Kawasan The Nusa Dua ditetapkan sebagai salah satu fokus awal penerapan pengukuran emisi karbon secara komprehensif oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC).
Destinasi yang berlokasi di Kuta Selatan, Badung itu diproyeksikan menjadi percontohan penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) bagi kawasan – kawasan pariwisata lain, seperti Mandalika, Golomori, hingga destinasi pengembangan berikutnya di bawah pengelolaan InJourney.
Menurut Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Digital ITDC Herdy Harmawan, prinsip keberlanjutan kini diposisikan sebagai pendorong utama nilai jangka panjang (driver of long term value) bagi InJourney.
Menurutnya, daya saing perusahaan, baik di tingkat nasional maupun global, tidak lagi dapat dilepaskan dari keseriusan dalam menerapkan Environmental, Social and Governance (ESG).
“Keberlanjutan bukan sekadar agenda tambahan, tetapi fondasi penting dalam membangun kepercayaan investor dan menjamin pertumbuhan jangka panjang. Keberlanjutan kami posisikan sebagai driver of long term value bagi InJourney. Ini bukan sekadar wacana, tetapi komitmen nyata yang harus bisa diukur dan dikelola,” tutur Herdy.
Dari aspek lingkungan, dia menambahkan, kalau pihaknya menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2e pada tahun 2026.
Target ini ditetapkan sebagai baseline awal, seiring dengan dimulainya proses pengumpulan dan pengukuran parameter emisi secara terintegrasi di seluruh kawasan pengelolaan InJourney.
“Ini baseline dahulu. Kita baru mulai serius mengumpulkan parameter emisi agar bisa dijaga tracking. Angka 4.000 ton ini menjadi pijakan awal. Ke depan potensinya sangat besar,” ujarnya.
Dia mencontohkan, pemanfaatan energi berbasis gas seperti LNG berpotensi mendorong penurunan emisi hingga belasan ribu ton.
Namun, Herdy menambahkan, yang terpenting saat ini adalah membangun sistem pengukuran yang kredibel agar setiap upaya penurunan emisi dapat dipantau secara akurat.
“Kalau tidak bisa diukur, kita tidak akan yakin bisa mengelolanya dengan baik. Karena itu, dasbor ini penting. Tahap awal mungkin maturity level dahulu, lalu target – target lain akan kami susun agar progresnya terlihat,” jelasnya.
Dalam tahap awal, Kawasan The Nusa Dua dipilih sebagai fokus penerapan pengukuran emisi secara komprehensif.
Selain memiliki infrastruktur pariwisata terintegrasi yang lengkap, The Nusa Dua dinilai memiliki potensi besar untuk menunjukkan dampak nyata dari penerapan sistem pengelolaan emisi berbasis data.
“Nusa Dua potensinya luar biasa. Selama ini banyak yang berjalan, tapi tidak pernah benar – benar diukur. Ketika diukur, datanya sangat menarik. Ini yang ingin kita sampaikan ke dunia, bahwa kita serius,” ungkapnya.
Herdy menekankan bahwa penerapan ESG juga menjadi faktor krusial dalam menarik minat investor asing.
Berdasarkan sejumlah survei, sekitar 73% investor global menjadikan aspek keberlanjutan dan skor ESG sebagai pertimbangan utama dalam keputusan investasi.
Selain aspek lingkungan, InJourney juga memperkuat dimensi sosial dan tata kelola, termasuk penguatan manajemen risiko dan penerapan prinsip good corporate governance.
Seluruh parameter tersebut ke depan akan menjadi bagian dari KPI holding hingga ke anak perusahaan.
“Kami sedang membangun fondasi sustainability di InJourney. Ini baru pertama kali semuanya diukur secara menyeluruh. Ke depan, skor ESG ini harus dijaga dan terus ditingkatkan,” ujar Herdy. B




