by

BAPA WOTAN DARI CLEANING SERVICE HINGGA KEPALA BANDARA

Sudah sekitar 30 tahun pria dengan nama lengkap Bapa Wotan ini mengabdi di lingkungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Masa tugasnya banyak dihabiskan di Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Wotan memulai kariernya dari level paling bawah. Pada Mei 1986, dengan modal ijazah SMA, ia diterima sebagai tenaga honorer. Status pegawai tidak tetap ini disandangnya hingga Maret 1989. Tugasnya, mulai sebagai juru kebersihan (cleaning service), operator radio pemandu penerbangan, hingga urusan tata usaha (TU).
“Ketika itu, apapun saya kerjakan, tanpa harus selalu menunggu perintah atasan. Sebab, di Bandara Alor SDM-nya sedikit, yaitu terdiri dari dua pegawai negeri sipil (PNS), masing-masing Kepala Bandara Petrus Alubel Koilher, dan staf bernama Mesak Talilah, kemudian 2-3 orang honorer termasuk saya,” tutur Wotan.
Pada 1989 ia mengambil kesempatan untuk tes seleksi menjadi PNS dan lulus. Surat keputusan (SK) calon PNS (CPNS) yang diterimanya tertanggal 1 Maret 1989, menetapkan penempatan pertamanya tidak beranjak dari Pulau Alor, yaitu staf di Bandara Mali.

Kariernya terus menanjak. Selama 18 tahun (1990-2008) menjadi bendahara Bandara Mali dan pada 2009 dilantik sebagai Kasubsi Keamanan dan Keselamatan Penerbangan. Kepala Bandara (Kabandara) Mali, Petrus Alubel Koilher, kemudian dimutasi menjadi Kabandara Satar Tacik di Ruteng (NTT) dan digantikan Akbar Delli, yang kemudian digantikan pula Mesak Talilah hingga pensiun. Pada tahun 2010, giliran Wotan menggantikan Mesak sebagai Kabandara hingga 2014. Mutasi pertama dialami Wotan, tapi masih di kawasan NTT. Ia dipindah menjadi Kabandara Gewayantana, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, pada 1 Januari 2015 hingga 15 April 2015. Mutasi kedua adalah menjadi kepala Seksi Jasa Kebandaraan Komodo, Labuan Bajo, NTT. Dua bulan kemudian, pada 26 Juni 2015, kembali ditugaskan di Alor sebagai Kabandara Mali hingga sekarang.
Wotan kini menginjak usia 57 tahun. “Saya akan pensiun tujuh bulan lagi, pada 1 Februari 2020,” kata ayah empat anak dan kakek dua cucu kelahiran Lamakera, Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, 20 Januari 1962, ini, kepada Majalah Bandara akhir Juni lalu.

MENINGGALKAN JEJAK MANIS DI BANDARA MALI

Kabandara Mali Bapa Wotan

Bandara Mali di Pulau Alor, NTT, seakan tumbuh bersama perjalanan karier Bapa Wotan. Ketika masih tenaga honorer, ia teringat panjang landasan pacu (runway) hanya 1.000 meter x 18 meter. Saat itu bandara ini hanya disambangi penerbangan perintis Merpati Air dengan pesawat mungil jenis Twin Otter dan Cassa 212 rute Kupang-Alor-Kupang, masing masing sekali sehari.
Pada 2006, dimensi runway sudah 1.400 meter x 30 meter. Ketika itu, Merpati mengganti armadanya dengan pesawat agak besar, yaitu Fokker 50 dan pesawat buatan Cina jenis MA 50.
Antara 2012-2013, menurut Wotan, runway Bandara Mali bertambah panjang lagi menjadi 1.600 meter x 30 meter. Maka, hadirlah maskapai TransNusa Air dengan pesawat ATR 42 dan 72, disusul Wings Air (Lion Grup) dengan ATR 72-500 dan 600, menggantikan Merpati untuk rute Kupang-Alor-Kupang.

Lalu hadir pula NAM Air rute Denpasar-Alor-Denpasar, dengan pesawat ATR 72-600, dengan frekuensi tiga kali seminggu (Selasa, Kamis, Sabtu). Ada juga penerbangan perintis Susi Air dengan pesawat Caravan rute Atambua-Alor-Atambua 2-3 kali seminggu.
Apakah Bandara Mali akan dikembangkan lagi? Wotan membeberkan, pada 2020 panjang runway bandaranya diusulkan menjadi 1.850 meter. “Jika terealisasi, maka bandara ini bisa didarati pesawat jenis Boeing,” katanya.
Bukan cuma itu. Ignatius Jonan, saat menjabat Menteri Perhubungan di awal Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke Alor. Ia sempat meninjau kondisi keseluruhan Bandara Mali.

