by

Bandara Teuku Cut Ali Gerbang Masuk Utama Aceh Selatan

Kehadiran Bandara Teuku Cut Ali di Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh menjadi sebagai gerbang masuk utama ke daerah tersebut dalam rangka memudahkan pergerakan orang dan barang di Aceh Selatan. Mengingat jarak Aceh Selatan ke Ibukota Provinsi Aceh, yakni Banda Aceh sejauh 335 km dan membutuhkan 10 jam perjalanan jika ditempuh melalui jalur darat.

Bandara ini sebagai salah satu bagian dari peningkatan pembangunan infrastruktur dan SDM di Aceh Selatan. Hal tersebut dilakukan mengingat bahwa Aceh Selatan sebagai salah satu kabupaten tertua di Provinsi Aceh yang memiliki potensi cukup tinggi, tidak hanya pada sektor pariwisata saja, tetapi juga meliputi hasil perkebunan yang menjadi unggulan dan ciri khas dari daerah itu, yakni buah Pala.

Meskipun kehadiran bandara yang memiliki runway sepanjang 1270 meter x 30 meter ini belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat maupun wisatawan, tetapi pada perkembangannya akan menjadi transportasi pilihan bagi mereka yang ingin keluar masuk Aceh Selatan ataupun untuk pendistribusian buah Pala yang menjadi produk unggulan.
“Saya menjabat sebagai Kepala Bandara Teuku Cut Ali baru hitungan bulan. Ini adalah sebuah kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengembangkan bandara ini agar lebih baik lagi dalam melayani masyarakat luas dan manfaatnya pun bisa dirasakan masyarakat sekitar dalam mendorong perekonomian daerah,” kata Dodiek Setyono saat bertemu tim Majalah Bandara beberapa waktu lalu di Bandara Teuku Cut Ali.

Berbagai program kerja sudah dicanangkan oleh Dodiek untuk mengembangkan Bandara Teuku Cut Ali sebagai gerbang utama kabupaten yang dijuluki sebagai Kota Naga. Salah satunya adalah untuk menghadirkan penerbangan di bandara itu. “Program terdekat saya adalah menghadirkan penerbangan secepatnya. Bandara ini sudah jadi dan fasilitas di dalam terminal pun sudah siap untuk melayani penumpang. Cuma memang masih ada beberapa yang harus dibenahi dan itu terkait lahan yang belum dibebaskan, ”sambung Kabandara.

Dodiek menuturkan, bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Pemda setempat terkait lahan tersebut. Karena lahan yang belum dibebaskan itu menutupi gedung terminal penumpang di sisi darat dan area parkir kendaraan penumpang.

Transportasi udara bagi masyarakat Aceh Selatan memiliki peran penting dan kehadirannya sangat dinantikan. Tidak hanya untuk kepentingan kepemerintahan dan bisnis saja, tetapi juga untuk kesehatan dan pendidikan. Rumah sakit besar terdekat jika terjadi keadaan darurat ada di Medan, Sumatera Utara, dan jaraknya mencapai 150 km atau membutuhkan waktu delapan jam jika ditempuh melalui jalur darat. Begitu juga dengan sekolah tinggi terbaik terdekat berada di Medan. “Minimal penerbangan perintis dapat kembali melayani penerbangan di bandara ini seperti tahun 2017. Rute yang kami harapkan dan dapat dipenuhi adalah Medan – Tapaktuan dan Banda Aceh – Tapaktuan,” tutur Dodiek yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubsi TOKPD di Bandara Maimun Saleh di Kota Sabang, Provinsi Aceh.

Selain menghadirkan penerbangan di Bandara Teuku Cut Ali, Dodiek juga berencana akan melakukan perpanjangan runway menjadi 1.600 meter x 30 meter sesuai masterplan agar bandara itu bisa didarati pesawat jenis ATR-72 dan penerbangan komersil pun dapat beroperasi melayani masyarakat Aceh Selatan. (PN )

Bagikan Berita

Comment

BERITA TERKAIT