Direktorat Navigasi Penerbangan : Canangkan Tiga Program Kerja

Resmi menjabat sebagai Direktur Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan, membuat Elfi Amir terus berupaya untuk meningkatkan kualitas navigasi penerbangan Indonesia melalui tiga program kerja yang telah ia canangkan untuk tahun 2018-2019.
“Alhamdulillah, diberikan kepercayaan untuk mengemban tugas ini. Pastinya, navigasi penerbangan di Indonesia harus lebih baik dan lebih meningkat lagi, baik dari pelayanan maupun dengan SDM-nya,” kata Elfi Amir atau yang akrab disapa Tevi pada awak Majalah Bandara saat bertemu di kantornya pada hari Jum’at, 08 Juni 2018.
Tevi menjelaskan lebih lanjut, tiga program kerja tersebut adalah yang pertama meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas komunikasi penerbangan, khususnya di Papua. Hal ini dikarenakan Papua memiliki medan yang sulit, terdapat banyak pegunungan juga blank spot. Sehingga diperlukan penambahan alat komunikasi penerbangan VHF Extended Range agar komunikasi penerbangan tidak terputus. “Selama ini, komunikasi penerbangan di Papua sering terputus karena banyak blank spot dan saat ini kami juga sedang mengidentifikasi di mana saja blank spot tersebut. VHR-ER ini dipasang dengan tiang antena yang sangat tinggi dan di tempatkan di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Selain memasangkan, alat tersebut juga harus dijaga dan bagaimana menjaga fasilitas tersebut, itu juga harus dipikirkan karena medan di Papua sangat sulit. Di samping itu, kami juga memasangkan alat ADSB di tujuh titik,” lanjutnya.
Sedangkan program Direktorat Navigasi Penerbangan yang kedua adalah negosiasi pelayanan ruang udara di Indonesia, tepatnya di atas udara Matak, Natuna, dan Tarempa, yang selama ini dikelola oleh Malaysia dan Singapore. “Terkait masalah FIR di wilayah barat, kami juga melakukan pendekatan dengan Malaysia dan setelah itu dengan Singapore. Selain itu, kami juga sedang mengidentifikasi pelayanan yang diberikan oleh Malaysia dan Singapore terhadap pelayanan di daerah tersebut,” ungkap Tevi.
Dan program kerja yang ketiga adalah mengurangi delay pesawat di Bandara Soekarno – Hatta, baik yang berada di udara maupun yang berada di ground. “Salah satu yang menjadi penyebab delay juga bisa disebabkan karena antrian pesawat yang akan landing atau pesawat yang berada di darat. Penerbangan di Bandara Soekarno – Hatta ini memang sangat padat sehingga sering terjadi delay. Oleh karena itu, kami coba mengurangi delay pesawat di bandara tersebut. Sebenarnya, dari jam 23.00 sampai jam 04.00 subuh penerbangan di bandara tersebut kosong. Jam penerbangan yang padat ini sebaiknya dipindahkan ke jam penerbangan yang kosong. Tapi untuk memindahkan jam penerbangan ini juga harus diperhatikan SDM, kantin dan transportasi lokal di bandara kedatangan,” jelas Tevi.
Tevi berharap, tiga program kerja yang telah ia canangkan ini dapat berjalan seperti yang ia harapkan dan membuahkan hasil yang positif bagi penerbangan Indonesia menjadi lebih baik lagi. “Semoga dengan terpasangnya alat VHF-ER di Papua, penerbangan di Papua menjadi lebih aman dan komunikasi selama penerbangan pun tidak mengalami hambatan karena blank spot. Semoga secepatnya pelayanan udara yang selama ini dikelola oleh Malaysia dan Singapore bisa segera kita yang kelola, serta delay pesawat pun bisa berkurang. Untuk mewujudkan itu semua, tentu harus didukung dengan SDM yang berkualitas dan memiliki kompetensi dalam bidang penerbangan,” tutupnya. B

Bagikan Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *