Bandara Kabir : Membuka Konektivitas Masyarakat Pantar

Sebagai negara kepulauan, tentu kehadiran transportasi udara sangat dibutuhkan oleh masyarakat di kepulauan. Selain membuka konektivitas, juga mempermudah mobilitas orang dan barang di daerah tersebut. Hal itulah yang terus dilakukan oleh Kementerian Perhubungan untuk menghubungkan masyarakat yang berada di kepulauan dengan kota besar lainnya di Indonesia dengan membangun bandara di daerah terdalam, terpencil dan perbatasan. Salah satu wujud nyata itu adalah membangun Bandara Kabir yang terletak di Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kecamatan Pantar sendiri berada terpisah dari Pulau Alor.
Selama ini, akses menuju Pantar hanya dapat dilalui menggunakan kapal cepat atau kapal kayu dari Alor. Tapi, jika sedang musim angin barat dan gelombang sedang tinggi, hanya kapal kayu yang dapat berlayar ke Pantar dan memakan waktu selama enam jam. Dengan dibangunnya Bandara Kabir yang merupakan satpel dari Bandara Mali Alor, maka akses menuju Pantar pun kian menjadi mudah dan konektivitas pun semakin terbuka.
Kepala Bandara Mali Alor yang juga membawahi Bandara Kabir Wotan mengemukakan, bandara yang dibangun sejak tahun 2014 itu memiliki panjang landasan pacu 900 meter x 30 meter. Sesuai dengan masterplan, landasan pacu ini akan dikembangkan menjadi 1.400 meter. Secara keseluruhan, pembangunan Bandara Kabir sudah selesai, namun masih ada pembenahan yang harus dilakukan agar bandara ini bisa secepatnya dinikmati oleh masyarakat Pantar dan membantu percepatan ekonomi di wilayah tersebut. Pembangunan Bandara Kabir juga tidak terlepas dari dukungan Pemda dan masyarakat setempat yang telah membantu dari awal pembangunan bandara tersebut. “Untuk terminal seluas 800 meter persegi sudah selesai dibangun. Saat ini kami sedang fokus terhadap pembebasan lahan untuk area parkir. Oleh karena itu, kami juga perlu dukungan lagi dari Pemda untuk pembebasan lahan yang akan digunakan sebagai area parkir,” katanya.
Selama membangun Bandara Kabir, menurut Wotan banyak sekali tantangan yang dihadapi. Mulai dari menghadapai masyarakat yang menolak pembangunan bandara, hingga terkendala masalah lahan karena anggaran yang terbatas. “Banyak sekali tantangan yang kami hadapi selama membangun bandara ini. Kami berharap dukungan Pemda Alor terhadap pembangunan bandara agar cepat selesai dan hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat luas,” ungkapnya.
Wotan juga menambahkan, bahwa Bandara Kabir ini rencananya akan diresmikan tahun 2018. Namun untuk percepatan peresmian ini sangat dibutuhkan peran Pemda Kabupaten Alor, karena bandara masih membutuhkan beberapa hektar lahan untuk lahan parkir dan jalan akses menuju bandara sesuai dengan masterplan. Di samping itu, pada kedua sisi runway, yaitu runway 21 dan runway 03 terdapat obstacle seperti tanaman-tanaman yang menjulang tinggi salah satu contohnya pohon kelapa. Sehingga dapat menyebabkan resiko kecelakaan pada pesawat saat take off dan landing. “Selain dukungan Pemda setempat, kami juga berharap masyarakat Pantar, khususnya Kabir juga turut mendukung dengan sukarela, ikhlas sungguh-sungguh demi percepatan pembangunan bandara,” ujar Wotan.
Bandara yang dibangun di atas lahan seluas 29,7 hektar itu rencananya akan membuka rute penerbangan perintis Atambua – Kabir PP dan penerbangan reguler rute Kupang – Kabir PP. Selain itu, pengelola Bandara Kabir juga sudah mengusulkan pengadaan mobil PKP-PK di tahun anggaran 2019. Sedangkan di tahun ini pengadaan genset 50 Kva dan isi terminal.
Dengan hadirnya bandara di Pantar, juga memudahkan kegiatan masyarakat sekitar yang sebagian besarnya berprofesi sebagai petani rumput laut dan nelayan. Karena pengiriman hasil budidaya rumput laut dan tangkapan ikan menjadi lebih cepat dan mudah dengan pesawat. Sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah tersebut menjadi lebih menggeliat. B

Bagikan Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *