.

Frekuensi penerbangan diatur bervariasi sesuai kebutuhan daerah, mulai dari empat kali seminggu untuk rute padat Samarinda – Long Ampung dan Samarinda – Datah Dawai hingga satu kali seminggu untuk rute Maratua – Berau.

“Masyarakat akan dilayani menggunakan armada pesawat jenis Grand Caravan C208-B berkapasitas 12 kursi penumpang yang memberikan fasilitas bagasi tercatat cuma – cuma seberat 10 kilogram dan tambahan bagasi kabin 5 kilogram,” tutur Kadek.

Terkait dengan mekanisme pembelian tiket, lanjutnya, pihak A.P.T. Pranoto Samarinda menerapkan sistem pembelian langsung di loket atau pemesanan via telepon kepada petugas di tiap bandara karena kendala jaringan internet yang belum merata di wilayah 3TP.

Kadek menambahkan, Smart Aviation kembali terpilih melalui mekanisme e-purchasing, karena menawarkan harga terbaik dan memiliki rekam jejak operasional yang lancar dan memuaskan pada pelaksanaan penerbangan perintis tahun sebelumnya.

“Kami menetapkan target keterisian kursi (load factor) yang optimal, yakni antara 10 hingga 12 penumpang per penerbangan untuk memastikan efisiensi subsidi angkutan penumpang yang diberikan negara,” ungkapnya.

Meskipun fokus utama subsidi ini adalah angkutan penumpang, pesawat tetap memiliki potensi untuk mengangkut kargo barang kebutuhan pokok ke daerah pedalaman apabila terdapat sisa ruang muat dari penumpang dan bagasi yang menjadi prioritas utama.

Tidak ada persyaratan administrasi khusus bagi masyarakat yang ingin terbang ke wilayah perbatasan tersebut, namun standar keselamatan tetap diberlakukan ketat, seperti kewajiban surat keterangan dokter bagi ibu hamil atau penumpang yang sedang sakit.

“Kami berharap layanan rutin ini mampu membuka isolasi wilayah 3TP, mempersempit kesenjangan pembangunan dan memacu pertumbuhan ekonomi lokal di tengah tantangan geografis Kalimantan Timur yang beragam,” kata Kadek. B

 

 

Komentar

Bagikan