BANDARA ROKOT Lakukan Pembenahan Guna Keamanan dan Keselamatan Penerbangan

Bandara Rokot

Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Mentawai, membuat pengelola Bandara Rokot terus melakukan pembenahan guna meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan serta kenyamanan di bandara itu.
Tingginya potensi yang dimiliki oleh Mentawai, khususnya di sektor pariwisata, menjadikan Bandara Rokot yang terletak di Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, berperan sebagai bandara pariwisata. Ke depannya fasilitas yang dimiliki oleh bandara tersebut akan ditingkatkan mengikuti standar penerbangan. Masih perlu perhatian khusus dalam pengembangannya, apa lagi lokasi bandara juga berada di daerah rawan bencana.
Kepala Bandara Rokot Maryanto mengemukakan selain berfungsi sebagai bandara pariwisata dan umum, bandara yang memiliki runway 850 meter x 23 meter itu juga berfungsi sebagai bandara evakuasi. Namun karena panjang runway yang dimiliki saat ini masih terbatas dan tidak bisa dikembangkan lagi maka akan dibangun runway baru. Saat ini landas pacu eksisting hanya bisa didarati oleh pesawat jenis Twin Otter, Grand Caravan dan Cassa. Oleh karena itu fungsinya sebagai bandara evakuasi pun kurang maksimal karena tidak bisa didarati oleh pesawat jenis Hercules untuk evakuasi saat terjadi bencana alam.

Kabandara Rokot bersama jajarannya

“Bandara Rokot tidak hanya berfungsi sebagai bandara penumpang dan pariwisata, tetapi juga untuk evakuasi. Oleh karena itu kami akan melakukan pengembangan bandara baru karena yang ada saat ini sudah tidak dapat dikembangkan lagi,” kata Kabandara.
Bandara Rokot merupakan bandara perintis yang sudah dibangun sejak tahun 1980 dan beroperasi tahun 1982. Awal pendiriannya merupakan salah satu bandara pertahanan negara serta untuk evakuasi gempa, selain tentunya untuk membuka keterisoliran.
Terkait dengan adanya rencana pengembangan bandara baru, pengelola bandara mengikuti masterplan Nomor KP 776 Tahun 2018, tentang rencana induk Bandar Udara Rokot. Pemda sudah membebaskan lahan seluas 43 hektare dan akan dibangun runway baru sepanjang 1.700 meter x 30 meter.
Menurut Kabandara, rencana pengembangan Bandara Rokot tentu saja dibutuhkan dukungan juga sinergitas antara pengelola bandara dan Pemda setempat, terutama untuk pembebasan lahan guna memenuhi Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Rencana pembangunan bandara baru ini terbagi menjadi beberapa tahapan dan diperkirakan akan rampung tahun 2024, di antaranya adalah pembangunan akan dimulai tahun 2020 dengan pengerjaan land clearing dan pemagaran batas. Lalu tahun 2021, usulan kegiatan penimbunan untuk runway baru, tahun 2022 usulan pembangunan sisi darat dan sisi udara, dan tahun 2023 usulan pengadaan peralatan penunjang keamanan dan keselamatan penerbangan.
“Untuk pengembangan bandara baru, tidak bisa jalan sendiri dan dibutuhkan dukungan serta sinergitas dari Pemda setempat. Dengan demikian, maka pengembangan bandara akan terwujud,” tambah Maryanto.
Saat ini penerbangan di Bandara Rokot dilayani oleh penerbangan perintis Aviastar yang terbang seminggu sekali, yakni setiap hari Sabtu rute Padang – Mentawai PP dan ditempuh selama 40 menit. Selain transportasi udara, selama ini masyarakat juga wisatawan banyak yang melalui jalur laut dari Padang menggunakan kapal cepat yang berlayar seminggu empat kali, yakni hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu yang ditempuh selama 3,5 jam. Sedangkan jika menggunakan kapal Fery seminggu dua kali, yakni hari Senin dan Jumat yang ditempuh selama 10 jam.
“Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan penerbangan perintis ini dalam melakukan perjalanan. Karena antusias masyarakat terhadap transportasi udara masih terbilang kurang dan banyak memilih jalur laut, oleh karena itu kami terus melakukan sosialisasi rute penerbangan perintis tersebut,” tambah Maryanto yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Urusan Tata Usaha di Bandara Nunukan, Kalimantan Utara. B

Bagikan Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *