3S + 1 C

Ditulis oleh Zainal Arifin on . Posted in airport-services

Pertengahan bulan Mei ini memasuki Ramadhan. Masyarakat pun mulai mempersiapkan mudik. Ada yang ingin menggunakan mobil pribadi sembari menikmati bentangan jalan tol baru. Ada pula yang memilih transportasi udara karena perhitungan waktu tempuh. Ditjen Perhubungan Udara memprediksikan jumlah penumpang pesawat 5,87 juta orang pada mudik tahun ini.
     Rincian yang disampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan adalah penumpang pesawat udara pada Lebaran 2018 ini akan naik 10,78 persen. Prediksi pada  periode H-7 sampai H+7 mencapai 5.870.823 penumpang. Terdiri dari penumpang domestik sebanyak 5.001.286 penumpang, dan untuk internasional 869.537 penumpang. Jumlah ini meningkat dibanding Lebaran 2017 dimana total penumpang pesawat udara  5.299.513 orang, yaitu domestik sebanyak 4.578.204 penumpang dan 721.309 penumpang internasional.
Terkait kenaikan jumlah penumpang itu, selayaknya memperhatikan pernyataan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso yang terdiri dari beberapa point. Pertama,  masyarakat tidak perlu cemas karena kapasitas tempat duduk pesawat yang disediakan dalam kurun waktu dua minggu tersebut melebihi jumlah prediksi dari kenaikan total penumpang.
Menurut Dirjen Agus, maskapai menambah lima persen jumlah kursi dari total penerbangan reguler domestik dan internasional. Untuk penerbangan reguler domestik, kapasitas tempat duduk yang disediakan sebanyak 5.996.342 kursi. Sedangkan untuk penerbangan internasional kapasitas tempat duduk yang disediakan sebanyak 1.212.670 kursi. Kapasitas tempat duduk tersebut akan dilayani oleh 541 pesawat dari maskapai nasional dan internasional yang beroperasi di Indonesia.
Kedua, terkait dengan keselamatan dan keamanan penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan melakukan ramp check terhadap semua pesawat dan personil yang akan melayani penerbangan Lebaran tahun ini. Persiapan ramp check dilaksanakan 30 April sampai 12 Mei 2018. Sedangkan kegiatan ramp check periode Lebaran akan dilakukan tanggal 7 sampai 24 Juni 2018.
Ketiga,  Dirjen mengingatkan kembali para operator di bidang penerbangan untuk mematuhi prinsip 3S+1C dalam penerbangan yaitu Safety, Security, Services dan Compliance (kepatuhan pada aturan yang berlaku). Operator penerbangan, baik itu maskapai, pengelola bandara, groundhandling dan pengelola navigasi penerbangan, diharapkan meningkatkan 3S +1C tersebut. Prinsip ini penting mengingat extra flight  dilaksanakan di luar waktu-waktu penerbangan yang normal di masing-masing bandara.
Namun, urusan 3S + 1C ini bukanlah hal baru bagi operator penerbangan. Sebab mereka ini punya komitmen untuk mewujudkan  pemenuhan standar keselamatan, keamanan, dan pelayanan penerbangan. Keamanan dan keselamatan penerbangan adalah suatu kondisi untuk mewujudkan penerbangan dilaksanakan secara aman dan selamat sesuai dengan rencana penerbangan.
Pendek kalimat, 3S  + 1C adalah mutlak. Pengelola bandara sudah memahami keamanan dan keselamatan penerbangan harus dibangun oleh semua pihak. Keselamatan penerbangan adalah milik bersama oleh sebab itu semua pihak berkomitmen untuk membangun dan meningkatkan safety performance-nya. (*/B)

