by

BANDARA H. AROEBOESMAN WAJAH TERDEPAN KABUPATEN ENDE

Bandara H. Aroeboesman yang menjadi wajah terdepan Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, terus berupaya meningkatkan pelayanan dan kapasitas bandara.
Kepala Bandara H. Aroeboesman Prio Budiono mengemukakan sebagai wajah terdepan Ende, maka pelayanan dan kapasitas bandara terus ditingkatkan. Di antaranya adalah melakukan pengembangan bandara, baik dari sisi udara maupun darat sebagai bentuk dari pelayanan prima.

Kabandara Prio Budiono

“Banyak wisatawan yang datang dan pergi ke Flores melalui bandara ini. Dengan keterbatasan fasilitas yang ada, kami berupaya memberikan pelayanan yang terbaik,” kata Kabandara Prio kepada Majalah Bandara belum lama ini.
Kabandara menambahkan saat ini pihaknya juga sedang menyiapkan program pengembangan bandara sesuai dengan masterplan tahun 2017.
Kehadiran bandara, lanjut Kabandara, tidak hanya sebagai tempat naik turun penumpang, tetapi bandara yang memiliki landasan pacu sepanjang 1.650 meter x 30 meter juga berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Sektor bisnis maupun pariwisata menjadi roda yang mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut. Sekarang ini pariwisata banyak dilirik oleh wisatawan mancanegara, salah satunya adalah destinasi wisata Danau Tiga Warna, yakni Danau Kelimutu yang membuat Ende dikenal oleh dunia.
Ende tidak hanya sebagai kota wisata, tetapi juga merupakan kota sejarah. Kota ini merupakan tempat pengasingan Bung Karno serta keluarga. Selama empat tahun, yakni tahun 1934-1938, Bung Karno dan keluarga diasingkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kini rumah yang menjadi tempat Bung Karno tinggal selama diasingkan menjadi tempat wisata sejarah.

 

PERPANJANG RUNWAY

Bandara Aroeboesman

Terkait rencana pengembangan bandara, Kabandara Prio menjelaskan lebih lanjut, pengembangan tersebut di antaranya adalah melakukan perpanjangan landasan pacu menjadi 2.100 meter x 30 meter, apron seluas 225 meter x 40 meter akan ditambah 73 meter x 40 meter serta membangun terminal baru yang dibangun secara dua tahap. Tahap pertama yakni 4.500 meter persegi dan tahap kedua 6.800 meter persegi.
“Mengingat tingginya pergerakan orang di bandara ini, sedangkan terminal yang ada tidak mampu menampungnya, terutama saat golden time penerbangan di bandara ini yakni pagi hari, suasana menjadi semrawut. Oleh karena itu kami berencana membangun terminal baru yang lebih luas,” ungkap Kabandara.
Tingginya pergerakan penumpang tersebut, bisa dilihat dari movement di Bandara H. Aroeboesman. Menurut Kabandara, dalam satu hari mencapai 16 kali pergerakan. Penerbangan di bandara itu dilayani oleh dua maskapai, yakni Wings Air rute Ende – Tambolaka – Kupang – Ende – Labuan Bajo dan Transnusa rute Kupang – Ende – Labuan Bajo yang terbang setiap hari.
“Airlines membuka rute estafet ke bandara ini guna mengakomodasi kebutuhan transportasi wisatawan sehingga membantu perekonomian daerah menjadi meningkat melalui sektor pariwisata,” ujar Kabandara Prio.
Memang, sesuai dengan program Pemerintah Pusat, Bandara H. Aroeboesman merupakan bandara pariwisata sehingga masuk ke dalam Proyek Strategi Nasional (PSN). Maka dari itu pengembangan bandara tersebut terus digenjot agar pelayanan di bandara itu bisa lebih baik lagi.
Menurut Kabandara Prio, pengembangan Bandara H. Aroeboesman terhambat karena terdapat dua obstacle pada masing-masing ujung runway, yakni dua buah bukit yang menjulang tinggi sehingga untuk take off dan landing di bandara itu hanya bisa dilakukan dari arah barat.

Bagikan Berita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKAIT