by

Kabupaten Alor : Sejarah Yang Terlupakan

Kabupaten Alor merupakan kabupaten tertua di Provnsi Nusa Tenggara Timur yang beribukota di Kalabahi. Kabupaten ini adalah kabupaten kepulauan yang dilintasi jalur perdagangan internasional di Samudera Pasifik dan kabupaten ini memiliki 20 pulau dimana terdapat sembilan pulau berpenghuni dan sebelas pulau lainnya tidak berpenghuni. Sembilan pulau yang berpenghuni adalah Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Pura, Pulau Terewang, Pulau Ternate, Pulau Kepa, Pulau Buaya, Pulau Kangge dan Pulau Kura. Sedangkan sebelas pulau tidak berpenghuni adalah Pulau Sikka, Pulau Kapas, Pulau Batang, Pulau Lapang, Pulau Rusa, Pulau Kambing, Pulau Watu Manu, Pulau Batu Bawa, Pulau Batu Ille, Pulau Ikan Ruing dan Pulau Nubu.
Secara administratif, Kabupaten Alor terdiri dari 17 kecamatan, yakni Kecamatan Alor Barat Daya, Alor Barat Laut, Alor Selatan, Alor Tengah Utara, Alor Timur Laut, Alor Timur, Pantar Barat, Pantar, Teluk Mutiara, Pantar Timur, Pantar Tengah, Pantar Barat Laut, Mataru, Pureman, Pulau Pura, Lembur dan Kabola. Kecamatan Pantar yang berada di Pulau Pantar adalah kecamatan tertua di Kabupaten Alor sejak berdirinya Alor sebagai kabupaten.
Namun sayangnya, infrastruktur di wilayah kecamatan ini tidak memadai dan jauh tertinggal. Akses menuju Pantar pun masih terbilang sangat sulit dan hanya bisa dilalui menggunakan transportasi laut, yakni kapal cepat selama 1,5 jam perjalanan dan menggunakan kapal kayu memakan waktu hingga enam jam. Namun, jika sedang musim angin barat dan gelombang tinggi, kapal cepat tidak dapat masuk ke pulau tersebut, sehingga menghambat masuknya pasokan logistik ke daerah tersebut.
Berbicara tentang Kabupaten Alor, tentu tidak akan terlepas dari sejarah masa lalu. Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat Alor, saat terjadi perang antara Kerajaan Munaseli dengan Kerajaan Pandai, membuat Kerajaan Munaseli meminta bantuan kepada Kerajaan Majapahit. Mengingat sebelumnya, Kerajaan Munaseli telah kalah perang melawan Kerajaan Abui yang merupakan kerajaan tertua di Kabupaten Alor yang berada di pedalaman pegunungan Alor. Sedangkan Kerajaan Munaseli berada di ujung timur Pulau Pantar.
Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasemen tentara bantuan dari Kerajaan Majapahit pun tiba di Munaseli. Namun yang mereka temukan saat itu hanyalah puing-puing dari Kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya sudah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Akhirnya, banyak dari tentara Kerajaan Majapahit ini yang memutuskan untuk menetap di Munaseli. Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli ini yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar). Konon katanya, Patih Gajah Mada pun turut menginjakkan kakinya di Alor dan mengajak masyarakat untuk melawan para penjajah. Namun sayangnya, sejarah itu terlupakan. Alor dan Pantar seperti tidak ada dalam sejarah Indonesia.
Terlepas dari itu semua, kehidupan masyarakat Pantar di Kabupaten Alor sebagian besarnya adalah petani rumput laut yang berada di Pulau Kange dan nelayan. Budidaya rumput laut ini merupakan peluang ekonomi dan merupakan budidaya rumput laut termahal di Nusa Tenggara Timur. Dalam satu bulan, hasil budidaya rumput laut ini mencapai 1000 ton dan hasilnya diekspor ke Jepang, Hongkong dan Taiwan melalui Surabaya dan Makassar. B

Comment

BERITA TERKAIT