Bagian Keuangan dan BMN Dirjen Hubud : Monitoring Berbasis Aplikasi

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in airport-services

Senin, 19 Maret 2018, bagian Keuangan dan Barang Milik Negara (BMN) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyelenggarakan Pembinaan Penyelenggaraan dan Monitoring Pengelolaan Anggaran TA. 2018 di Swiss-Bellin Kemayoran, Jakarta.
Kepala  Bagian Keuangan dan Barang Milik Negara Safruddin mengemukakan, bahwa diselenggarakannya acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan anggaran Perhubungan Udara tahun 2018. “Pembinaan ini untuk melakukan percepatan pelaksanaan anggaran yang dimulai dari pelelangan hingga realisasi anggaran. Lelang tidak hanya bisa dilakukan setelah keluar dipa, tapi juga sebelum keluar dipa sudah bisa melakukan lelang tidak mengikat. Jika anggarannya tidak keluar, maka lelang dihentikan,” katanya.
Safruddin juga menambahkan, selain meningkatkan kualitas pengelolaan anggaran, acara yang diselenggarakan pada tanggal 19 – 22 Maret 2018 itu juga bertujuan untuk memberikan pengarahan dalam melakukan monitoring anggaran melalui E-Monitoring berbasis aplikasi. “Dengan menggunakan system yang berbasis aplikasi, tentu monitoring anggaran pun menjadi lebih mudah. Karena dalam aplikasi tersebut sudah terdapat berbagai program kegiatan bandara tersebut, baik pengadaan barang maupun pengembangan bandara,” ujarnya.
Acara yang diikuti oleh 172 KPA, PPK dan operator monitoring itu dibagi menjadi dua tahap, yakni tahap pertama yang diselenggarakan pada 18 – 20 Maret 2018 dan pesertanya adalah satker yang berada di wilayah barat. Sedangkan tahap kedua diselenggarakan pada 20 – 22 Maret 2018 dan pesertanya adalah satker yang berada di wilayah timur. “Kabandara itu otomatis menjadi KPA. Di Indonesia terdapat 172 satker dan setiap KPA memiliki operator monitoring,” tutupnya. B

S A N K S I

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengeluarkan pernyataan tegas. Menhub tidak segan-segan akan memberikan sanksi kepada para kontraktor yang lalai. Baik lalai dalam mengerjakan proyek maupun lalai menjaga keselamatan para pekerjanya.
Tentu saja sanksi itu lebih ditujukan kepada para kontraktor yang mengerjakan sejumlah proyek di lingkungan Kementerian Perhubungan. Tentu pula Menhub tidak akan gegabah dalam memberikan  sanksi dimaksud. Ada prosedur untuk sampai menjatuhkan sanksi tersebut.
Apa yang ditegaskan Menhub itu sejalan dengan kebijakan kementerian lain. Pemerintah memastikan akan memberi sanksi yang tegas kepada kontraktor yang terbukti lalai dalam menerapkan keselamatan kerja pada pekerjanya sehingga menyebabkan terjadinya korban jiwa.
Sanksi yang dimaksud tertuang dalam UU Jasa Konstruksi. Pasal 96 UU Jasa Konstruksi menyebutkan bahwa setiap penyedia jasa dan/atau pengguna Jasa yang tidak memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi dapat dikenai sanksi administratif berupa peringatan tertulis, denda administratif, penghentian sementara konstruksi/ kegiatan layanan jasa, pencantuman dalam daftar hitam, pembekuan izin, dan/atau  pencabutan izin.
Ketegasan pemerintah ini tak lepas dari permintaan berbagai pihak, menyusul beberapa peristiwa yang menimpa para pekerja kontruksi. Betapa ironis, para pekerja dengan upah pas-pasan itu meregang nyawa karena kelalaian kontraktornya. Impian masa depan mereka ikut terkubur. Keluarga yang ditinggalkan menerka kehidupan mereka selanjutnya.
Maka dari itu sejumlah kalangan meminta agar pemerintah menerapkan sanksi dan audit lanjutan terhadap sejumlah kontraktor yang terbukti lalai dalam melindungi keselamatan pekerja konstruksi.
Kembali ke pernyataan Menhub, agaknya ketegasan memberikan sanksi tetapi tidak gegabah akan menjadi pegangan kuat untuk membangun infrastruktur berkualitas. Audit dan sanksi dapat menjadi solusi agar kontraktor kembali mengevaluasi kompetensi sumber daya manusia yang sebagian besar ditempatkan untuk mengerjakan sejumlah proyek berisiko.
Apalagi, pada tahun ini Kemenhub menganggarkan triliunan rupiah untuk proyek padat karya. Jika tanpa sanksi, bisa jadi keberpihakan kepada para pekerja tetap saja diabaikan. Setidaknya dengan audit menyeluruh, mereka akan  mengindahkan standar operasional untuk keselamatan pekerja. Mudah-mudahan upaya Menhub ini akan menenangkan para pekerja dan keluarganya. (*/B)

Basarnas : Cepat, Tepat, Aman, Terpadu dan Terkoordinasi

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Awaludin on . Posted in airport-services

