Pemda Kabupaten Muna : Mempersiapkan Diri Menyambut Kapal Layar dari 15 Negara

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Dok Pemda Kab Muna on . Posted in Destination

Usaha Bupati Muna Rusman Emba dalam mempromosikan destinasi wisata di wilayahnya mulai menunjukkan hasil positif. Hal ini ditunjukkan dengan mulai berdatangan wisatawan mancanegara. Misalnya, beberapa waktu lalu wisatawan asal Amerika Serikat dan Tunisia mengunjungi Pantai Meleura, Danau Napabale dan gua prasejarah Liang Kobori di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna.
“Keindahan Pantai Meleura tidak kalah dengan Raja Ampat,” begitu pengakuan seorang turis Amerika. Ia pernah berkunjung ke Raja Ampat.
Menurutnya, Pantai Meleura ia ketahui dari instagram. Ia tertarik, apalagi ada foto-foto gua prasejarah yang dianggapnya  sangat unik dan memikat. Mereka ingin melihat dari dekat. Gua unik yang mereka maksud adalah Liang Kobori.
Di Liang Kobori, gambar cadas prasejarahnya indah, memiliki simbol, dan kaya akan makna narasi. Gambar itu diapresiasi secara luas dan berharga bagi ilmu pengetahuan. Tema yang paling khusus di Liang Kobori adalah gambar perahu dengan layarnya memberi kesan  budaya maritim.
Secara keseluruhan bahwa gambar cadas memberikan informasi tentang manusia dan aktivitasnya di masa lalu. Maka dari itu banyak yang menyebutnya  kompleks gua prasejarah di Kabupaten Muna adalah perpustakaan alam dan laksana galeri alam yang menandakan jejak keberadaan suatu peradaban serta mencerminkan ekspresi konsep dan pikiran manusia pembuatnya.
Itulah Liang Kobori yang disenangi para turis tadi. Para wisman itu disambut resmi oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Muna. Mereka disambut dengan pengalungan kain tenun khas daerah kabupaten kepada salah seorang pimpinan rombongan.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna Dahlan Kalega mengatakan bahwa kehadiran wisatawan mancanegara  terus digalakkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Muna di bawah kepemimpinan Rusman Emba dan H.  Abdul Malik Ditu yang mempunyai visi pengembangan pariwisata sebagai prioritas utama.
Pemda juga berusaha menghadirkan wisatawan sebanyak-banyaknya guna mendukung program pemerintah  dimana oleh Presiden Joko Widodo ditargetkan mendatangkan  20 juta wisatawan ke Indonesia.
Dalam rangka mencapai target ini Pemda Kabupaten Muna terus melakukan promosi dan pembenahan infrastruktur di beberapa destinasi wisata sehingga akan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Muna.  Adapun infrastruktur yang mulai digalakkan adalah pembangunan amenitas di beberapa destinasi wisata seperti destinasi wisata bahari Pantai Meleura di Desa Wabintingi Kecamatan Lohia dan destinasi wisata Bungin Pinungan berupa pasir putih di Desa Lakarama Kecamatan Towea,  serta destinasi wisata gua prasejarah dan destinasi wisata buatan Puncak Wakila.  
Survei Titik Labuh
Hal spektakuler yang akan terjadi di Kabupaten Muna adalah rencana kedatangan kapal layar dari 15 negara dalam rangka Wonderful Sail to Indonesia Rally. Bupati Muna telah menghadirkan ketua tim Sail Wonderful to Indonesia yaitu Remon lesmana dari Kementerian Pariwisata. Tim ini telah melakukan survei persiapan kapal layar dari 15 negara tersebut.
Para wisatawan dari 15 negara tersebut direncanakan akan dibawa ke  tempat-tempat yang bernilai sejarah di beberapa gua yang baru saja ditemukan dan benteng-benteng yang mempunyai nilai sejarah. Gua itu antara lain Gua Seribu Nisan di Meleura dan Benteng Liamopute di Kecamatan Tongkuno serta Gua Lamburaya di Kecamatan Parigi serta Benteng Loji di Kecamatan Lohia.
Bupati Muna mengatakan benteng dan gua yang baru ditemukan merupakan wujud dari niat dan usahanya untuk  mengembangkan pariwisata di Kabupaten Muna.  Benteng dan gua tersebut memang sudah lama ada tetapi pemerintahan sebelumnya kurang peduli dengan perkembangan pariwisata. Akibatnya gua dan benteng itu hanya diketahui oleh kalangan tertentu yang berada di sekitar gua dan benteng tersebut.  
Lain halnya dengan Bupati Rusman. Begitu mendapat informasi tentang situs yang baru maka Bupati Muna berusaha mencari keberadaan gua dan benteng tersebut. Tak kenal waktu, siang dan malam terus berjalan bahkan  mendaki gunung maupun melintasi hutan belantara untuk mengetahui keberadaan gua atau benteng tersebut. Bupati bertekad untuk mempromosikan gua dan benteng yang ditemukan sebagai destinasi wisata prasejarah yang akan dikembangkan.
Bupati Muna juga sangat memperhatikan infrastruktur dan sarana pariwisata. Misalnya di Liang Kobori disiapkan 10 ekor kuda guna memudahkan wisatawan yang berkunjung ke gua tersebut. Kuda-kuda itu dikelola oleh masyarakat setempat.
Liang Kobori juga kerap didatangi tim untuk studi banding. Misalnya peserta Diklat PIM II yang mempelajari cara Kabupaten Muna mengembangkan destinasi wisata. B

