by

Perbatasan

Cerita pilu saudara kita di daerah perbatasan sering terdengar lewat media. Ada pula warga yang emosional dengan melontarkan ancaman : “Lebih baik mengibarkan bendera lain, bukan Merah Putih”. Tentu mudah saja untuk menafsirkan ancaman itu. Mereka ingin “menyeberang” ke negara lain. Namun ancaman ini lebih banyak terjadi di perbatasan Indonesia dan negara lain yang dianggapnya lebih makmur.
Sebenarnya, jika mengacu kepada pengalaman menembus daerah perbatasan, kemakmuran itu tercipta karena infrastruktur di wilayah negara tetangga lebih memadai, khususnya bisa dilihat di wilayah Malaysia. Sementara perbatasan yang masuk wilayah Kalimantan masih banyak yang terisolir. Atas dasar kondisi itu, warga pun lebih sering belanja ke wilayah Malaysia karena mudah ditempuh.
Bukan berarti pemerintah menutup mata atas kondisi itu. Sejatinya pemerintah memberi perhatian serius terhadap pengembangan daerah perbatasan. Pemerintah Indonesia giat membangun infrastruktur bandara di daerah perbatasan, pulau terluar, pulau terisolir dan daerah terdalam dalam rangka memperkuat konektivitas, pertahanan, serta distribusi pangan dan jasa.
Memang, membangun bandara di perbatasan terkadang tidak feasible. Penduduk sedikit belum masuk hitungan yang layak bagi pembangunan bandara. Namun sisi lain, kehadiran bandara akan menggeliatkan perekonomian setempat. Dari sini justru infrastruktur lain ikut tumbuh dan pelan-pelan membangun kemakmuran bagi warga perbatasan. Bilamana kemudahan akses sama dengan wilayah tetangga, maka warga pun tidak lagi menyeberang perbatasan untuk berbelanja kebutuhan mereka. Mata uang rupiah kembali digdaya.
Oleh karena itulah layak diapresiasi manakala Oesman Sapta Odang, Wakil Ketua MPR, mengingatkan pemerintah agar daerah perbatasan memperoleh perhatian serius dalam pembangunan bandara. Di perbatasan Kalimantan dan Malaysia selayaknya sejumlah bandara dibangun atau yang sudah ada diperbesar lagi.
Walau begitu, langkah pemerintah membangun salah satu wilayah terluar Indonesia, yakni Pulau Miangas, patut diapresiasi. Setelah dibangun Bandara Miangas, 2012-2015, arti strategis bandara itu kian nyata.
Kementerian Perhubungan mengemukakan pembangunan bandara ini sangat strategis, sebab berada di perbatasan paling utara di Indonesia dan berbatasan langsung dengan Filipina.
Bandara ini akan berfungsi sebagai sarana pertahanan dan keamanan. Serta sebagai sarana distribusi bahan pangan. “Dengan hadirnya pesawat komersial yang masuk ke daerah ini, diharapkan perekonomian masyarakat Pulau Miangas akan meningkat. Dengan dibangun bandara, harapannya infrastruktur lain seperti untuk pariwisata dan telekomunikasi akan marak. Investor juga mau melirik,” papar presentasi seorang Dirjen.
Dalam presentasi itu muncul harapan dengan pembangunan bandara ini maka distribusi logistik bisa dengan cepat sampai ke wilayah ini. Dengan demikian, bisa menekan harga jual barang dan jasa yang didistribusikan ke masyarakat.
Program pembangunan bandara di wilayah terpencil maupun perbatasan ini sesuai dengan semangat Nawacita dalam pemerintahan Joko Widodo. Selama 2015-2017 ada 15 bandara di daerah terluar, terdalam dan terisolasi yang dibangun pemerintah dengan total investasi Rp 200 miliar-Rp 300 miliar per bandar udara. Jadi, sudah ada langkah nyata dari pemerintah untuk membangun bandara di daerah perbatasan. Kita tunggu saja kemantapan langkah tersebut. B

Bagikan Berita

Comment

BERITA TERKAIT