by

Dari Semen ke Papua

Keinginan Presiden Joko Widodo terhitung sederhana, tetapi cukup rumit untuk diwujudkan. Kepala Negara ingin harga semen di Papua tidak berbeda jauh dengan Pulau Jawa. Jika di Jawa sekitar Rp 50.000 per zak, Presiden berharap di Papua bisa Rp 70.000.
Harapan Presiden yang disampaikan pada peringatan HUT ke- 44 PDI-Perjuangan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (10/1/2017), merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah. Butuh kerja keras lintas sektoral.
Mengapa lintas sektoral? Jika dilihat kenyataan di lapangan, harga semen yang sangat mahal dipengaruhi banyak hal. Sekadar gambaran harga semen di Papua, Presiden memberi contoh di  Kabupaten Puncak Rp 800.000-Rp 2,5 juta per zak. Ketika Tim Majalah Bandara berkunjung ke Manggelum, Boven Digoel, pada akhir tahun lalu, harga semen mendekati Rp 1 juta per zak. Wajar jika mahal, mengingat untuk bisa ke daerah terisolir itu semen harus diangkut longboat (perahu kayu berbentuk panjang ) dari Tanah Merah. Butuh dua hari satu malam untuk mengirim semen tersebut.
Jadi pemicu semen mahal adalah persoalan transportasi. Solusi dari persoalan ini adalah kerja sama lintas sektoral yang mengabaikan ego masing-masing. Termasuk di sini adalah Kementerian Perhubungan, khususnya Ditjen Perhubungan Udara. Kontribusi utama dari Kemenhub berupa komitmen pembangunan bandara di daerah terpencil di Papua.
Pemerintah berupaya menurunkan harga distribusi barang. Salah satunya dengan membangun infrastruktur bandara di wilayah terisolir di Papua. Saat ini untuk membuka daerah terisolir di Papua  telah dibangun 34 bandara. “Ini sudah masuk ke dalam tatanan bandar udara,” kata Direktur Bandara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Yudhi Sari Sitompul di Kemenhub, Jakarta, Selasa (10/1/2017).
Adapun 34 bandara di daerah isolasi itu ada di wilayah Mopah, Kamur, Kimam, Bomakia, Manggelum, Wamena, Kiwirok, Bilorai, Akimuga, Enarotali, Sarmi, Tanah Merah, Mulia, Oksibil, Moanamani, Mindiptanah, Kepi, Kokonao, Okaba, Illu, Ewer, Batom, Bade, Karubaga, Obano, Timika, Waghete, Nabire, Dekai, Rendani, Bintuni, Kaimana, Babo. Dari 34 bandara tersebut, sebanyak 10 bandara berada di perbatasan, yaitu Sentani, Mopah, Manggelum, Enarotali, Sarmi, Tanah Merah, Oksibil, Okaba, Karubaga, Kebar. Pembangunan tersebut berguna untuk pemerataan pembangunan dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Keberadaan bandara memang bukan mutlak menurunkan harga semen sampai angka ideal sebagai mana diharapkan oleh Presiden Joko Widodo. Tetapi setidaknya kehadiran bandara menjadi pintu gerbang para investor. Mereka inilah yang menggerakkan ekonomi daerah, sehingga infrastruktur pun pelan-pelan terpenuhi. Tanpa pergerakan ekonomi akan sulit untuk mempercepat pembangunan infrastruktur tersebut. Kenyataannya keduanya memang beriringan.
Kita berharap pembangunan bandara di Papua (baik di provinsi Papua maupun Papua Barat) menjadi pionir perekonomian. Suatu saat harga semen di sana bisa sama dengan di Pulau Jawa. Jika harga semen tidak lagi mahal, harga produk lain pun tidak mahal pula. (tis)

Comment

BERITA TERKAIT