Menpar Arief Yahya : Nomadic Tourism Solusi Sementara untuk Selamanya!

Ditulis oleh Teks : Rizki Indriyanah, Release Kemenpar, Foto Istimewa on . Posted in Destination

NUSA DUA— Selain Destinasi Digital, ada hal baru yang bakal dilambungkan Menpar Arief Yahya di ajang Rakornas Pariwisata I/2018 di Nusa Dua Bali, 22-23 Maret 2018. Yakni Nomadic Tourism, amenitas yang bisa berpindah-pindah. Mantan Dirut PT Telkom ini sangat yakin dengan dua konsep ini di Indonesia semakin mendunia.
Rakornas Zaman Now di Bali Nusa Dua Convention Center, 22-23 Maret ini, akan menggali Nomadic Tourism lebih dalam. Hal itu disampaikan PIC Program Nomadic Tourism, Waizly Darwin, Rabu (21/3). Menurutnya, secara umum tema bahasan akan difokuskan kepada nomadic aksesibilitas dan nomadic amenitas.
“Secara garis besar ada dua sesi pembahasan. Fokus utama terkait aksesibilitas dan amenitasnya, meski nanti juga akan disinggung atraksinya. Intinya semua elemen itu harus ramah bagi para pengembara dunia,” ungkap Waizly yang juga Tenaga Ahli Bidang Digital Marketing Kemenpar ini.
Mengenai aksesibilitas, Nomadic Tourism menginginkan konsep yang simpel. Artinya para wisatawan bisa lebih cepat bisa sampai ke destinasi. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, aksesibilitas yang tepat adalah seaplane, helicopter city, dan lifeboat dinilai paling efektif. Dengan jumlah 17 ribu pulau, Indonesia pun membutuhkan lebih banyak seaplane.
“Untuk aksesibilitas, dibutuhkan solusi yang sesuai. Aksesibilitas fokus ke kondisi sekarang yang sedang tren. Kebutuhan ini harus dikejar karena pengembara dunia suka akses yang simpel. Ketiga moda itu sangat mengakomodir. Jumlah seaplane harus ditambah karena saat ini jumlahnya hanya puluhan. Momentumnya pas, pemerintah banyak lakukan deregulasi,” terang Waizly.
Selain aksesibilitas, nomadic amenitas juga harus wow. Amenitas yang disiapkan juga harus sesuai selera para pengembara dunia jaman now ini. Ada beberapa treatment untuk nomadic amenitas ini seperti glamping camp, caravan, juga homepods.
Weizly menerangkan, nomadic tourism secara umum harus memberikan sensasi baru bagi para pengembara dunia jaman now ini.
“Para pengembara dunia ini suka kejutan. Harus ada sesuatu yang baru agar dicermati. Fokuskan semua dari kebutuhan customer. Sebab, atraksi di Indonesia itu luar biasa,” ujarnya lagi.
Dijelaskannya aksesibilitas dan amenitas nomadic tourism untuk sementara akan difokuskan untuk 10 Destinasi Prioritas atau Bali Baru. Ada 4 destinasi yang dijadikan pilot project. Yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, juga Borobudur.
“Sementara Nomadic Tourism difokuskan di 4 destinasi Bali Baru tersebut.  Semua akan diupayakan di sana. Harapannya, ini bisa ditiru oleh destinasi lainnya,” katanya lagi.
Aksesibilitas dan amenitas kekinian memang diperlukan untuk mendukung atraksi. Terlebih, destinasi pariwisata Indonesia unggul secara nature, culture, juga manmade.
Nomadlist.com bahkan menempatkan Canggu (Bali) sebagai destinasi nomor satu dunia. Nomadlist.com juga memasukan Ubud di urutan 6, Denpasar nomor 14, dan Yogyakarta pada strip 74 dunia.
 “Atraksi pun idealnya sesuai dengan selera mereka. Indonesia bagus di semua lini atraksi. Indonesia nomor satu dunia untuk digital nomad. Kondisi ini tentu jadi potensi besar yang harus dioptimalkan dengan dukungan aksesibilitas dan amenitas. Sebab, jumlah pengembara dunia sangat besar,” ujar Waizly lagi.
Yang harus diketahui, jumlah backpacker jaman now di dunia mencapai 39,7 juta orang. Mereka pun terbagi dalam 3 kelompok besar. Yaitu Flashpacker atau digital nomad memiliki potensi sekitar 5 juta orang. Mereka menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja.
Kelompok lainnya adalah Glampacker atau familiar sebagai milenial nomad. Glampacker ini jumlahnya 27 juta orang di dunia. Mereka mengembara diberbagai destinasi dunia yang instagramable.
Kelompok pengembara dunia lainnya adalah Luxpacker atau Luxurious nomad. Kaum luxpacker ini berjumlah 7,7 juta orang. Mereka mengembara untuk melupakan hiruk pikuk aktivitas dunia.
“Kesimpulannya adalah, kita harus tau apa yang mereka mau. Kesemua elemen ini harus dipelajari. Perilaku para pengembara ini seperti apa, itu juga harus diketahui. Bahkan, destinasinya seperti apa yang mereka mau juga harus dipetakan. Semua akan dibedah satu per satu di Rakornas,“ tegasnya.
Menteri Pariwisata Arief Yahya Digital Destination and Nomadic Tourism ini bakal booming. Akan heboh di mana-mana, baik di media sosial maupun di offline. Karena pas dengan kebutuhan yang dicari anak-anak muda.
“Kalau Destinasi Digital itu positioning-nya adalah esteem economy, diferensiasi-nya destinasi instagramable, branding-nya destinasi zaman now, maka nomadic tourism ini adalah solusi sementara untuk selamanya!” jelas Arief Yahya.
Sama seperti kartu pra bayar, awalnya adalah “kecelakaan”. Diciptakan prabayar agar mudah, murah, dan escape nya gampang. Tidak membebani customer dengan harga mahal. Tetapi dalam perkembangannya, justru mereka inilah yang lebih dominan, lebih besar dan lebih dari 90% customers memilih prabayar.
“Itulah yang saya sebut solusi sementara, yang akhirnya permanen dan menjadi solusi selamanya! Nomadic Tourism juga, awalnya kita pikirkan untuk sementara, karena atraksi di destinasi kita terlalu banyak yang cantik, sementara akses dan amenitasnya belum terjangkau. Nomadic adalah solusi sementara untuk membuat semua destinasi cantik itu bisa hidup dan berkembang,” kata Arief Yahya.
“Para pelaku industri pariwisata silakan ikut mendorong konsep ini. Sebab, Nomadic Tourism ini paling cepat, paling cocok dan juga instagramable. Tidak butuh waktu lama, hanya fokus di dua aspek itu karena atraksinya sudah sangat siap,“ pungkasnya. (*). B

