Bandara Bintuni : Lokasi Perlu Penajaman

Kabupaten Teluk Bintuni, adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Papua Barat, yang kaya akan minyak dan gas. Namun sayangnya daerah ini masih banyak tertinggal dalam infrastruktur serta transportasi.
Menuju Bintuni dari Manokwari atau sebaliknya bisa ditempuh menggunakan pesawat juga kendaraan roda empat, namun sayangnya akses darat ini bisa memakan waktu tempuh hingga delapan jam perjalanan karena melewati jalan yang berliku tajam, licin dan berlumpur.
Sedangkan menggunakan pesawat, menuju Bintuni bisa ditempuh dari Sorong dan Manokwari menggunakan penerbangan komersil Susi Air yang terbang seminggu tiga kali, yakni hari Senin, Rabu, dan Jum’at rute Manokwari – Bintuni PP dan Sorong – Bintuni PP. Selain melayani penerbangan komersil, Bandara Bintuni juga melayani penerbangan perintis Susi Air rute Bintuni – Merdey yang terbang seminggu tiga kali, yaitu hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Kepala Bandara Bintuni Agung Trilaksana mengemukakan, permintaan masyarakat daerah tersebut terhadap transportasi udara memang sangat tinggi. Namun sayangnya, saat ini pesawat yang bisa mendarat di Bintuni hanya jenis pesawat Caravan dan sejenisnya saja, karena runway yang dimiliki bandara tersebut hanya 830 meter x 23 meter. “Rencananya tahun 2020, runway akan diperpanjang menjadi 1.200 meter x 30 meter. Minimal pesawat jenis ATR 42 bisa mendarat di bandara ini. Namun sayangnya, untuk pengembangan bandara ini tidak bisa karena banyak obstacle serta berada di tengah pemukiman masyarakat. Oleh karena itu, kami berencana merelokasi bandara,” katanya.
Terkait rencana pembangunan bandara baru, Agung menjelaskan bahwa sudah ada tiga lokasi yang diajukan untuk pembangunan bandara baru dan rencananya runway bandara baru akan dibangun sepanjang 1.600 meter sehingga dapat didarati pesawat jenis ATR 72. Namun lokasi tersebut masih perlu dikaji ulang atau penajaman lagi, selain lokasi yang cukup jauh, secara keseluruhan lokasi yang diajukan ini juga belum kuat. “Mengenai tiga lokasi bandara baru masih perlu dikaji, karena tidak bisa dua arah untuk pesawat take off atau landing. Di samping itu, dalam membangun bandara baru banyak yang harus diperhatikan. Seperti sosial budaya, dan ekonomi juga lainnya,” jelas Kabandara. B

Bagikan Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *