by

Bandara Oksibil Miliki Peran Penting Sebagai Akses Utama Menuju Pegunungan Bintang

Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian karena wabah pandemi Covid-19 yang mengancam kesehatan dan keselamatan orang banyak, namun bandara masih tetap beroperasi, walaupun untuk sementara waktu tidak melayani penerbangan komersil, hanya kargo dan penerbangan khusus saja. Salah satunya adalah Bandara Oksibil di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Bandara yang merupakan UPBU Kelas III ini memiliki peran penting bagi masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang, mengingat daerah ini merupakan salah satu wilayah pedalaman Papua yang belum bisa diakses melalui jalur darat, sehingga kehadiran transportasi udara di daerah itu sangat membantu kehidupan masyarakat setempat untuk mendapatkan kebutuhan logistik yang dibawa menggunakan pesawat dan untuk kegiatan kepemerintahan serta bisnis, sehingga kehadiran Bandara Oksibil menjadi akses utama keluar masuk Kabupaten Pegunungan Bintang.

Merebaknya pandemi Covid-19, membuat Gubernur Papua menutup sementara pelabuhan dan bandara di daerah itu sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Penerbangan penumpang untuk sementara tidak diijinkan beroperasi, hanya kargo saja. Dengan demikian, jumlah penumpang di bandara yang ada di Papua, termasuk Bandara Oksibil pun mengalami penurunan.

Kepala Bandara Oksibil Agus Hadi Bersama Jajaran

Kepala Bandara Oksibil Agus Hadi mengemukakan, bahwa tidak hanya mengalami penurunan jumlah penumpang secara drastis saja, tetapi juga angkutan kargo di bandara itu pun mengalami penurunan.

“Penerbangan komersil sementara tidak beroperasi, hanya kargo saja. Itu juga jumlahnya mengalami penurunan karena pandemi ini. Biasanya dalam kondisi normal angkutan kargo per hari bisa mencapai 86 pergerakan, saat ini hanya 50 pergerakan pesawat take off dan landing dengan jumlah barang yang diangkut rata-rata sebanyak 35 ton,” katanya.

Untuk jumlah pergerakan pesawat saat ini di tengah kondisi pandemi, 50 pergerakan take off dan landing bisa dikatakan cukup tinggi jika dibandingkan dengan beberapa bandara yang kelasnya sama seperti Bandara Oksibil. Menurut Agus, hal ini dikarenakan satu-satunya akses angkutan logistik ke Pegunungan Bintang hanya bisa diangkut menggunakan transportasi udara.

“Selain bandara sebagai objek vital, Bandara Oksibil juga merupakan akses keluar masuk Kabupaten Pegunungan Bintang, oleh karena itu angkutan kargo di masa pandemi ini sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Pesawat Trigana Air Parkir di Bandara Oksibil

Pada saat ini, kebutuhan bahan pokok masyrakat di Kabupaten Pegunungan Bintang juga telah memperoleh subsidi melalui program Perintis Cargo  yang dimotori oleh  Kementerian Perhubungan, dalam hal ini Direktorat Angkutan Udara, dengan penanggung jawab anggaran KPA UPBU Tanah Merah yang bekerjasama dengan Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang  dengan kapasitas muatan  kurang lebih mencapai 7.000 Kg per minggunya, dimana kedepannya akan dikonektifitaskan melalui angkutan multi moda (tol laut, angkutan darat), sehingga diharapkan masyarakat di pegunungan Bintang dapat merasakan harga barang kebutuhan pokok dengan harga kota (Jayapura).

Terminal Baru Penumpang

Meskipun banyak rencana pekerjaan yang tertunda karena dampak dari wabah pandemi ini, namun pengelola Bandara Oksibil optimis dapat mengoperasikan terminal baru penumpang secepatnya setelah wabah ini berakhir.

“Terminal baru belum bisa digunakan karena masih ada fasilitas yang harus dilengkapi dan beberapa perbaikan, rencananya akhir tahun ini terminal baru tersebut bisa digunakan meskipun ada wabah ini, kami berupaya akhir tahun ini bisa digunakan,” ungkap Kabandara.

Terminal baru Bandara Oksibil merupakan hibah dari Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang yang diserahkan kepada Kementerian Perhubungan pada tahun 2016. Terminal seluas 1.450 meter persegi ini dibangun tahun 2010 dan dapat menampung penumpang dengan kapsitas mecapai 100 orang.

Ruang Tunggu Bandara Oksibil

Bandara Oksibil memiliki landasan pacu sepanjang 1.600 meter x 30 meter, namun landasan pacu yang bisa digunakan sepanjang 1.350 meter dikarenakan masih  terdapat obstacle. Namun demikian, di bandara ini sudah terpasang AFL (Airfield Lighting System), yaitu alat bantu pendaratan visual yang berfungsi untuk membantu pendaratan pesawat di bandara itu saat kondisi cuaca sedang buruk.

Selain itu, untuk penerbangan komersil di Bandara Oksibil dilayani oleh maskapai Trigana Air setiap hari sebanyak dua kali. Untuk pengembangan bandara, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang dan Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, saling bersinergi mengingat bandara ini memiliki peran penting dalam mendorong roda perekonomian daerah dan kebutuhan masyarakat.

“Pemerintah Daerah sangat menyadari betapa pentingnya kehadiran bandara, oleh karena itu sinergitas dengan Pemerintah Pusat pun terjalin dengan baik untuk sama-sama mengembangkan Bandara Oksibil,” tutup Agus.

Bagikan Berita

Comment

BERITA TERKAIT