by

Bandara Malikussaleh Kian Maju Setelah Satu Tahun Dikelola Ditjen Perhubungan Udara

Sudah satu tahun Bandara Malikussaleh di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Dalam kurun waktu satu tahun tersebut, pelayanan dan fasilitas di bandara itu pun meningkat signifikan.

Pengguna jasa juga merasakan peningkatan pelayanan dan fasilitas di bandara yang memiliki runway sepanjang 1.850 meter x 30 meter itu. Beberapa penumpang mengemukakan kepada Majalah Bandara bahwa renovasi gedung terminal yang kini dilengkapi berbagai fasilitas membuat mereka nyaman.

Apa yang dirasakan penumpang merupakan hasil kerja keras pengelola bandara. Sebagaimana dikemukakan Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Bandara Malikussaleh Sunartopo, setelah satu tahun dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, berbagai peningkatan fasilitas terus dilakukan.

“Tidak terasa sudah satu tahun bandara ini dikelola oleh Ditjen Perhubungan Udara. Banyak sekali perubahan dan peningkatan pelayanan di bandara ini,” kata Kasatpel Sunartopo.
Selain wajah baru terminal, lanjut Kasatpel, di dalamnya juga terdapat peningkatan pelayanan yang menambah kenyamanan penumpang, seperti adanya pendingin ruangan sehingga penumpang tidak lagi kepanasan. Lalu dilengkapi musholla dan sudah memiliki dua X-Ray.

Satu tahun menurut Sunartopo merupakan waktu yang singkat. Namun Ditjen Perhubungan Udara berhasil membuat wajah baru Bandara Malikussaleh. Renovasi gedung terminal dari yang seluas 720 meter persegi kini menjadi 850 meter persegi sehingga membuat pergerakan orang di bandara itu pun menjadi lebih mudah.

Sisi Udara Dibenahi

Selain peningkatan fasilitas di sisi darat, di sisi udara pun mengalami peningkatan guna menunjang operasional penerbangan di Bandara Malikussaleh untuk lebih optimal lagi.
“Peningkatan fasilitas pelayanan tidak pada sisi darat saja. Tetapi di sisi udara juga meningkat. Tahun ini Ditjen Perhubungan Udara melakukan overlay runway, taxiway dan apron. Peningkatan fasilitas pelayanan di bandara ini adalah bentuk keseriusan Ditjen Perhubungan Udara dalam mengelola Bandara Malikussaleh,” sambung Kasatpel Sunartopo.

Dalam waktu satu tahun dikelola oleh Ditjen Perhubungan Udara, status Bandara Malikussaleh juga naik. Sebelumnya satpel dari Bandara Rembele, kini naik kelas menjadi UPBU Kelas III sesuai PM 56 Tahun 2019. “Sejak akhir tahun 2019 bandara ini sudah naik kelas jadi UPBU Kelas III, hanya pengukuhannya saja yang belum dilakukan,” ungkap Sunartopo.

Sebelum dikelola oleh Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Bandara Malikussaleh dikelola oleh Pemda Aceh Utara. Bandara Malikussaleh adalah bandara tersibuk kedua yang berada di Aceh. Movement di bandara ini dalam satu hari mencapai empat kali. Penerbangan di bandara ini sudah dilayani oleh dua maskapai penerbangan nasional, yaitu Wings Air dan Citilink rute Medan – Lhokseumawe.

Kehadiran Bandara Malikussaleh tidak hanya melayani penerbangan bagi masyarakat Aceh Utara, tetapi juga Lhokseumawe dan Bireuen. Selain itu, masing-masing daerah tersebut juga memiliki potensi yang tinggi, salah satunya adalah Lhokseumawe yang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sehingga pergerakan orang melalui bandara itu untuk kepentingan bisnis pun akan semakin ramai. ( *)

Bagikan Berita

Comment

BERITA TERKAIT