SENIORITAS

Dalam pengangkatan pejabat atau promosi jabatan, selalu ada pro dan kontra, yaitu apakah pejabat itu cocok pada jabatan yang dipromosikan, apakah cukup senior serta berpengalaman? atau ada unsur KKN. Memang dari segi ini pengangkatan seseorang pada jabatan yang lebih tinggi merupakan selera pimpinan atau pemilik perusahaan, tapi tidak lepas dari adanya unsur subjektivitas atau “like and dislike”.
Selain pintar dan berdedikasi tinggi, ada pimpinan yang suka pada bawahan yang penurut dan tidak pernah membantah, ada juga pimpinan yang senang dipuji bawahannya. Dan ada juga yang suka bawahannya berasal dari se-suku, se-almamater, atau se-partai. Kalau se-suku yaitu apakah sama-sama orang Jawa, Sunda, Batak Minangkabau, Makasar. Sesuku juga dapat diartikan apakah sama-sama dari Jawa Tengah seperti Jogja, Solo, Klaten, Banyumas, atau Jawa Timur seperti Malang, Surabaya atau Madura. Kalau sealmamater seperti sama-sama alumni UGM, UI, ITB, Unpad, AAU, atau STPI Curug.
Dalam karir PNS atau TNI, jelas jabatan tergantung pada senioritas, contohnya ialah tidak mungkin perwira muda yang baru tamat AAU dengan pangkat Letda langsung dapat jabatan atau S1 yang baru diangkat jadi PNS dengan golongan IIIA langsung menjabat. Tamatan dari Akademi Militer membutuhkan waktu 12 tahun untuk mencapai pangkat Mayor dan begitu juga PNS dari S1 membutuhkan waktu 12 tahun untuk naik ke golongan III D.
Memang betul pejabat yang diangkat ditentukan oleh dedikasi dan kepintarannya, tapi pengalaman merupakan guru yang terbaik. Buktinya dalam suatu pertempuran, seorang perwira muda komandan platon baik yang berpangkat Letda atau Lettu selalu didampingi oleh sersan kepala atau sersan mayor yang berpengalaman. Tapi Ini tidak berlaku bagi perusahaan swasta, terutama perusahaan keluarga karena yang memimpin adalah anggota keluarganya walaupun belum berpengalaman. Seorang direktur atau pemilik perusahaan yang professional selalu memilih manager yang berpengalaman selain tingkat pendidikan, jujur, track record yang baik, pintar dan yang tak kalah pentingnya ialah faktor senioritas dalam pekerjaan serta profesional.
Seperti ATC, SOT (Sentra Operasi Terminal), AMC (Apron Movement Control), Airport Information, Terminal Inspection yang menjabat Supervisor haruslah petugas senior karena tidak mungkn Petugas Junior yang baru masuk langsung jadi Supervisor. Senioritas mungkin tidak ketat atau tidak berlaku bagi pegawai dengan jenjang fungsional seperti peneliti, prekayasa, pengajar (dosen) karena jabatan fungsional mereka selain pendidikan S2 dan S3, juga dinilai dari angka kredit atau kum/point yang diraih seperti berapa jumlah penelitian, penulisan, pelatihan, aktif dalam seminar, baik sebagai peserta maupun sebagai pembahas. Disini walaupun dia seorang peneliti senior tapi karena kurang atau tidak produktif, maka dia akan dilewati oleh peneliti-peneliti muda yang lebih produktif baik dalam melaksanakan penelitian ilmiah maupun penulisan seperti menulis jurnal ilmiah, artikel dan membuat buku yang diterbitkan.
Kalau ada jabatan yang baru dibentuk tapi sulit untuk mencari pejabatnya, maka boleh saja pegawai junior yang menjabat kalau dia hanya satu-satunya yang mempunyai kualifikasi jabatan tersebut, tapi ini merupakan kasus yang langka. Di Jepang, walaupun bergelar insinyur dan calon manager, tetap saja harus memulai karir dari bawah yaitu bekerja dengan pegawai lulusan STM atau D3. Dengan begitu mereka tidak merasa sombong tapi lebih menghargai para seniornya yang lebih berpengalaman karena pengalaman dan senioritas itu tidak dapat diperoleh secara instant. Ini juga selain membentuk watak dan perilaku yang baik, dapat membuat pegawai itu lebih skilled dan professional. B

Bagikan Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *