
Pesawat CN235 memperkuat Skadron Udara 27 setelah tiba di Hanggar Alpha Skadron Udara 27, Lanud Manuhua, Biak Numfor, Papua, akhir pekan lalu.
Kedatangan pesawat tersebut disambut Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara (Pangkodau) III Marsda TNI Azhar Aditama D.
Pesawat CN235 tersebut merupakan hasil restorasi dan rekondisi PT Dirgantara Indoneisa (PTDI), yang telah melalui proses perawatan menyeluruh meliputi sistem, komponen, serta struktur pesawat, sehingga siap dioperasikan kembali untuk mendukung tugas – tugas Skadron Udara 27.
Dalam sambutannya, Pangkodau III menyampaikan apresiasi kepada PTDI atas keberhasilan merekondisi pesawat CN-235 tersebut.
Apresiasi juga diberikan kepada Komandan Wing Udara 9 dan Komandan Skadron Udara 27 atas kinerja, serta upaya dalam mendukung proses rekondisi pesawat.
“Tambahan alutsista ke dalam jajaran Skadron udara 27 merupakan upaya yang krusial dalam proyeksi kekuatan udara ke garis depan di tanah Papua, sehingga ini merupakan hal vital vang harus kita pertahankan serviceability dan yang harus kita pertahankan kemampuan para teknisinya. Mari kita pertahankan kemampuan para penerbangnya,” ujar Pangkodau III dalam laman tni-au.mil.id.
Dia berharap agar ke depan proses pemeliharaan dan perawatan pesawat dapat dilaksanakan secara mandiri oleh Skadron Udara 27.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kapoksahli Kodau III Marsma TNI Trinanda Hasan Febrianto, Komandan Wing Udara 9, Komandan Skadron Udara 27, para pejabat Kodau III dan Lanud Manuhua Biak, serta seluruh Perwira, Bintara, Tamtama dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Skadron Udara 27.
Sebelumnya, PT Dirgantara Indonesia menyerahterimakan pesawat CN235-100M milik Skadron 27 TNI AU yang selesai dilakukan retorasi di fasilitas yang dimiliki.
Menurut Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia Dena Hendriana, program restorasi pesawat A-2305 meliputi pekerjaan basic inspection (3C – check), perpanjangan usia struktur pesawat, pembaruan sistem avionik, rewiring, pengecatan ulang eksterior hingga refurbishment interior.
Menurut Dena, strategi yang dipergunakan dalam program restorasi ini melakukan mid-life upgrade pada sistem avionik dan kelistrikan dengan tetap mempertahankan struktur dan sistem utama yang masih layak.
Fokus strategi tersebut mencakup konversi digital cockpit baru, pemasangan Flight Management System (FMS) terbaru, peningkatan situational awareness dan interoperabilitas dengan sistem komunikasi militer.
“Program restorasi ini merupakan pekerjaan perawatan dan struktur pesawat berkompeleksitas tinggi, dengan fokus utama pada peningkatan aspek keselamatan penerbangan dan keandalan pesawat sebelum kembali dioperasikan TNI AU,” jelas Dena dalam laman indonesian-aerospace.com.
Dia menambahkan, program restorasi CN235-100M ini merupakan wujud dari komitmen PTDI dalam mendukung kesiapan operasional alutsista nasional.
“Melalui pendekatan mid-life upgrade, PT Dirgantara Indonesia tidak hanya mengaktifkan kembali pesawat yang sebelumnya berstatus Unserviceable, tetapi juga meningkatkan aspek keselamatan, keandalan dan kompatibilitas sistem pesawat dengan kebutuhan oeprasi TNI AU saat ini,” ungkap Dena.
Program restorasi pesawat A-2305 ini diarahkan untuk mengaktifkan pesawat sebagai platform angkut taktis yang relevan dengan kebutuhan operasi TNI AU dan kompatibel dengan sistem pertahanan udara modern.
Selain mendukung misi operasi militer, pesawat ini juga diharapkan dapat berperan dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, sejalan dengan setiap kebutuhan nasional.
Dalam rangkaian penyelesaian program restorasi, pesawat ini telah memperoleh Authority Flight Acceptance dari Indonesia Defense Airworthiness Authority (IDAA) pada 6 Januari 2026 dan customer acceptance pada 8 Januari 2026.
Komandan Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU (Dankoharmatau) Marsda TNI Suryanto bersyukur program restorasi pesawat CN235-100M A-2305 yang telah berhasil diselesaikan dan kini siap kembali memperkuat kesiapan operasional TNI AU.
“Mengingat kesiapan alutsista Skadron Udara 27 masih sangat terbatas, sehingga selesainya restorasi pesawat ini diharapkan dapat segera memperkuat jajaran Grup Angkut, khususnya dalam mendukung pelaksanaan operasi dan latihan di wilayah Papua,” tutur Suryanto.
Selain mendukung misi operasi militer, dia menambahkan, pesawat CN-235 ini juga diharapkan dapat berperan dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana sesuai dengan kebutuhan nasional. B



