by

Kecelakaan di Runway

Dalam dunia penerbangan, kecelakaan pesawat merupakan sesuatu yang tidak diharapkan atau harus dihindari tapi kadangkala tetap saja terjadi. Kecelakaan  terjadi  akibat dari tiga faktor yaitu kesalahan manusia (human error) seperti kesalahan dari pilot atau ATC (Air Traffic Controller), kesalahan teknis (technical error) seperti terdapatnya kerusakan pada mesin atau peralatan komunikasi pesawat yang tidak berfungsi dan faktor ketiga ialah kondisi cuaca buruk (Bad Weather) seperti pesawat tersambar petir, angin puting beliung, hingga badai. 
Sedangkan kecelakaan  di runway (Landasan Pacu) antara lain terjadinya tabrakan antar pesawat, pesawat menabrak hewan, kendaraan, orang yang berada di runway atau pesawat yang tergelincir dari runway setelah mendarat atau sebelum tinggal landas.
 Kecelakaan  di runway ada dua bagian yaitu Runway Excursion dan Runway Incursion. Runway Excursion ialah kecelakaan yang terjadi ketika pesawat melakukan pendaratan atau lepas landas tiba-tiba tergelincir dan keluar dari runway. Contohnya ialah ada lubang yang besar di ujung runway sehingga ketika roda pesawat melakukan “touch down” mengalami kerusakan seperti pecah ban atau tungkai roda patah. Hal  ini mengakibatkan pesawat tergelincir dan keluar dari runway. Selain lubang, kondisi runway yang licin juga dapat mengakibatkan pesawat tergelincir setelah mendarat yang akhirnya keluar dari runway. Ada juga kejadian di mana pesawat tidak berhasil mengangkat badannya untuk lepas landas karena beban muatan pesawat itu terlalu berat melebihi Maximum Take Off Weight (MTOW) dan akhirnya pesawat  melaju menuju ke daerah RESA (Reserve Emergency Safety Area) yang terletak di ujung landasan. 
Sedangkan Runway Incursion ialah adanya pesawat lain, kendaraan, orang atau hewan yang tiba-tiba berada di runway tanpa izin atau diluar sepengetahuan ATC/Tower tatkala ada pesawat yang mendarat atau tinggal landas. Faktor inilah yang menyebabkan kecelakaan di mana pesawat tidak bisa menghindari dari menabrak baik pesawat lain, kendaraan, orang maupun hewan tadi. Contoh kasus yang terjadi yaitu ada pesawat komersial yang sudah mendapatkan clearance untuk mendarat (clear to land) dari tower, tiba-tiba ada pesawat latih yang masuk runway dari taxiway untuk melakukan lepas landas. Oleh karena pesawat komersial itu tidak mungkin lagi melakukan overshoot (mengangkat pesawat untuk naik kembali) karena posisinya sudah terlalu rendah, maka terpaksa melakukan pendaratan di tengah runway yaitu depan pesawat latih yang sedang melakukan lepas landas. Karena panjang runway yang terbatas dan pesawat masih dalam kecepatan tinggi setelah mendarat, maka pesawat komersial itu tidak sempat mengerem untuk berputar ke taxiway sehingga melaju menuju daerah RESA dengan menabrak pagar pembatas. 
Ada juga kasus di mana pesawat menghindari dari menabrak orang di runway dengan  melakukan  overshoot tapi akhirnya malah menabrak gunung sehingga pesawat hancur berkeping-keping.
 Pada masa sekarang ini, kasus Runway Incursion yang sering terjadi dibandingkan  dengan Runway Excursion.
 Dapat Dihindari
  Runway Incursion sebenarnya dapat dihindari kalau betul-betul menerapkan petunjuk dari International Civil Aviation Organization (ICAO) di mana runway yang dioperasikan itu hanyalah untuk kepentingan penerbangan  dan disekelilingnya harus diberi pagar (fencing) dalam mengamankan pesawat baik yang Landing maupun Take Off. 
Runway yang merupakan jantungnya bandara harus dijaga situasi, kondisi dan pengamanannya dan ini merupakan tanggung jawab dari pihak bandara. 
