Transformasi Terminal Terpadu Amplas: Modernisasi Fasilitas dan Tantangan Operasional

Terminal Terpadu Amplas di Kota Medan, Sumatra Utara. (dok. istimewa)
Bagikan

Menghilangkan stigma semrawut dan rawan dari sebuah terminal bus bukanlah perkara mudah, tetapi Terminal Terpadu Amplas di Kota Medan membuktikan bahwa perubahan itu mungkin terjadi.

Lewat revitalisasi total, terminal ini bertransformasi menjadi hub transportasi modern berstandar bandara yang mengintegrasikan pergerakan penumpang dengan pusat ekonomi lokal.

Terminal Terpadu Amplas di Kota Medan merupakan simpul transportasi darat terbesar dan paling modern di wilayah selatan Kota Medan, Sumatra Utara.

Terminal ini bertindak sebagai pintu gerbang utama bagi pergerakan angkutan jalan yang menghubungkan Kota Medan dengan kabupaten/kota di Pesisir Timur, wilayah Tapanuli hingga rute antarprovinsi menuju kota – kota lain di Pulau Sumatra dan Jawa.

Dahulu, Terminal Amplas sempat diidentikkan dengan kesan semrawut, rawan premanisme dan kurang bersih.

Namun, Kementerian Perhubungan melakukan revitalisasi total pada periode 2020 – 2022 dengan anggaran sekitar Rp45 miliar.

Terminal baru ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 9 Februari 2023.

Pasca revitalisasi, Terminal Amplas mengusung arsitektur modern berlantai dua dengan fasilitas yang bersih, aman dan megah, mirip dengan suasana di bandara internasional.

Terminal Amplas merupakan Terminal Penumpang Tipe A, yang berarti pengelolaan operasional dan asetnya berada langsung di bawah kendali Kementerian Perhubungan (Direktorat Jenderal Perhubungan Darat/BPTD), bukan lagi pemerintah daerah.

Luas lahan kurang lebih 20.162 meter persegi di kawasan Jalan Panglima Denai, Kecamatan Medan Amplas.

Selain fungsi utamanya sebagai tempat naik-turun penumpang, terminal ini dirancang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi masyarakat (pola Transit-Oriented Development), seperti area bagi pelaku UMKM lokal dan pusat kuliner (food court).

Terminal Terpadu Amplas melayani tiga segmen utama angkutan darat, yaitu (1) Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), melayani bus – bus besar menuju wilayah luar Sumatera Utara (seperti Pekanbaru, Padang, Palembang, Lampung hingga Jakarta).

(2) Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), menghubungkan Medan dengan kota – kota di koridor selatan dan timur Sumatra Utara (seperti Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Asahan, Rantauprapat hingga Madina dan Tapanuli).

(3) Angkutan Perkotaan yang menjadi titik integrasi penting bagi moda transportasi massal perkotaan, seperti BRT Mebidang Koridor 1 (Terminal Amplas – Lapangan Merdeka) dan layanan Bus Listrik Medan.

Berdasarkan data Balai Pengelola Transportasi Daerah (BPTD) Sumatra Utara per tahun 2026, Terminal Amplas saat ini melayani 22 Perusahaan Otobus (PO) untuk rute AKAP dan 28 PO untuk rute AKDP.

Tren pergerakan penumpang di terminal ini menunjukkan dinamika yang fluktuatif.

Pada tahun 2023, tercatat ada 239.851 penumpang yang berangkat menggunakan 14.439 armada bus, sedangkan angka kedatangan mencapai 17.611 penumpang dengan 1.353 bus.

Volume ini melonjak signifikan pada tahun 2024, dengan keberangkatan mencapai 475.784 penumpang (36.681 bus) dan kedatangan sebanyak 30.332 penumpang (2.808 bus).

Setahun berselang pada tahun 2025, angka keberangkatan sedikit menurun menjadi 408.477 penumpang dengan 33.896 bus, disusul kedatangan 12.421 penumpang menggunakan 724 bus.

Sementara itu, pada semester pertama tahun 2026, Terminal Amplas telah melayani keberangkatan 140.679 penumpang (10.507 bus) dan kedatangan 4.406 penumpang (202 bus).

Guna memutus rantai praktik percaloan tiket yang marak di masa lalu, Terminal Amplas kini menerapkan sistem digitalisasi yang ketat.

E-Ticketing dan Pembelian Digital: Loket penjualan tiket PO (Perusahaan Otobus) ditata dengan rapi (tersedia puluhan meja PO AKAP dan AKDP), serta didorong menggunakan sistem tiket elektronik.

Ruang Tunggu Steril Menggunakan AC: Penumpang yang telah memiliki tiket (boarding pass) dapat menunggu bus di ruang tunggu tertutup yang dilengkapi pendingin ruangan dan kursi ergonomis. Fasilitas pendukung, tersedia fasilitas toilet bersih, mushola yang luas, ruang laktasi (menyusui), pos kesehatan dan pengawasan keamanan berlapis via CCTV 24 jam bersama petugas yang sigap, sehingga menciptakan rasa aman bagi pelaku perjalanan di siang maupun malam hari.

Meskipun Terminal Terpadu Amplas telah direvitalisasi secara masif oleh Kementerian Perhubungan menjadi terminal modern berstandar rasa bandara, operasional di lapangan masih menghadapi berbagai kendala dan tantangan yang kompleks.

Tantangan Operasional

Sebagai simpul transportasi utama di gerbang selatan Kota Medan, ada kendala dan tantangan operasional utama yang dihadapi.

Pertama, keberadaan Terminal Bayangan dan Loket Liar di luar terminal.

Tantangan terbesar dan paling klasik di Kota Medan adalah maraknya bus yang menaikkan dan menurunkan penumpang di pinggir jalan raya (terminal bayangan) atau di depan loket pribadi milik Perusahaan Otobus (PO) di sepanjang Jalan Sisingamangaraja.

Akibatnya, banyak bus AKAP/AKDP yang enggan masuk ke dalam area terminal karena merasa lebih mudah mendapatkan penumpang langsung di jalanan.

Hal ini membuat terminal megah ini kadang terlihat sepi penumpang pada jam – jam tertentu, sedangkan jalan arteri di luarnya justru mengalami kemacetan parah.

Kedua, integrasi moda transportasi massal perkotaan yang belum optimal. Sebagai terminal tipe A, Amplas harus berfungsi sebagai hub intermoda yang mulus (seamless).

Meskipun sudah terkoneksi dengan BRT Mebidang, integrasi dengan angkutan kota tradisional (angkot/sudako) masih sering mengalami friksi.

Angkot sering kali mengetem sembarangan di luar gerbang terminal yang memperparah kemacetan, alih – alih masuk dengan tertib ke fasilitas drop-off yang sudah disediakan.

Ketiga, tingginya biaya perawatan. Mengelola gedung bertingkat dua dengan fasilitas AC sentral, sistem pencahayaan modern, eskalator, toilet standar bandara dan sistem IT e-ticketing memerlukan biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat besar.

Ditjen Perhubungan Darat harus memastikan koordinasi anggaran pemeliharaan tetap konsisten agar fasilitas publik ini tidak cepat rusak dan mengalami penurunan kualitas pelayanan (degradasi fasilitas).

Keempat, aspek keamanan dan ketertiban lingkungan sekitar. Kawasan Amplas secara historis memiliki dinamika sosial yang cukup tinggi terkait premanisme dan keamanan lingkungan.

Walaupun bagian dalam terminal sudah sangat steril dan dijaga ketat oleh petugas Kemenhub, serta CCTV, menjamin keamanan penumpang di zona penyangga (buffer zone), seperti di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) atau halte angkutan umum di luar pagar terminal tetap menjadi tantangan koordinasi antara perhubungan dan aparat kepolisian setempat.

Catatan Akhir

Revitalisasi Terminal Amplas adalah bukti nyata dari lompatan besar modernisasi transportasi darat di Sumatra Utara. Namun, kenyamanan rasa bandara ini barulah sebuah awal.

Ujian sesungguhnya terletak pada konsistensi perawatan fasilitas dan keberanian meredam ego sektoral demi menertibkan area di luar pagar terminal.

Jika tantangan menahun ini berhasil diatasi, Terminal Amplas tidak sekadar menjadi tempat singgah bus, melainkan pusat peradaban baru transportasi urban yang membanggakan bagi warga Medan. (Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI))

 

Komentar

Bagikan