by

BANDARA BOMAKIA – BOVEN DIGOELMenambah Frekuensi Penerbangan Perintis

Kabandara Saiful Bersama Staf Bandara Bomakia

Jembatan udara kembali melayani daerah terpencil Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Per 3 April 2019, penerbangan perintis yag ongkosnya disubsidi pemerintah, kembali dibuka untuk rute Bandar Udara (Bandara) Bomakia-Bandara Mopah (Merauke) yang dilayani pesawat kecil jenis caravan milik Susi Air.
Frekuensi penerbangan perintis ini sedikit meningkat dari tahun lalu yang hanya sepekan sekali. “Kali ini, dari dua flight yang kami usulkan, sementara dipenuhi 1,5 flight setiap pekan,” ungkap Kepala Bandara Bomakia, Saiful.
Yang dimaksud 1,5 flight, menurut Kabandara, jadwal penerbangan pada setiap pekannya berubah dari satu hingga dua flight. “Yaitu, jika minggu pertama satu flight, maka minggu kedua menjadi dua flight, minggu ketiga satu flight, dan minggu keempat menjadi dua flight,” paparnya.
Tarif pesawat perintis rute Merauke-Bomakia atau sebaliknya, adalah Rp 402.000. Rute ini hanya memerlukan waktu tempuh 1 jam dan 5 menit.
Jalur udara adalah pilihan transportasi paling efektif di daerah pedalaman itu. Kabandara bercerita, jika warga lewat jalur darat, harus menempuh jalanan yang terjal, waktu lama, dan biaya sangat mahal.
Jika seseorang melakukan perjalanan darat dari Bomakia ke Merauke, didahului naik ojek sepeda motor sampai Distrik Kouh selama tiga jam dengan ongkos Rp 500.000, lalu menyeberang ke Boven Digoel dengan speed boat selama dua jam dengan ongkos Rp 300.000. Terakhir, naik mobil jenis SUV ke Merauke dengan ongkos Rp 700.000 selama lima jam.
“Jadi, kehadiran penerbangan perintis sangat membantu masyarakat di sini, mulai dari masyarakat umum, pegawai negeri, Polri, hingga TNI,” kata Kabandara.
Bandara Bomakia memiliki landasan pacu (runway) panjang 880 meter dan lebar 23 meter. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, akan menggandeng pemerintah daerah untuk pengembangan bandara kedepannya.
“Kami ingin, bandara ini dapat melayani pesawat jenis ATR-42 atau Cassa, karena berkembangnya masyarakat harus diiringi perkembangan bandara,” tandas Kabandara Saiful, yang lahir di Surabaya, sejak 1973 pada usia tiga tahun sudah dibawa tugas ke Papua. B

Comment

BERITA TERKAIT