Di kemudian hari, Direktur Bandara Kemenhub, ketika itu Agus Santoso, memanggil Wotan untuk menyampaikan perintah pembenahan kondisi bandara. Sejak itu, munculah perencanaan dan sayembara nasional untuk desain Bandara Mali.
Kantor konsultan arsitek Natateka terpilih sebagai pemenang utama sayembara tersebut. Kearifan atau identisas lokal yang mereka usung dalam desainnya, menjadi kekuatan yang membuatnya unggul. Alor sendiri kaya dengan wisata budaya dan bahari yang tak pernah sepi dari kunjugan para pelancong.
Tahap I proyek pembangunan terminal baru bandara Mali bergulir sejak 2018 dengan pembangunan struktur atau pondasi. Tahap II tahun ini, tengah berlangsung lanjutan struktur dan arsitektur terminal.
“Bandara Mali kelak akan tampil cantik,” ungkap Wotan dengan mata menerawang. Kelak itu, ia sudah memasuki masa pensiun, dengan meninggalkan jejak manis di Bandara Mali.

 

MENGAWAL PROYEK BANDARA KABIR

Bandara Kabir – Alor

Sebagai Kepala Bandara Mali, Bapa Wotan mendapat penugasan dari Kementerian Perhubungan untuk membangun dan mengawal proyek bandara perintis di seberang Pulau Alor. Namanya Bandara Kabir, di Pulau Pantar, Kabupaten Alor.
Bandara tersebut harus dibangun karena termasuk dalam Tatanan Kebandaraan Nasional dan harapan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo untuk membangun konektivitas dan akses ke pulau terpencil. Dalam hal ini, di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat dua bandara lagi yang perlu dibangun: Bandara Surabaya II di Mbay, Kabupaten Nagakeo (Pulau Flores) dan Bandara Kabir.
Untuk bergulirnya proyek Bandara Kabir, Pemerintah Kabupaten Alor berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan dilakukan survei lokasi. Selain pemerintah pusat, daerah juga berkepentingan dengan adanya bandara ini untuk menyongsong pemekaran wilayah dengan melahirkan Kabupaten Pantar yang hingga kini dalam proses di Jakarta.

Akses ke Pulau Pantar juga sangat diperlukan untuk wisatawan. Daerah ini, misalnya, terkenal dengan wisata bahari bawah laut di Selat Pantar. Lalu, di dalam perut bumi Pantar terkandung banyak emas, yang pernah dibuktikan oleh perusahaan tambang Australia pada kurun 1980-1990.
Potensi ekonomi lain Pulau Pantar adalah budidaya rumput laut kualitas tinggi. “Pengusaha dari Surabaya dan Makassar datang langsung membelinya untuk diekspor ke Jepang dan Thailand,” kata Wotan.
Pembangunan Bandara Kabir pun bergulir pada 2017. “Saat ini, sudah memasuki tahap III dan diupayakan dapat dioperasikan tahun ini (2019) juga ” ungkap Wotan.

Proses pembangunan Bandara Kabir, menurut Wotan, sempat terkendala pemblokiran oleh masyarakat. Mereka protes karena ganti rugi pembebasan lahan bandara dari pemda tidak segera cair karena masih perlu proses penganggaran Pemda menugaskan Wotan untuk menghadapi aksi warga yang beringas. Wotan menghadapinya dengan persuasif dan diplomatis. “Saya beri masyarakat dua pilihan,” ungkapnya. Pilihan pertama, menurut dia, jika masyarakat menolak kehadiran bandara tersebut, agar dinyatakan secara tertulis dan ditandatangani mereka untuk disampaikan ke Jakarta. Opsi kedua, jika mereka sepakat dengan kehadiran bandara, juga harus dinyatakan secara tertulis dan ditandatangani, lalu diikuti membuka segala bentuk pemblokiran.
Masyarakat sepakat dengan opsi kedua. Bersama aparat mereka membuka blokir proyek bandara, seperti pagar kawat berduri. Namun, masalah baru muncul. Seseorang yang datang terlambat dan tidak ikut perundingan, mengancam untuk membunuh Wotan di lokasi proyek. “Namun, hati orang itu luluh setelah saya beri pengertian,” katanya.

ANAK NELAYAN YANG SUKSES DI BANDARA

Keluarga Kabandara Mali Bapa Wotan

Bapa Wotan lahir dan tumbuh di perkampungan nelayan pesisir pantai Lamakera, Pulau Solor Timur , Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia adalah anak keenam dari sepuluh bersaudara dari pasangan Wotan Abdullah dan Maryam.
Wotan Abdullah adalah seorang nelayan, petani, dan penganyam tikar. Sedangkan sang ibu, Maryam, penjual garam dapur. “Dari hasil laut kami hidup,” kata Bapa Wotan.
Pada pertengahan era 1960-an, Wotan kecil menempuh SD di Lamakera. Untuk sampai ke sekolah cukup berjalan kaki. Pada jenjang berikutnya, ia masuk SMP di Lamahala, yang harus ditempuh menggunakan sampan untuk menyeberang ke Pulau Adonara. Menginjak SMA jarak tempuhnya lebih jauh lagi dan harus melewati dua pulau, yaitu menyeberang ke Weiwerang di Pulau Adonara dan Larantuka, Pulau Flores.

Selepas SMA, ia menjadi buruh kasar di proyek bangunan. Pada 1985, Yayasan Tarbiyah memanggilnya untuk mengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI), setara SD, di Desa Lamahoda, Pulau Adonara. Pada 1986 Wotan mendapat radiogram dari kakaknya, At Muhammad, yang bekerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Alor. Ia disuruh datang ke Alor.
Tiba di Alor, Wotan melamar kerja ke Bandara Mali. Tapi, Kabandara Petrus Alubel Koilher menolaknya dengan alasan belum membutuhkan.
Suatu ketika Bandara Mali kedatangan tim dari Direktorat Navigasi Penerbangan Kemenhub. Mereka hendak memasang alat navigasi NDB untuk memandu pergerakan pesawat. “Saya terpanggil untuk nonton pekerjaan mereka,” kata Wotan.

Seminggu lamanya pemasangan antena itu tak kunjung rampung. Wotan kemudian menawarkan diri membantu kendati tidak punya ilmu dan pengalaman dalam urusan alat navigasi tersebut.
Terutama ia membantu menaikkan antena ke puncak menara yang tingginya sekitar 16 meter. Pekerjaan itu pun tuntas hari itu juga, lalu Wotan pergi tanpa meminta upah. Ia tidak pulang ke rumah kakaknya di kompleks BMKG, melainkan ke tempat saudaranya di kota Alor.

Dicari Utusan Bandara
Malamnya, utusan bandara mencari Wotan untuk diajak makan bersama tamu dari Jakarta tadi. Tapi karena tidak ketemu di rumah kakaknya, ditinggalah pesan agar esok harinya Wotan datang ke kantor Bandara Mali. Saat itulah Wotan ditawari untuk menjadi tenaga honorer. Ia pun bertugas sebagai cleaning service, mencabut rumput, membuat amplop surat, bahkan mengoperasikan radio SSB, hingga NDB. “Saya bekerja dengan hati ikhlas, tidak pernah menolak tugas dan selalu berinisiatif bekerja tanpa menunggu perintah atasan,” tuturnya.

Meski pendidikannya sampai SMA, tapi dalam perjalanan kariernya di bandara, Wotan mengikuti berbagai pendidikan dan latihan (diklat). “Saya pernah diikutkan pada Diklat Manajemen Bandara di Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar selama dua bulan pada 2009,” ungkap suami Djuriah Haji Abdul Rauf ini. Selain itu, Kemenhub mengirim Wotan ke Diklat Manajemen Bandar Udara (MBU) pada 2009. Lalu, mengikuti Diklat Kepemimpinan IV dan III (2011/2013) di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jakarta.

Atas pengabdiannya, Wotan pun mendapat tanda penghargaan Satya Lencana Karya Setia 10 Tahun dari Presiden Megawati, untuk 20 tahun dari Presiden SBY, dan untuk 30 tahun sedang diusulkan kepada Presiden Jokowi. Ada keinginan dari Bupati Alor, Amon Djobo, agar masa pengabdian Wotan juga diperpanjang karena sukses memimpin Bandara Mali. Tapi, jika harus tetap pensiun 1 Februari 2020, Wotan sudah ditawari masuk dalam Badan Percepatan Pembangunan NTT.
“Bagi saya, siap saja mengabdi di mana pun,” kata Wotan yang selalu berpenampilan sederhana dan berkarakter tegas .

Bagikan Berita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKAIT