
Perkembangan kawasan Barat Pulau Jawa dalam beberapa tahun terakhir bergerak cepat dan konsisten.
Pertumbuhan permukiman di Kabupaten Tangerang, Serang, Lebak hingga Pandeglang berjalan beriringan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat menuju pusat aktivitas Jakarta.
Pola komuter yang terbentuk kini semakin stabil dan menjadi bagian dari denyut harian kawasan urban.
Hal ini tergambar dari profil penumpang transit di Stasiun Tanah Abang pada lintas Rangkasbitung tahun 2026.
Rata – rata 120.633 pengguna melakukan transit setiap hari. Pada hari kerja jumlahnya mencapai 128.295 pengguna, sementara pada hari libur tetap tinggi di angka 106.641 pengguna.
Angka tersebut menunjukkan bahwa koridor kulon telah menjadi salah satu simpul mobilitas penting dalam sistem perkotaan Jabodetabek.
Tren pertumbuhan juga terlihat dari kinerja tahunan. Sepanjang tahun 2025, lintas Tanah Abang – Rangkasbitung melayani 77.552.716 pengguna, meningkat dibandingkan 69.999.362 pengguna pada tahun 2024 dan 62.085.471 pengguna pada tahun 2023.
Kenaikan yang konsisten ini memperlihatkan semakin kuatnya peran transportasi rel dalam menopang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat wilayah Barat.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa pengembangan layanan di wilayah Barat dilakukan sejalan dengan pertumbuhan kawasan.
“Wilayah Barat berkembang sebagai bagian integral dari sistem urban Jabodetabek. Transportasi rel hadir untuk menjaga mobilitas tetap lancar, terjangkau dan berkelanjutan,” katanya.
Menurut Anne, setiap penguatan layanan dilakukan bertahap dengan memastikan kesiapan infrastruktur dan kenyamanan pengguna.
Sebagai bagian dari penguatan struktur kawasan, KAI menghadirkan Stasiun Jatake di Kabupaten Tangerang.
Sejak beroperasi pada 28 Januari hingga 5 Februari 2026, stasiun ini mencatat 7.936 pengguna gate in dan 8.206 pengguna gate out.
Kehadirannya memperpendek akses masyarakat menuju layanan rel sekaligus mendukung tumbuhnya pusat aktivitas baru di sekitarnya.
Penguatan kawasan ini ditopang oleh elektrifikasi jalur sepanjang kurang lebih 72,8 kilometer dari Tanah Abang hingga Rangkasbitung yang meningkatkan kapasitas dan keandalan perjalanan sejak tahun 2017 hingga tahun 2018.
Frekuensi perjalanan juga terus disesuaikan, dari 90 perjalanan per hari pada tahun 2015 menjadi 122 perjalanan per hari pada tahun 2025, mengikuti peningkatan kebutuhan mobilitas.
Wilayah barat juga memainkan peran strategis sebagai penghubung regional melalui lintas Merak yang terintegrasi dengan pelabuhan menuju Sumatra.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengguna Commuter Line Merak meningkat dari 1.035.383 pengguna pada tahun 2021 menjadi 4.463.446 pengguna pada tahun 2025, menandakan meningkatnya konektivitas antarwilayah.
Dukungan terhadap ekonomi lokal turut diperkuat melalui pengoperasian kereta khusus petani dan pedagang lintas Merak – Rangkasbitung sejak 1 Desember 2025.
Dengan 14 perjalanan per hari dan tarif Rp3.000, layanan ini telah dimanfaatkan 8.650 pelanggan hingga 31 Januari 2026, membantu distribusi hasil produksi masyarakat secara lebih terjadwal dan efisien.
Ke depan, KAI melalui KAI Commuter akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam mengembangkan layanan perkeretaapian perkotaan secara bertahap, selaras dengan pertumbuhan kawasan hunian dan pusat ekonomi baru di wilayah Barat Pulau Jawa.
KAI terus berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dalam modernisasi dan pengembangan prasarana jalur kulon.
“Langkah ini dilakukan karena layanan KRL di koridor tersebut semakin menjadi andalan masyarakat. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pengguna meningkat dari 43.317.716 pada 2022 menjadi 77.552.716 pada 2025, atau tumbuh lebih dari 79%,” ujarnya.
Pertumbuhan ini, kata Anne, menunjukkan bahwa kapasitas dan kualitas layanan perlu terus diselaraskan dengan perkembangan kawasan. B



