by

BANDARA BLANGKEJEREN UNTUK MITIGASI BENCANA

Kehadiran bandara di berbagai daerah Indonesia tidak hanya membuka akses menuju daerah tersebut saja, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian daerah itu. Namun ada beberapa bandara di Indonesia yang dibangun tidak hanya untuk itu saja, tetapi juga sebagai mitigasi bencana mengingat wilayah Indonesia sebagian besarnya rawan bencana.
Begitu juga dengan Bandara Blangkejeren di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Bandara ini dibangun tidak hanya sebagai tempat naik turun penumpang saja, tetapi juga untuk mitigasi bencana karena rawan gempa bumi dan tanah longsor karena secara geografis daerah tersebut dikelilingi bukit, sehingga dengan hadirnya bandara itu mempermudah evakuasi dan distribusi bantuan logistik saat terjadi bencana.

Kasatpel Wahyu bersama Staf

Bandara Blangkejeren merupakan satuan pelayanan dari Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Bandara ini memiliki runway sepanjang 810 meter x 23 meter dan saat ini hanya dapat didarati pesawat jenis Grand Caravan saja. Namun demikian, bandara ini merupakan objek vital dan aksesibilitas kepemerintahan. “Meskipun masih terbatas, tetapi bandara ini memiliki peran penting, di antaranya sebagai mitigasi bencana, sebagai akses moda transportasi udara untuk kegiatan kepemerintahan setempat menuju Ibukota Provinsi Aceh, yakni Banda Aceh, perekonomian, pendidikan, bahkan kesehatan karena jalur darat menuju Banda Aceh memakan waktu hingga 12 jam sedangkan ke Medan 10 jam. Namun demikian, kami terus berupaya melakukan peningkatan pelayanan fasilitas bandara,” ujar Wahyu Hidayat selaku Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Bandara Blangkejeren.
Berdasarkan catatan, peningkatan penumpang di Bandara Blangkejeren tahun ini mencapai 70% dan jumlah ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini penerbangan di Blangkejeren masih dilayani penerbangan Susi Air seminggu dua kali, yakni hari Selasa rute Medan – Gayo Lues – Banda Aceh dan hari Jum’at rute Banda Aceh – Gayo Lues – Medan. Untuk rute Medan – Gayo Lues dan sebaliknya adalah penerbangan perintis, sedangkan rute Banda Aceh – Gayo Lues dan sebaliknya adalah charter flight sehingga harga tiketnya terbilang cukup mahal. “Saya berharap penerbangan di bandara ini frekuensinya dapat meningkat minimal seminggu tiga kali dan ke rute ke Banda Aceh segera dilayani penerbangan perintis,” sambung Kasatpel. (RI)

Bagikan Berita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKAIT