by

BANDARA SEKO TRANSPORTASI UDARA MENJADI ANDALAN

Kabandara Samuel T. Duma

Kecamatan Seko di Kabupaten Luwu Utara di Provinsi Sulawesi Selatan kini kian terbuka. Berbeda dengan kisah sebelumnya di mana akses ke sana sulit sehingga kecamatan itu nyaris terisolir. Sekarang hadirnya transportasi udara lewat Bandara Seko berhasil membuka keterisoliran masyarakat daerah tersebut. Pada akhirnya mempermudah masuknya barang dan kebutuhan logistik sehari-hari untuk masyarakat setempat.
Seko merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Utara yang berada di atas ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut dan berada di segitiga perbatasan antara Provinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Infrastruktur dan akses jalan darat yang belum memadai di daerah tersebut, membuat arus pergerakan orang dan barang pun menjadi sulit, sehingga hadirnya transportasi udara di daerah itu menjadi andalan.
Kepala Bandara Seko Samuel T. Duma mengemukakan bahwa kebutuhan transportasi udara di Seko sangat tinggi, bahkan untuk mendapatkan tiket pesawat ke Seko pun tidak mudah dan acap waiting list.
“Penerbangan di Seko saat ini masih dilayani oleh penerbangan perintis masamba – seko enam kali Seminggu) terdapat juga penerbangan perintis Seko – Toraja PP seminggu sekali setiap hari Kamis dan Seko – Palu PP seminggu dua kali setiap hari Selasa dan Sabtu.” kata Kabandara Samuel ketika berbincang dengan Majalah Bandara belum lama ini.
Meskipun rute Masamba –
Seko terbang setiap hari, lanjut Kabandara, namun kapasitasnya masih sangat kurang karena di Seko terdapat 12 desa dan masyarakatnya sebanyak kurang lebih 16.000 jiwa. Sedangkan Susi Air menggunakan pesawat jenis Grand Caravan yang bermuatan 12 penumpang sehingga untuk dapat tiket pun harus memesannya dari jauh-jauh hari.

 

BANDARA MELAYANI PERINTIS & KARGO

Pesawat Susi Air di Bandara Seko

Kehadiran Bandara Seko sangat dirasakan oleh masyarakat, sekalipun jarang bepergian dengan pesawat. Masyarakat merasakannya dari harga kebutuhan pokok yang tidak terlalu mahal karena dibantu oleh angkutan perintis kargo lewat bandara tersebut.
Kepala Bandara Seko Samuel T. Duma menjelaskan angkutan perintis kargo sudah beroperasi sejak Maret 2018 lalu. Dibukanya angkutan perintis kargo ini bertujuan untuk mempermudah arus pendistribusian kebutuhan logistik ke daerah tersebut serta menekan disparitas harga di Seko yang terbilang tinggi.
Menurut Kabandara, harga kebutuhan pokok di daerah tersebut ditentukan berdasarkan kesulitan dalam membawa barang tersebut dari Masamba. Jika tingkat kesulitannya tinggi, makanya harganya pun tinggi.
Jarak Seko dengan Ibu Kota Kabupaten Luwu Utara, yakni Masamba, 126 kilometer. Namun karena akses darat masih sangat terbatas dan sulit maka memakan waktu tempuh lama. Bahkan saat penghujan bisa hingga dua hari perjalanan.
Akses itu hanya bisa ditempuh dengan motor yang bannya sudah dimodifikasi dengan ban motor trail. Modifikasi ini dilakukan karena medan yang curam, berliku dan terjal, banyak bebatuan serta jalan yang licin juga berlumpur saat musim hujan tiba.
Kondisi itu membuat pengiriman barang dan kebutuhan logistik pun menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, kehadiran angkutan perintis kargo di daerah tersebut memiliki dampak yang luar biasa bagi perekonomian masyarakat setempat
“Subsidi kargo karena akses daratnya susah. Jika akses darat sudah bagus, tidak menutup kemungkinan subsidi angkutan kargo ini juga akan ditutup. Namun demikian, hadirnya transportasi udara di Seko, baik angkutan perintis penumpang maupun kargo saat ini memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Seko,” ungkap Kabandara.
Saat ini Bandara Seko memiliki runway sepanjang 1.000 meter x 23 meter dan rencananya akan diperpanjang menjadi 1.600 meter x 30 meter sesuai masterplan agar dapat didarati pesawat jenis ATR-72, bandara ini melayani angkutan perintis penumpang juga cargo.
Sebagai Kepala Bandara baru di Seko, Samuel tidak hanya melanjutkan program pekerjaan yang sudah berjalan, tetapi juga berupaya agar pelayanan di bandara itu dapat berjalan maksimal meskipun terdapat keterbatasan di pedalaman.

Bagikan Berita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKAIT