by

BANDARA OKSIBIL PAPUA Tahun Depan Obstacle Dikurangi & Runway Diperpanjang

Di tengah bentang alam pegunungan Papua nan terjal, berbukit, dan hutan lebat, di situlah Bandara Oksibil berada. Gerbang udara di daerah pedalaman Kabupaten Pegunungan Bintang ini membuka keterisolasian daerah. Moda udara via Bandara Oksibil ini menjadi sarana transportasi andalan masyarakat setempat yang dihadapkan pada medan darat yang sulit dilewati.

Kabandara Oksibil Frits J Ayomi

Kepala Bandara Oksibil Frits J Ayomi mengemukakan kondisi geografis Bandara Oksibil dikelilingi pegunungan, cuacanya tidak menentu, dan terdapat dua obstacle (berupa bukit) yang cukup tinggi pada masing-masing ujung runway.


“Semua ini berpengaruh terhadap jumlah penumpang yang dibawa oleh pesawat,” kata Kabandara Frits saat ditemui Majalah Bandara beberapa waktu lalu. Untuk mengurangi obstacle itu, lanjut Kabandara, rencananya tahun depan pengelola bandara akan melakukan pemotongan bukit agar pelayanan penerbangan di bandara itu dapat berjalan optimal dan pesawat bisa mengangkut penumpang sesuai kapasitas kursi.


“Sesuai masterplan, runway bisa diperpanjang hingga 1.700 meter. Dengan demikian, maka pesawat jenis ATR 72 dapat beroperasi di bandara ini tanpa mengurangi load factor-nya seperti saat ini,” sambung Kabandara.


Saat ini Bandara Oksibil yang merupakan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III memiliki runway sepanjang 1.600 meter x 30 meter. Namun landasan pacu yang bisa digunakan sepanjang 1.350 meter sehingga hanya bisa didarati pesawat sejenis ATR 42 dan Twin Otter.


Sementara dari sisi darat, Bandara Oksibil memiliki gedung terminal baru seluas 1.000 meter persegi yang dibangun Pemkab Pegunungan Bintang dan sedang dalam proses hibah ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Tim dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, setelah Idul Fitri, akan melakukan verifikasi terminal baru tersebut.


Kabandara menambahkan dengan adanya bandara, kebutuhan logistik masyarakat di daerah itu pun terakomodasi menggunakan pesawat kargo. Dengan demikian, dapat menekan harga kebutuhan pokok sehari-hari agar tidak terlalu melambung.


“Jadi, bandara ini tidak hanya melayani penerbangan perintis dan komersial penumpang orang, tetapi sekaligus penerbangan kargo, yang mengangkut sembako, semen, hingga solar,” ungkap Kabandara Frits.


Kebutuhan logistik yang diangkut pesawat kargo ke Bandara Oksibil, menurut Kabandara, lebih banyak dipasok dari Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. Letaknya memang cukup dekat ke Pegunungan Bintang, dengan waktu tempuh hanya 30 menit penerbangan.


Berdasarkan catatan, penerbangan kargo di Bandara Oksibil dalam sehari mencapai 60 kali, yang tidak hanya dari Tanah Merah. Setelah tiba di Oksibil, segera beralih pesawat untuk didistribusikan ke distrik-distrik di sekitar Pegunungan Bintang.


Sementara penerbangan komersial penumpang dilayani maskapai Trigana Air dengan pesawat jenis ATR 42-300 berkapasitas 42 seat rute Jayapura-Oksibil, dua kali setiap hari. Namun, sering terjadi waiting list penumpang akibat pesawat hanya bisa mengangkut 20 orang akibat situasi alam yang tidak kondusif bagi keamanan dan keselamatan penerbangan.

Comment

BERITA TERKAIT