Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney berencana mentransformasi atau memodifikasi lima bandar udara (bandara) besar di Indonesia dengan mengusung konsep budaya dan alam.
“Ini transformasi akan kami lakukan di lima bandara dulu di tahun ini, lima bandara besar,” jelas Direktur Utama InJourney Maya Watono usai Press Conference bertajuk 4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia yang digelar di Jakarta.
Rencana tersebut merupakan buah dari keberhasilan InJourney mentransformasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Kedua bandara tersebut, lanjutnya, menjadi pilot project InJourney dalam transformasi bandara.
Maya menekankan pada transformasi Terminal 1C Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang mengangkat tema warisan budaya dan menuai respons positif.
“Begitu ada kabar baik, good case, itu akan direplikasi ke bandara – bandara yang lain. Masih ada 35 bandara lagi. Tahun ini harapannya 5 bandara hingga tujuh bandara akan kami transformasi,” tuturnya.
Meski belum mengumumkan bandara yang akan ditransformasi menggunakan konsep budaya dan alam, Maya menyatakan bahwa bandara – bandara tersebut mencakup lima bandara terbesar di Indonesia.
“Bandara ketiga terbesar kan Surabaya, lalu ada Bandara Kualanamu dan ada bandara – bandara lain yang sedang kami kerjakan transformasinya, baik secara fisik maupun people,” ungkapnya.
Maya juga berambisi menghadirkan bandara yang ramah lingkungan guna mewujudkan target pengurangan emisi karbon InJourney sebesar 4.000 ton setara CO2 (CO2e) pada tahun 2026.
Bahkan, dia berencana menggunakan panel surya di bandara – bandara yang berada di bawah naungan InJourney.
Pada sektor aviasi, InJourney melalui anak usahanya, InJourney Airports, mengelola 37 bandara, dengan tujuan penggunaan panel surya atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah untuk mengurangi emisi karbon dari konsumsi listrik di berbagai bandara. B




