by

STPI CURUG KEMBANGKAN SENSE OF ENTREPRENEUR PESERTA DIDIK

Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) yang berlokasi di Curug, Tangerang, melakukan berbagai terobosan di antaranya mengembangkan sense of entrepreneur kepada peserta didik.
Ketua STPI Curug Capt Novyanto Widadi mengemukakan sebagai lembaga pendidikan maka STPI Curug juga harus mengembangkan sense of entrepreneur untuk peserta didik. Apalagi STPI sudah berstatus BLU.

“STPI Curug merupakan sekolah vokasi milik pemerintah yang telah berstatus BLU yang masih memiliki area lahan luas sehingga dapat dikembangkan menjadi kawasan pendidikan kedirgantaran atau eduaero park,” kata Capt. Novyanto.

Capt Novyanto Widadi

Menurut Ketua STPI, lokasi STPI sangat stategis, dikelilingi beberapa kota mandiri (seperti Lippo Karawaci, Gading Serpong, Bumi Serpong Damai, Alam Sutera, Citra Raya) serta kemudahan untuk diakses dari segala penjuru. Maka dari itu konsep eduaero park layak diterapkan STPI.

STPI merupakan unit penyelenggara teknis pendidikan penerbangan Kementerian Perhubungan berlokasi di Curug Tangerang, 40 km dari Jakarta. Sekolah yang awalnya memiliki nama Akademi Penerbangan Indonesia kini dipimpin oleh Capt Novyanto Widadi, seorang perwira tinggi dari TNI Angkatan Udara dan memulai karier sebagai ketua STPI pada November 2016
“Saya mengikuti lelang jabatan untuk posisi Ketua STPI Curug dan alhamdulillah saya mendapat kesempatan memimpin sekolah penerbangan pertama dan terbesar di Indonesia ini,” kata Capt. Novyanto.

GOALS PENDIDIKAN STPI

Taruna STPI

Keselamatan penerbangan adalah goals dari pendidikan yang dilaksanakan di STPI, sedangkan konsep “just culture” dewasa ini merupakan tools untuk tercapainya keselamatan penerbangan. Intinya salah satu kunci suksesnya penerapan keselamatan penerbangan adalah tercapainya budaya pelaporan “just culture” dalam suatu organisasi.
Ditegaskan oleh Capt. Novyanto, budaya keselamatan (safety culture) berkaitan erat dengan just culture. Adapun yang dimaksud safety culture (budaya keselamatan) adalah istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana safety dikelola di tempat kerja yang terkadang mencerminkan perilaku, kepercayaan, persepsi, dan nilai-nilai dimana setiap pegawai memilki andil dalam menciptakan safety.

Lalu , just culture atau budaya adil dalam pelaporan keselamatan adalah sebagai sebuah budaya dimana para operator terdepan tidak diberikan sanksi atau hukuman atas tindakan, kelalaian, atau keputusan yang diambil mereka jika telah sesuai atau sepadan dengan pengalaman dan pelatihan yang mereka terima. Namun jika itu merupakan kelalaian besar, pelanggaran yang disengaja dan tindakan yang merusak maka tidak akan ditoleransi.

Taruna STPI

“Just culture dibutuhkan sebagai bentuk kepercayaan di mana orang-orang diberi dukungan dan semangat bahkan diberikan penghargaan dalam rangka menyediakan informasi yang berkaitan dengan keselamatan,” kata Capt. Novyanto. Ia menambahkan tentu saja tetap mengetahui batasan yang jelas antara perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima (acceptable behaviour and unacceptable behaviour).

Menurut Capt. Novyanto, untuk menerapkan just culture membutuhkan trigger yang kuat, karena bukan hal yang mudah untuk membujuk orang untuk mengajukan laporan tentang kejadian keselamatan, terutama jika hal tersebut melibatkan diri mereka sendiri. Sebab, reaksi alami manusia yaitu cenderung tidak mengarah pada pengakuan jujur, adanya masalah trust atau kepercayaan, adanya keinginan alami untuk melupakan kejadian tersebut, serta tidak adanya intensif yang diberikan yang dapat mendorong pelaporan sukarela berjalan secara tepat waktu sehingga kesalahan tersebut dapat segera ditindak lanjuti. (*)

Comment

BERITA TERKAIT