Pemda & Bandara Bersinergi Mendukung Pariwisata Gorontalo

Ditulis oleh Teks Yoyoh Sulastri, Foto Riska Rahayu, Pemda Gorontalo on . Posted in Destination

Provinsi Gorontalo resmi menjadi provinsi baru berpisah dengan Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 5 Desember 2000 melalui UU Nomor 38 Tahun 2000,  kini Gorontalo lebih maju dan tertata lebih baik. Apalagi kini Provinsi Gorontalo memiliki Gubernur yang berpengalaman 2 periode, yaitu Gubernur Rusli Habibie bersama Wakil Gubernur Idris Rahim telah memimpin Gorontalo pada periode I (2012 - 2017) dan berlanjut pada periode II (2017-2022). Dengan visi “Terwujudnya Masyarakat Gorontalo yang Unggul, Maju dan Sejahtera “ dan spirit untuk mensejajarkan Gorontalo dengan daerah lain yang lebih dahulu berkembang, maka pemerintahan Rusli Habibie dan Idris Rahim menyusun 8 program strategis yaitu pendidikan berkualitas, kesehatan prima, infrastruktur yang merata, ekonomi yang meningkat, pemerintah melayani, agama dan budaya, pariwisata yang mendunia, serta lingkungan yang lestari.
Untuk mendukung program unggulan pariwisata yang mendunia, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo Jamal Nganro mengemukakan bahwa Provinsi Gorontalo memiliki potensi pariwisata yang cukup besar dan tidak kalah dengan destinasi wisata nasional lainnya. Data minat kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia menunjukkan bahwa minat wisatawan berkunjung pada wisata alam dan bahari sebanyak 35%, pada wisata budaya dan sejarah sebanyak 60%, serta pada wisata buatan sebanyak 5%. Dengan memperhatikan data tersebut, Gorontalo yang sangat populer sebagai daerah budaya memiliki peluang sangat besar karena selain potensi wisatanya, letaknya juga sangat strategis, diapit oleh Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah serta berhadapan langsung dengan negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia. Gorontalo sendiri memiliki banyak destinasi wisata alam dan bahari yang terkenal yaitu Pulo Cinta, Pulau Saronde, Taman Laut Olele, Hiu Paus di Botubarani, Pemandian Lombongo, Pentadio Resort, Pohon Cinta dan Hutan Nantu serta Danau Limboto. Sedangkan destinasi wisata sejarah dan budaya yang dimiliki Gorontalo antara lain adalah Masjid Kubah Emas di Bubohu, Benteng Otanaha, Museum Pendaratan Soekarno, Desa Torosiaje dan lain sebagainya. “Dengan potensi wisata tersebut, diharapkan sektor pariwisata dapat menjadi primadona baru yang berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Gorontalo, yang selama ini bertumpu pada sektor pertanian yaitu sebesar ±38%,” katanya.
Kadishub juga menambahkan, Pemda Gorontalo saling bersinergi dengan pihak Bandara untuk mendukung kemajuan pariwisata dengan mendorong pengembangan bandara Djalaluddin sebagai bandara Internasional alternatif dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado dan mendorong maskapai penerbangan untuk membuka rute baru dan menambah frekuensi penerbangan. Pemda juga melakukan pembebasan lahan untuk pengembangan bandara serta melakukan review masterplan Bandara Djalaluddin pada tahun 2018 untuk mendukung Bandara Djalaluddin menjadi Bandara Internasional.  “Hasil kerja keras antara Pemda dan bandara yang saling bersinergi kini sudah terlihat, salah satunya adalah movement pesawat di bandara ini yang meningkat menjadi 24 kali dalam sehari sejak diresmikannya terminal baru dimana sebelumnya hanya 14 kali dalam sehari ” pungkasnya.
Pemda juga bertujuan menjadikan Bandara Djalaluddin sebagai bandara embarkasi haji penuh karena Bandara Djalaluddin telah melaksanakan Embarkasi Haji Antara (EHA) selama 10 tahun berturut-turut dan pada tahun 2017 berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Agama RI sebagai penyelenggara EHA terbaik I.
Selain menggenjot perkembangan Bandara Djalaluddin, Pemda Gorontalo juga saat ini sedang mendorong pembangunan bandara baru, yaitu Bandara Pohuwato di Kabupaten Pohuwato. “Selain bandara baru di Kabupaten Pohuwato, ada lima pelabuhan yang sedang kami kembangkan, yaitu Pelabuhan Pengumpul Nasional Anggrek yang fokus pada angkutan barang untuk kegiatan ekspor dan import dan Pelabuhan Gorontalo yang merupakan pelabuhan pengumpul dan pendistribusi di kawasan Teluk Temini. Tiga pelabuhan lainnya adalah Pelabuhan Kwandang, Pelabuhan Tilamuta dan Pelabuhan Bumbulan,” jelas Jamal. B

