Peluncuran Buku Baru Chappy Hakim

Peluncuran buku baru Chappy Hakim dengan judul Pesawat Itu Berbahaya dan Keamanan Nasional dan Penerbangan di Djakarta Theatre, 15 Desember 2023. (dok. istimewa)

Chappy Hakim kembali meluncurkan dua bukunya dengan judul Keamanan Nasional dan Penerbangan, serta Pesawat Itu Berbahaya.

Editor buku tersebut adalah Tri Agung Kristanto, Wakil Pemred Kompas. Buku Keamanan Nasional dan Penerbangan adalah kumpulan artikel tulisan Chappy Hakim di Netralnews.com periode tahun 2023.

Chappy Hakim selalu menerbitkan bukunya setiap ulang tahunnya yang jatuh pada 17 Desember. Kali peluncuran buku ini diselenggarakan di Djakarta Theatre, 15 Desember 2023.

Hadir dalam acara ini, Menteri Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Hadi Tjahjanto. Juga hadir sebagai penanggap Guntur Soekarno Putra, Parni Hardi wartawan dan Direktur LPP-RRI (2005-2010), DR. Peter Carey Fellow Emeritus, Trinity College, Oxford Adjunct/Visiting Professor FIB-UI.

Dalam sambutannya Chappy Hakim mengucapkan terima kasih kepada undangan yang hadir dan mengapresiasi para penanggapnya, satu demi satu.

Tampak beliau mengenal dengan baik semua teman-temannya yang hadir dan mengapresiasi secara personal.

Chappy Hakim menjelaskan, menulis itu tinggal kemauan saja. Bahan bisa dari mana saja, kadangkala justru dari self talks.

Dia menyitir pepatah yang mengatakan jika ingin melihat dunia, maka membacalah dan jika ingin dunia melihat kita maka menulislah.

Parni Hardi mengapresiasi Chappy Hakim sebagai penulis yang produktif yang menghasilkan buku setiap tahun. Bahkan, setiap terbit, bukunya pasti lebih dari satu. Dengan gaya penulisan story telling, bukunya menjadi menarik untuk dibaca.

Mantan Direktur LPP-RRI ini menyebutkan Chappy Hakim sebagai thinking master, sekaligus juga seorang yang pandai melucu dan multi talenta.

Parni Hadi memberi saran kepada dunia literasi dengan mengatakan banyak penulis yang kurang beruntung untuk menerbitkan buku.

Baca juga :   Masyarakat Maluku Memerlukan Transportasi Umum yang Nyaman

Untuk itu seyogyanya, Kompas mengkoordinir penulis yang tidak memiliki biaya, agar bisa membuat dan menerbitkan bukunya.

Generasi muda sekarang sudah jarang membaca buku mereka lebih percaya kepada gadgetnya, sehingga buku itu setelah diterbitkan, langsung masuk rak buku dan tidak pernah dibaca.

Oleh sebab itu perlu dibuat model baru, yaitu buku yang disebut sebagai audio visioturial.

Jadi, bentuknya tulisan tetapi juga sekaligus bisa didengarkan sebagai video dan juga bisa dibaca seperti tulisan biasa.

Kemudian Parni Hardi menyerahkan buku model tersebut kepada Guntur Soekarno Putra.

Otobiografi

Selanjutnya, Doktor Peter Carey setelah mengapresiasi, beliau memberi saran kepada Chappy Hakim agar membuat memoar atau otobiografi.

Itu akan menjadi bahan bacaan bagaimana seorang Chappy Hakim meniti kariernya dari mulai bawah sampai menjadi Kepala Staf Angkatan Udara dan berproses menjadi penulis yang produktif.

Peter menuturkan bahwa memoar itu, akan dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Dia adalah seorang sejarawan Inggris yang sudah 20 tahun tinggal di Indonesia dan Peter menulis buku tentang Diponegoro.

Dia mengatakan menulis itu penting. Menurut Peter, Raden Mas Said yang dikenal Pangeran Sambernyawa ketika berjuang dan berperang, setiap habis perang malam harinya dia menulis.

Oleh karena itu, sekarang masyarakat dapat membaca kisahnya dalam Babad Mangkunegara.

Pada gilirannya memberi tanggapan, Guntur Soekarno Putra menyatakan bahwa dia berteman dengan Chappy Hakim sejak dari mulai Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan sekarang.

Beliau banyak menyitir cerita-cerita ketika masih berada di TK yang letaknya di kopel salah satu bagian dari Istana Negara.

Guntur sebetulnya juga sudah menulis 11 buku dan sambil bergurau beliau mengatakan, bahwa Chappy Hakim tidak satu pun membaca bukunya, tapi Chappy Hakim membantah dan mengatakan sudah membaca bukunya Guntur.

Baca juga :   Pemenang Lomba Menulis Kota Bekasi: Kota Bekasi Satelit Jakarta

Guntur memberi saran bagaimana caranya yang sudah ditulis oleh Chappy Hakim mengenai angkasa sekian puluh tahun, tetapi pada kenyataannya membuat roket pun Indonesia belum bisa.

Bagaimana membuat semua tulisan dan ide itu menjadi kenyataan dan bisa dilakukan secara nyata di Indonesia?

Mengenai rencana penulisan buku Guntur menyarankan beberapa poin yang dia catat secara pribadi ada puluhan poin sebagian besar adalah bercerita mengenai masa kecilnya ketika mereka berada di TK.

Acara yang dipandu Debora Laksmi, peneliti Litbang Kompas berlangsung meriah dalam suasana santai dan dihadiri oleh beberapa tamu pegiat dan pemerhati literasi. Acara berjalan dengan lancar dan sebelum waktu shalat Jumat acara pun ditutup.

Penutup

Setelah acara selesai saya mendekati Pak Chappy Hakim dan meminta tanda tangan di halaman buku. Sambil tanda tangan beliau bercanda Heru Legowo, tapi kamu belum “Legowo” kan?

Saya menjawab Bapak juga Hakim, tapi bukan hakim juga. Chappy Hakim tertawa. Begitu friendly.

Akhirnya selamat buat Bapak Chappy Hakim atas peluncuran bukunya. Itu semakin membuat keberadaan beliau, semakin kuat dalam dunia literasi di Indonesia.

Membuat eksistensi Chappy Hakim begitu dikenal luas di masyarakat. Di dunia penerbangan, hampir semua mesti kenal dia.

Ternyata Chappy Hakim sadar atau tidak sadar mempraktekkan kata pepatah, Jika engkau ingin dunia mengenalmu, maka menulislah. Sekali lagi selamat Chappy Hakim. Terus menulis dan menginspirasi.

(Heru Legowo, Anggota Avia Lovers)

Komentar