by

BANDARA ALAS LEUSER GERBANG UTAMA TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

Kasatpel Salim bersama Staf

Hadirnya Bandara Alas Lauser di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, pada awalnya dibangun untuk menjaga dan sebagai gerbang utama Taman Nasional Gunung Leuser, agar monitoring taman nasional yang terlah memperoleh dua status berskala internasional itu, yakni Cagar Biosfer pada tahun 1981 dan sebagai World Heritage pada tahun 2004 itu dapat mudah dijangkau dengan transportasi udara.
Meskipun hingga saat ini belum terdapat data yang akurat terkait pembangunan bandara tersebut merupakan kontribusi dari NGO (Non Governmental Organization) untuk mempermudah kegiatan monitoring Taman Nasional Gunung Leuser dari udara, namun banyak saksi yang mengatakan bahwa Bandara Alas Leuser merupakan hasil kontribusi dari NGO, dimana pembebasan lahan dilakukan pada tahun 2000 dan pembangunan dimulai tahun 2003, lalu.bulan Agustus 2005 mulai beroperasi.
Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Alas Leuser Salim mengemukakan bahwa awalnya pembangunan bandara yang memiliki runway sepanjang 1500 meter x 30 meter itu memang untuk mempermudah kegiatan monitoring Taman Nasional Gunung Leuser hingga saat ini, seiring berjalannya waktu fungsi dari bandara itu pun meluas, tidak hanya untuk monitoring taman nasional itu saja, tetapi juga untuk membuka akses daerah tersebut dan sebagai mitigasi bencana. “Bandara memiliki banyak fungsi, tidak hanya untuk monitoring Taman Nasional Gunung Leuser saja, tetapi juga sebagai gerbang utama masuk ke Aceh Tenggara dari udara dan gerbang wisata di daerah ini juga sebagai mitigasi bencana,”katanya.
Meskipun bandara ini memiliki runway yang sudah dapat didarati pesawat jenis ATR-72, namun penerbangan di Bandara Alas Leuser masih dilayani oleh penerbangan perintis Susi Air rute Banda Aceh – Kutacane yang terbang seminggu sekali. “Penerbangan perintis seminggu sekali itu masih sangat kurang. Karena bandara ini juga merupakan aksesibilitas kepemerintahan Aceh Tenggara ke Ibukota Provinsi, kota Banda Aceh, yang.berjarak 552 kilometer dengan waktu tempuh hingga 18 jam perjalanan darat. Oleh karena itu kami berharap penerbangan perintis di bandara ini frekuensinya dapat ditingkatkan minimal menjadi seminggu tiga kali. Apalagi bandara ini juga sebagai pintu gerbang Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan paru-paru dunia,” tambah Salim. (RI)

Bagikan Berita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKAIT