by

BANDARA HALUOLEO RELAYOUT TERMINAL DEMI KENYAMANAN PENUMPANG

Kabandara Safruddin

Guna memenuhi kebutuhan penumpang yang terus meningkat, pengelola Bandara Haluoleo melakukan berbagai pembenahan dan penataan ulang gedung terminal. Pembenahan dilakukan demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa bandara tersebut.
Kepala Bandara Haluoleo Safruddin mengemukakan bahwa pekerjaan penataan ulang gedung terminal tersebut meliputi penggantian lantai gedung terminal, memperbaiki atap gedung terminal yang sudah banyak bocor, perluasan ruang kedatangan sehingga mempermudah pergerakan penumpang saat mengambil bagasi. Pekerjaan lain adalah menjadikan satu ruangan SCP 2 dengan ruang tunggu keberangkatan sehingga mempermudah penumpang yang ingin ke toilet atau kantin tanpa harus melewati pemeriksaan kembali.
“Relayout yang kami lakukan ini untuk kenyamanan penumpang dan untuk mendukung kelancaran pelayanan tanpa mengabaikan keamanan,” kata Kabandara Safruddin.
Pekerjaan yang dilakukan tersebut, menurut Safruddin, merupakan pekerjaan lanjutan dari program kerja tahun 2019. Selain melakukan relayout gedung terminal, runway di bandara itu, sepanjang 2500 meter x 45 meter, juga akan dilakukan overlay guna peningkatan PCN dari 44 menjadi 49.
“Gedung terminal bandara ini merupakan hibah dari Pemda. Jika dilihat dari umur bangunan ini dan pergerakan penumpang di bandara ini, memang sudah saatnya dilakukan penataan tersebut,” sambung Kabandara.
Di samping pekerjaan tahun 2019 yang sedang berjalan, serangkaian program kerja tahun 2020 pun sudah mulai diusulkan oleh pengelola Bandara Haluoleo, di antaranya adalah membangun jalan inspeksi di sepanjang pagar parimeter serta melakukan pemasangan Approach Lighting System (ALS). Adapun ALS adalah peralatan bantu pendaratan visual yang berfungsi memberikan informasi/panduan secara visual kepada pilot mengenai arah menuju landasan pacu pada saat terakhir akan mendarat (final approach).
Approach Lighting System ini merupakan konfigurasi susunan lampu-lampu yang terpasang simetris dari ujung perpanjangan landasan pacu pada approach area sampai pada ambang landasan pacu (threshold).
Untuk pemasangan alat ini dibutuhkan lahan seluas 1.000 meter di ujung runway 26 yang akan dipasang alat tersebut. “Alat ini untuk memudahkan pendaratan pesawat saat malam hari. Apalagi di bandara ini sering terjadi kabut di pagi hari sehingga sulit untuk mendarat,” kata Kabandara.
Menurut Safruddin, setelah alat dipasang diharapkan dapat membantu proses pendaratan pesawat yang akan masuk ke Bandara Haluoleo, baik saat malam hari maupun saat berkabut. Untuk pemasangan alat ini dibutuhkan lahan 1.000 meter persegi, sementara lahan yang ada saat ini seluas 500 m2. “Maka yang 500 meter lagi diperlukan pembebasan lahan,” ungkap Safruddin.
Bandara Haluoleo adalah UPBU Kelas I dan merupakan enclave sipil yang berada di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. “Meskipun bandara ini enclave sipil, dengan koordinasi yang baik, maka kita dapat dengan sama-sama mengembangkan bandara ini menjadi lebih baik lagi untuk masyarakat luas,” tutur Safruddin yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag Keuangan di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
Penerbangan di bandara ini dilayani oleh maskapai Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Wings Air, dan TransNusa dengan rute penerbangan ke Jakarta, Surabaya, Makassar, Wakatobi, Bau Bau, Morowali, dan kota besar lainnya. (*)

Bagikan Berita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKAIT