Benchmarking

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Erwin Nurdin on . Posted in International

Mengukur kinerja tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi butuh pembanding agar tahu sejauh mana yang telah dicapai. Setidaknya seberapa capaian antara rencana dan aktual. Adakah rencana yang kurang direalisasikan?  Adakah yang perlu dibenahi? Adakah yang juga perlu dikurangi? Sudahkah puas atas proses yang berjalan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan macam itu diperlukan beberapa langkah. Salah satu langkah disebut benchmarking. Pengertian benchmarking adalah suatu proses yang biasa digunakan dalam manajemen atau umumnya manajemen strategis, di mana suatu unit/bagian/organisasi mengukur dan membandingkan kinerjanya terhadap aktifitas atau kegiatan serupa  unit/bagian/organisasi lain yang sejenis baik secara internal maupun eksternal.
 Dari hasil benchmarking, suatu organisasi dapat memperoleh gambaran dalam (insight) mengenai kondisi kinerja organisasi sehingga dapat mengadopsi best practice  untuk meraih sasaran yang diinginkan.
Salah satu metode yang paling  banyak diadopsi oleh organisasi adalah metode 12, yang diperkenalkan oleh Robert Camp, dalam bukunya  “The search for industry best practices that lead to superior performance” (1989). Langkah metode 12 terlalu luas untuk dijabarkan. Namun salah satunya adalah kunjungi ’best practice’ perusahaan, dimana hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi area kunci praktek usaha. Beberapa perusahaan biasanya rela bertukar informasi dalam suatu konsorsium dan membagi hasilnya di dalam konsorsium tersebut.
Memahami urgensi benchmarking maka Majalah Bandara memberikan apresiasi benchmarking kepada para pemenang Bandara Award 2017. Tidak main-main benchmark pilihan kali ini. Para penyelenggara bandara diajak berkunjung ke Terminal 4 Bandara Changi di Singapura.
Terminal 4 yang relatif baru ini banyak menuai pujian media internasional. Terminal ini memilki fasilitas super mewah dengan beragam fasilitas yang memanjakan penumpang. Misalnya di terminal ini tak perlu repot check in karena sudah tersedia alat otomatis yang memudahkan proses check ini, system Fast and Seamless Travel (FAST).
Fasilitas lainnya, 65 kios check-in otomatis, 50 mesin drop tas otomatis, 80 toko, kedai makanan yummy. Termasuk minum cocktail gratis setelah melewati imigrasi dan tak kalah pentingnya, di terminal baru ini banyak menjumpai spot keren untuk berfoto.
Diharapkan, pengalaman benchmark bisa menjadi inspirasi berharga untuk diterapkan di masing-masing bandara. Tentu saja dengan kemampuan finansial yang ada.
Sejatinya benchmark bukan menyontek, tetapi membandingkan keberadaan suatu proses di satu pihak dengan pihak lain yang melakukan proses yang sama. Hasil analisa yang diperoleh digunakan sebagai alat untuk melakukan perbaikan sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Mudah-mudahan di lain kesempatan akan lebih banyak melakukan benchmark, pasti banyak perubahan positif yang bisa diterapkan di bandara-bandara Tanah Air. (*/B)