Festival Barata Kulisusu 2018 : Wisata Buton Utara Dipacu

Ditulis oleh Teks Erwin Nurdin, Foto Buton Utara on . Posted in Destination

Pemerintah Kabupaten Buton Utara berupaya mengenalkan destinasi wisata. Upaya ini merupakan komitmen untuk mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan di daerah itu.
     Bupati Buton Utara Abu Hasan mengatakan dua kampung wisata dibangun untuk menarik wisatawan berkunjung ke daerah tersebut. “Dua kampung wisata adalah Desa Mandala dan Desa Nanua Jaya terletak di Kecamatan Kulisusu,” katanya.
Ia mengatakan alasan memilih tempat itu sebagai kampung wisata karena panorama alamnya yang indah. Salah satu pendukung panorama alamnya adalah terdapat ratusan hektare hutan mangrove di kawasan itu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Butur Harlin Hari mengatakan Buton Utara (Butur ) adalah salah satu daerah yang memiliki kawasan hutan mangrove terluas di Sultra. Untuk itu, dalam waktu dekat, pihaknya akan mencoba mempromosikan wisata bahari yang ada di utara Pulau Buton ini.
“Dalam waktu dekat kita akan adakan promosi pariwisata dan kebudayaan. Namanya promosi pariwisata Buton Utara,” ungkap Harlin.
Salah satu promosi dimaksud antara lain Festival Barata Kulisusu 2018. Berdasarkan agenda Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara festival akan berlangsung November 2018.
Kulisusu/Kolencusu/Kalingsusu merupakan salah satu dari empat benteng pertahanan Barata Patapalena (cadik penjaga keseimbangan perahu negara) pada masa Kesultanan Buton. Barata Kulisusu bersama-sama dengan Barata Muna, Barata Tiworo dan Barata Kaledupa merupakan pintu-pintu pertama pertahanan sebelum musuh masuk ke dalam wilayah pusat kekuasaan di Bau-Bau. “Nilai sejarah itu yang akan ditampilkan lewat festival,” kata Harlin. B