Dalam kuliah saya pada Diklat Airport Manager di STPI Curug baru-baru ini, saya katakan bahwa tugas pertama yang harus dilakukan oleh seorang Kepala Bandara (Airport Manager) setiap pagi sebelum masuk kantor ialah melakukan inspeksi di runway bandaranya dengan mengecek kondisinya  apakah ada lubang yang bisa membahayakan pesawat, rambu-rambu yang rusak. Kalau  ada  lobang, maka harus segera dilakukan overlay atau menambalnya dan kalau perlu menutup sementara penggunaan runway. 
Selain itu, tugas kepala bandara mengecek kondisi pagar pembatas di sekeliling runway, apakah ada yang bolong yang bisa dimasuki hewan atau orang. Yang paling aman ialah dengan membangun pagar beton setinggi minimal 3 meter karena pagar yang terbuat dari kawat besi bisa saja dirusak dan dapat dimasuki oleh orang dan hewan besar seperti sapi, kambing dan anjing. Selain itu, harus ada pengawasan rutin dari unit Avsec (Aviation Security) terhadap kondisi di runway dan kawasan perimeter (kawasan batas bandara) dengan berpatroli setiap dua jam sekali serta mengecek  kondisi pagar pembatasnya.  
Selain pihak bandara, ATC juga memainkan peran penting agar tidak terjadi tabrakan terutama antar pesawat di landasan. Walaupun runway merupakan milik bandara, tapi otoritas pemakaiannya harus dengan seizin petugas ATC terhadap setiap pergerakan pesawat mulai dari Apron, Taxiway dan Runway. Pesawat udara itu sebenarnya diibaratkan orang buta yang harus dituntun dan ATC yang berwenang untuk menuntunnya mulai dari pesawat pushback dari Parking Stand, taxi di taxiway sampai dengan Take Off di runway. Begitu juga sebaliknya mulai dari landing di runway, taxi di taxiway sampai menuju Parkir Stand di apron.  
ATC  bertanggungjawab atas kecelakaan yang terjadi antar pesawat di runway seperti tabrakan akbar yang terjadi pada tanggal 27 Maret 1977 antara KLM 4805 dengan tipe Boeing 747 dengan Pan Am 1736 juga dengan tipe yang sama di Bandara Los Rodeos, Pulau Tenerife yang terletak di gugusan Pulau Canary. Sebenarnya pesawat KLM sudah melaju untuk tinggal landas, tapi tiba-tiba muncul Pan Am yang memotong  jalur landasan dari taxiway. Tabrakan maut pun tidak dapat dihindari dan kecelakaan ini memakan  korban  586 orang tewas dan kedua pesawat   hancur terbakar.  
Menjaga Kepatuhan
Kecelakaan di runway dapat dicegah kalau masing-masing pihak mematuhi Safety Rules And Regulation di runway baik oleh pihak bandara, ATC dan perusahaan penerbangan.
Pihak bandara harus rajin dalam mengecek situasi dan kondisi runway  serta pagar pembatas. Kalau perlu pihak bandara melalui ATS (Air Traffic Services) harus segera menerbitkan Notam (Notice To Airman) kalau ada masalah yang terjadi di runway yang menyebabkan landasan pacu untuk sementara ditutup. ATC sebagai otoritas penggunaan runway juga harus sering berkoordinasi dengan unit Avsec dalam mengawasi setiap kendaraan dan orang yang berada runway. 
Disamping itu, selain mengecek rambu-rambu di runway dengan berkoordinasi dengan Teknik Bangunan Dan Landasan, unit ATC harus secara rutin mengecek peralatan navigasi udara seperti radio komunikasinya agar komunikasi antara petugas ATC/Tower dengan pilot tetap jelas dan lancar. Dalam usaha untuk mencegah adanya kecelakaan, maka harus ada semacam Runway Safety Program yang disepakati bersama baik oleh pihak bandara, ATC dan juga perusahaan penerbangan guna untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan di runway.    

*Penulis adalah pengamat 

Operasi Bandara

Comment

BERITA TERKAIT