Airbus bersama Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (Defence Science and Technology Agency/DSTA) berhasil menyelesaikan kampanye uji terbang HTeaming, sistem modular berawak dan nirawak terbaru milik Airbus, di sebuah pangkalan udara di Singapura.
Demonstrasi penerbangan ini menandai pertama kalinya solusi HTeaming melibatkan sistem pesawat nirawak (Uncrewed Aerial System/UAS) Airbus Flexrotor dan helikopter H225M milik Angkatan Udara Republik Singapura (Republic of Singapore Air Force/RSAF).
Uji terbang ini dilaksanakan sebagai kelanjutan dari perjanjian kerja sama yang ditandatangani pada Juni 2024, dengan Airbus dan DTSA mengeksplorasi potensi kolaborasi antara sistem berawak dan nirawak untuk meningkatkan kesadaran situasional, serta efektivitas misi melalui uji demonstrasi penerbangan.
Serangkaian uji coba dilaksanakan pada bulan Januari, dengan menggunakan berbagai skenario simulasi, membuktikan bahwa helikopter berawak dapat mengakses data secara real-time dari sistem pesawat nirawak secara aman dan andal.
Hal ini secara signifikan memperluas jangkauan visual pesawat serta meningkatkan keselamatan misi secara keseluruhan.
Untuk mendemonstrasikan kemampuan ini, helikopter H225M dan Flexrotor bekerja sama dalam sebuah misi pencarian dan penyelamatan (SAR), yang menghasilkan peningkatan kesadaran situasional.
Dalam kolaborasi ini, Airbus bertanggung jawab atas desain sistem HTeaming dan integrasinya ke dalam helikopter H225M, termasuk pengembangan arsitektur sistem data-link khusus.
Integrasi ini memungkinkan awak helikopter menerima dan memproses data real-time dari Flexrotor, sekaligus mempertahankan kendali dan komando langsung terhadap pesawat nirawak.
Menurut Director Air Systems, Defence Science and Technology Agency Ang Jer Meng, sinergi ini mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan pelaksanaan misi yang lebih efektif, sekaligus meminimalkan paparan awak terhadap lingkungan berisiko tinggi.
“Kompleksitas operasi modern menuntut solusi yang mampu beradaptasi secara real-time keberhasilan demonstrasi penerbangan ini menegaskan komitmen DSTA terhadap inovasi dan kemitraan yang kuat dengan industri untuk menghadirkan solusi mutakhir,” jelasnya.
Pencapaian ini, dia menambahkan, menjadi langkah penting dalam pengembangan kemampuan sistem untuk meningkatkan efektivitas misi RSAF, sekaligus memastikan bahwa penga mbilan keputusan oleh manusia tetap menjadi fokus operasi.
“Keberhasilan ini memberi kami keyakinan untuk melangkah lebih jauh dalam mendorong operasi yang semakin dinamis,” ujar Ang Jer Meng.
Sementara itu, Executive Vice President of Global Business Airbus Helicopters Olivier Michalon mengatakan, keberhasilan kolaborasi ini menjadi game-changer bagi operasi taktis modern.
Kampanye uji terbang ini menunjukkan bagaimana teknologi dual-use dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi yang aman.
Dengan mengombinasikan keunggulan kedua platform, para komandan udara mendapatkan kesadaran situasional yang lebih baik, bahkan dalam misi kompleks dan lingkungan beresiko tinggi.
HTeaming merupakan solusi modular terbaru dari Airbus untuk kolaborasi antara sistem berawak dan nirawak, yang dirancang agar kompatibel dengan seluruh lini helikopter Airbus.
Sebagai sistem yang bersifat UAS-agnostic, HTeaming mampu diintegrasikan dengan berbagai platform nirawak, sehingga awak helikopter dapat mengambil kendali penuh atas beragam pesawat nirawak selama masa penerbangan sesuai dengan kebutuhan misi.
Flexrotor merupakan pesawt nirawak modern dengan kemampuan lepas landas vertikal (Vertical Takeoff and Landing/VTOL) dengan berat lepas landas 25 kg.
Platform ini dirancang untuk misi pengintaian (Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance/ISTAR) selama lebih dari 12-14 jam dalam konfigurasi standar, atau hingga 10 jam dalam konfigurasi European Maritime Safety Agency (EMSA).
Flexrotor dapat mengintegrasikan berbagai jenis muatan, termasuk sistem elektro-optik dan sensor canggih, sesuai kebutuhan misi.
Dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secara otonom, baik dari darat maupun laut, Flexrotor hanya membutuhkan area seluas 3,7 x 3,7 meter (12 x 12 feet), sehingga sangat ideal untuk misi ekspedisi dengan jejak operasional yang minimal.
Sebagai anggota terbaru keluarga Super Puma, helikopter H225 dikenal memiliki performa tinggi di berbagai kondisi menantang, jangkauan dan kapasitas angkut yang unggul.
Sistem avionik dan autopilot mutakhir pada pesawat ini dapat meningkatkan keselamatan, sekaligus mengurangi beban kerja pilot.
Saat ini, lebih dari 360 unit H225 dan H225M beroperasi di seluruh dunia, dengan total akumulasi mendekati satu juta jam terbang.
Pelanggan militernya mencakup Indonesia, Brasil, Prancis, Hungaria, Irak, Kuwait, Malaysia, Meksiko, Belanda, Singapura, Tailan, dan Maroko. B