Ajang Promosi : Festival Pantai Meleura Dan Festival Liangkabori

Ditulis oleh Teks dan Foto Kab Muna on . Posted in Destination

Kabupaten Muna di Sulawesi Tenggara menyimpan sejuta pesona.  Dengan destinasi yang  tersedia berpeluang untuk menjaring rupiah melalui pendapatan daerah maupun devisa yang dibawa oleh wisatawan.
Untuk menggaet pendapatan pemerintah daerah Kabupaten Muna terus menggenjot promosi agar wisatawan datang.  
Sukses dengan pelaksanaan Festival Pantai Meleura akhir Desember 2017,  kini mulai digagas Festival Gua Prasejarah Liangkabori yang di jadwal pada bulan April 2018 nanti.
Bupati Muna LM Rusman Emba  dengan semangat mempromosikan dan membangun infrastruktur pariwisata Kabupaten Muna, mengatakan bahwa Festival Liangkabori merupakan ajang mempromosikan destinasi wisata gua prasejarah Kabupaten Muna karena Gua Liangkabori merupakan gua prasejarah yang memiliki keindahan dan eksotik dan mempunyai ciri tersendiri karena merupakan gua ditemukannya layang layang tertua di dunia.
Untuk mendukung pelaksanaan festival dimaksud, kami mulai melakukan survey dengan melibatkan peneliti dan ahli gua dari Perancis.
Selain potensi gua prasejarah yang dimiliki Kabupten Muna, maka pada festival nanti merupakan ajang mempromosikan berbagai destinasi wisata yang ada di Kabupaten Muna seperti destinasi wisata bahari dan wisata budaya, wisata alam dan wisata kuliner yang terus dipersiapkan. Semua potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Muna akan diperkenalkan  pada setiap pelaksanaan event sehingga event ini akan merupakan event tahunan yang telah dikoordinasikan kepada Kementerian Pariwisata RI.
Sembari melakukan pembenahan infrastruktur secara terus menerus oleh Bupati Muna, maka tidak tanggung-tanggung  maskapai Garuda Indonesia yang selama ini hanya melakukan penerbangan tiga kali seminggu, kini telah menambah waktu penerbangan menjadi empat kali seminggu dari Makassar ke Muna .
Selain itu Wings Air yang setiap harinya melakukan penerbangan dari Makassar ke Muna (pp).  Hal ini tidak lain merupakan usaha Bupati Muna yang ingin memudahkan menjual destinasi wisata yg ada di Kabupaten Muna serta membuka peluang kepada wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yg akan ke Kabupaten Muna. Demikian ditambahkan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna H. Dahlan Kalega.  
Adapun destinasi wisata yang sudah siap untuk dijual antara lain destinasi wisata Pantai Meleura, destinasi wisata Pasir Putih Towea serta Napabale dan Pasir Putih Munante, demikian juga gua prasejarah Liangkabori dan Gua Lamburaya yang semuanya mempunyai keunikan dan nilai sejarah tersendiri sehingga akan menjadi daya tarik wisatawan mancanegara yang akan berkunjung.  
Kehidupan manusia masa lalu tergambar dari gambar- gambar yang ada di dinding gua Liangkabori, Gua Lamburaya di desa Laiba Kecamatan Parigi dan gua-gua lain seperti Gua Kanulemba di daerah Liangkabori, Gua Lawou di Walengkabola, Gua Kamonu, Gua Laghontoge dan Gua Seribu Bintang yang berada di Kecamatan Tongkuno yang merupakan hasil temuan dari tim peniliti gua yang berasal dari Prancis baru baru ini di Kabupaten Muna. Sementara destinasi wisata Pasir Putih Towea yang berada di desa Lakarama Kecamatan Towea mempunyai panjang dan luas kurang lebih 4 km memiliki keindahan karena pasirnya berwarna kekuning-kuningan bila disinari matahari seperti emas, sehingga oleh Bupati Muna memberi nama Pasir Emas.
 Sedang Pantai Meleura adalah pantai air asin yg dikelilingi tebing-tebing dan pulau-pulau kecil, kalau diperhatikan akan melebihi Raja Ampat.  Destinasi wisata bahari lainnya adalah Pulau Munante yang terletak di Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Muna dan Air Terjun Kalima lima serta Pantai Walengkabola,  yang kesemuanya mempunyai keindahan tersendir,i sehingga semua destinasi tersebut menjadi perhatian LM Rusman Emba dalam mengembangkan destinasi wisata di Kabupaten Muna.
Pengembanngan infrastruktur terus dilakukan dengan mempromosikan destinasi wisata diberbagai kelembagaan termasuk di Kementerian Pariwisata, tidak lain hanya ingin mendapatkan dukungan pembiayaan karena dengan kemampuan APBD tidak mencukupi.
Semangat ini Insya Allah akan berbuah hasil karena dengan pelaksanaan event-event yang dilaksanakan di Kabupaten Muna, akan merupakan ajang dapat dibiayainnya berbagai pembangunan infrastruktur destinasi wisata yg digalakkan oleh Bupati Muna. B