Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak dari Pantauan Radar dan Belum Ditemukan

Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak belum tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. (dok. wikipedia.org)
Bagikan

Pesawat ATR 42-500, yang hilang kontak diduga telah jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan hingga kini belum ditemukan.

Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa, kronologi saat pesawat mulai kehilangan kontak pada pukul 04.23 UTC (11.23 WIB atau 12.23 Wita).

Saat itu, dia menambahkan, petugas Air Traffic Control (ATC) Makassar di Bandar Udara (Bandara) Internasional Sultan Hasanuddin mengarahkan pesawat untuk mendekat ke landasan pacu.

Namun, dalam pantauan radar, pesawat terdeteksi keluar dari koordinat yang seharusnya dan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto sempat diberikan arahan untuk mengoreksi posisi.

“Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi,” ujar Lukman dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).

Sesaat setelah instruksi koreksi posisi dan arahan lanjutan untuk kembali ke jalur pendaratan diberikan, komunikasi dengan awak pesawat mendadak terputus total.

Merespons kondisi tersebut, pihak ATC langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (distress phase).

Hingga saat ini, fokus pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak tersebut diarahkan ke kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan terus melakukan koordinasi intensif dengan AirNav Indonesia, Basarnas, TNI AU dan instansi terkait untuk memastikan penanganan berjalan optimal.

Sementara itu, General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta Wibowo Cahyono Soekadi menjelaskan, pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut lepas landas pada pagi hari sesuai jadwal.

“Benar pesawat PK-THT, operatornya dari Indonesian Air Transport, tadi pagi memang berangkat dari Bandara Adi Sutjipto (JOG), 08.08 Waktu Indonesia Barat (WIB) take off,” ungkapnya.

Wibowo menegaskan bahwa tidak ada prosedur yang terlewatkan sebelum pesawat tersebut mengudara, mulai dari pemeriksaan teknis hingga keamanan penumpang di Security Check Point (SCP) telah dijalankan sesuai standar operasional yang berlaku di bandara.

“Semua prosedur dari keberangkatan sampai pemeriksaan di X-ray, di SCP sudah kita lakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di bandara. Kemudian, di ruang tunggu, setelah itu boarding menuju ke Makassar,” jelasnya.

Berdasarkan data manifes, total terdapat 10 orang yang berada di dalam pesawat buatan tahun 2.000 tersebut. “Total crew ada tujuh, kemudian pax-nya (penumpang) ada yiga,” kata Wibowo. B

 

 

Komentar

Bagikan