BANGUNAN BARU DI BANYUWANGI Harus Bernilai Destinasi Wisata

Reporter: Rizky Indriana

Bupati Banyuwangi Azwar Anas (keempat dari kanan) dan Menpar Arief Yahya (kelima dari kiri) usai berbicara pada acara “Ngobrol @Tempo.

JAKARTA – Pendirian bangunan baru di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, harus memenuhi ketentuan bernilai destinasi wisata. Kebijakan ini sebagai komitmen Pemkab Banyuwangi dalam menjadikan sektor pariwisata sebagai skala prioritas pembangunan di daerah ujung timur Pulau Jawa dan berada di seberang Pulau Bali itu.

Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, mencontohkan BUMN PT INKA yang akan membangun pabrik kereta api. Ia mensyaratkan ada masjid dan museumnya. “Akhirnya, investor setuju dan akan dibangun museum kereta api terbesar di Asia dengan desain ala Banyuwangi,” ungkapnya pada acara “Ngobrol @Tempo”, di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta, Senin (15/4/2019).

Saat ini Banyuwangi juga menjadi salah satu tempat studi banding daerah lain untuk contoh pengembangan pariwisata. “Sepanjang 2018, ada 47 ribu orang yang melakukan studi banding,” ungkap Azwar Anas.

Pemerintahnnya juga mulai meminimalisasi hambatan birokrasi. Caranya, dengan membentuk Mall Pelayanan Publik. “Ini dikhususkan untuk layanan perizinan kepada investor dan masyarakat,” ungkap Anas.

Sektor pariwisata juga telah menjadi skala prioritas bagi Provinsi Jawa Barat. Pada acaa sama, Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, untuk menyukseskan pariwisata di Jawa Barat ada beberapa hal yang dilakukan, di antaranya penataan alun-alun, pembangunan pelabuhan, pusat bandara, dan Bandara Kertajati.

“Sumber dana pembangunan di Jawa Barat berasal dari dana solidaritas umat, dana swasta, dana koordinasi kota dan kabupaten, dana provinsi, serta dana pusat,” ujar Uu.

Saat ini, lanjutnya, wisata andalan di Jawa Barat antara lain bahari, pegunungan, dan religi. “Kolaborasi dan inovasi menjadi dasar bagi pembangunan Jawa Barat menjadi daerah pariwisata, kota yang maju, dan menyejahterakan rakyatnya,” kata dia.

Namun, beberapa kendala yang masih dihadapi, yakni adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa pariwisata dekat dengan kemaksiatan.

Editor: AN

Bagikan Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *