
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan, melalui Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya selenggarakan Seminar Nasional Inovasi Teknologi Penerbangan (SNITP) ke-10 dan The 5th International Conference on Advanced Transportation, Engineering and Applied Social Science (ICATEAS) 2026.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDMPU) M. Abrar Tuntalanai, melalui zoom meeting.
SNITP tahun ini mengusung tema Membangun Kesiapan Kerja SDM Penerbangan melalui Kemitraan Pendidikan Vokasi di Industri Berbasis Teknologi untuk Ekosistem Kompetensi Berkelanjutan, sedangkan ICATEAS 2026 mengangkat tema Enhancing Aviation Workforce Readiness: Building Resilient and Competent Aviation Professionals for Future Challenges.
Kedua forum tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, regulator dan pemangku kepentingan industri untuk membahas penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) penerbangan menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Dalam sambutan resminya, Kepala PPSDMPU M. Abrar Tuntalanai menekankan pentingnya penguatan kualitas seluruh elemen pendidikan vokasi penerbangan.
Dia menggarisbawahi bahwa peningkatan kualitas taruna, instruktur dan tenaga pendidik secara menyeluruh adalah kunci utama untuk melahirkan SDM penerbangan yang profesional, berintegritas, serta adaptif terhadap perubahan teknologi.
Selain itu, Abrar mendorong lembaga pendidikan untuk terus memperluas jejaring kerja sama dengan industri dan pemangku kepentingan, serta meningkatkan kualitas dan publikasi jurnal ilmiah agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan sains dan teknologi di bidang penerbangan.
Acara utama menghadirkan pakar dan pimpinan industri penerbangan sebagai narasumber di antaranya Prof. Achim I. Czerny dari The Hong Kong Polytechnic University, Capt. Kamarul Arifin Bin Othman dari Malaysia Airlines Berhad (MAB) Academy, Novretta Nursetyawati selaku Country Head of People Indonesia AirAsia, dan Setyo Jarnoko selaku Maintenance & Engineering Director Batik Air Indonesia.
Pembahasan dalam SNITP dan ICATEAS diarahkan pada tantangan industri penerbangan global yang memasuki era Aviation 4.0, yang ditandai dengan integrasi kecerdasan buatan (AI), analisis data prediktif, otomatisasi, dan Virtual Reality (VR).
Di sisi lain, laporan proyeksi industri menunjukkan kebutuhan lebih dari 1,06 juta profesional penerbangan baru di kawasan Asia-Pasifik hingga dua dekade mendatang.
Kondisi tersebut menuntut pendidikan vokasi penerbangan untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya memenuhi sertifikasi formal, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri, tanpa mengesampingkan standar keselamatan (safety).
Dalam paparan strategisnya, Novretta Nursetyawati dari AirAsia Indonesia menekankan pentingnya mindset Dare to Dream dan adaptasi teknologi tanpa mengesampingkan nilai kemanusiaan dan kepemimpinan.
Menurutnya, AI berfungsi memberikan efisiensi, tetapi keputusan keselamatan tertinggi tetap berada pada human judgment. AirAsia juga mendorong transformasi magang industri menjadi model pemecahan masalah nyata (problem-based learning).
Sementara itu, Setyo Jarnoko dari Batik Air Indonesia menggarisbawahi pentingnya kualifikasi T-Shaped Professional, kombinasi kedalaman teknis perawatan pesawat dan kapabilitas profesional.
Kemitraan vokasi dan industri ditegaskan harus bergeser dari sekadar tempat On the Job Training (OJT) menjadi ekosistem kolaboratif Co-Design, Co-Develop, Co-Train, Co-Assess, dan Co-Improve.
SNITP dan ICATEAS 2026 diikuti 119 peserta dan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi, serta lembaga, antara lain Telkom University, Universitas Brawijaya, UNESA, ITERA dan AirNav Indonesia.
Sebanyak 117 paper ilmiah dipresentasikan, terdiri atas 93 paper pada ICATEAS dan 24 paper pada SNITP.
“Kami berharap diskusi dan kolaborasi yang terjalin dari forum SNITP dan ICATEAS 2026 /mberikan kontribusi nyata dalam mencetak SDM penerbangan yang unggul, adaptif dan berkarakter, sekaligus memperkuat ekosistem kompetensi penerbangan yang berkelanjutan di Indonesia,” tutur Direktur Poltekbang Surabaya Ahmad Bahrawi. B