Tepat 28 Februari 2018, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) genap berusia 46 tahun. Dalam rangka memperingati hari jadinya tersebut, Basarnas menggelar sejumlah rangkaian kegiatan, yaitu Pekan Olahraga Basarnas, Donor Darah, Bakti Sosial, Rapat Kerja (Raker), Ziarah ke Taman Makam Pahlawan, serta memberikan santunan kepada keluarga pegawai Basarnas yang gugur dalam menjalankan tugasnya.
Upacara sederhana penuh khidmat adalah puncak dari serangkain kegiatan yang digelar Basarnas dalam memperingati hari jadinya. Upacara ini diikuti oleh seluruh pegawai dan pejabat serta beberapa potensi SAR yang berasal dari TNI, POLRI, Jakarta Rescue, Damkar, dan Pramuka yang dipimpin langsung oleh Kepala Basarnas M. Syaugi selaku inspektur upacara.
Selama 46 tahun berdiri, tentu Basarnas telah mengalami banyak perubahan hingga akhirnya dikenal baik secara nasional maupun internasional. Berbagai prestasi pun berhasil diraih oleh organisasi yang saat ini sudah memiliki 38 kantor pencarian dan pertolongan serta 77 pos pencarian dan pertolongan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Kepala Basarnas M. Syaugi dalam sambutannya mengemukakan, bahwa di usianya yang ke-46 tahun ini kredibilitas dari Basarnas dipertaruhkan. Seluruh jajaran Basarnas harus selalu siap dan mampu melaksanakan tugas yang diamanahkan secara cepat, tepat, aman, terpadu, dan terkoordinasi. “Seluruh jajaran Basarnas harus amanah dalam menjalani tugasnya. Sinergitas yang telah terbangun baik selama ini dengan unsur TNI, POLRI, Pemerintah Pusat dan daerah, serta para potensi SAR harus terus dipertahankan dan ditingkatkan demi keberhasilan operasi pencarian dan pertolongan di lapangan. Keberhasilan operasi pencarian dan pertolongan yang berhasil diraih selama ini bukan semata-mata karena kemampuan Basarnas sendiri, melainkan hasil dari perwujudan kerjasama dengan rekan kerja dalam satu komunikasi yang baik dan sinergitas yang solid” tegasnya.
Sebagaimana diketahui bersama, bahwa keberhasilan operasi pencarian dan pertolongan ditentukan oleh tiga hal, yaitu ketepatan, kompetensi, dan sumber daya manusia. Ketiganya itu menjadi tantangan bagi seluruh jajaran Basarnas untuk mampu mewujudkan dan menjawab tantangan masyarakat yang memerlukan pelayanan pencarian dan pertolongan secara cepat, tepat, aman, terpadu, dan terkoordinasi. “Berbagai kecelakaan, bencana, dan kondisi membahayakan manusia yang kerap terjadi pastinya membutuhkan pelayanan pencarian dan pertolongan serta penyelamatan dan evakuasi secara professional. Oleh karena itu Basarnas harus mampu dan siap sedia setiap waktu dalam memberikan pelayanan pencarian dan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan,” jelas Kabasarnas. B

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati : Kerja 24 Jam, 7 Hari & 30 Menit

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Rizki Indriyanah dan Istimewa on . Posted in airport-services

Dalam dunia penerbangan, informasi cuaca di bandara keberangkatan maupun tujuan, serta selama penerbangan tentu sangat dibutuhkan oleh Pilot karena menyangkut keselamatan penerbangan. Untuk itu, BMKG memiliki peran penting dalam memberikan informasi cuaca terkait yang dibutuhkan oleh Pilot dan memiliki wewenang dalam memberikan informasi cuaca yang dibagi menjadi dua wilayah ruang udara dan disebut dengan FIR (Flight Information Region), dimana wilayah ruang udara disediakan oleh stasiun meteorologi penerbangan di Bandara Soekarno – Hatta dan di wilayah ruang udara timur disediakan oleh Bandara Sultan Hasannudin, di Makassar.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengemukakan, BMKG memiliki 97 UPT (Unit Pelaksana Teknis) di daerah yang melayani informasi meteorologi penerbangan untuk bandara-bandara di Indonesia. “UPT tersebut bertugas untuk melakukan pengamatan unsur cuaca dan memberikan layanan informasi meteorologi untuk keperluan take off dan landing pesawat, serta menyediakan berbagai informasi meteorologi penerbangan yang dibutuhkan untuk layanan navigasi penerbangan,” katanya.
Dwikorita juga menambahkan, untuk bandara yang belum ada UPT atau stasiun meteorologi penerbangan, BMKG membangun alat pengamat cuaca otomatis, yaitu AWOS (Automatic Weather observation System) yang merupakan alat pengamatan cuaca otomatis yang ditempatkan di bagian-bagian tertentu pada sisi landasan di bandara dan alat tersebut memberikan informasi untuk keperluan take-off dan landing kepada ATC. “Indonesia memiliki 300 bandara, sedangkan BMKG memiliki 97 stasiun meteorologi penerbangan yang tersebar di seluruh Indonesia. Bagi bandara yang belum ada stasiun meteorologi penerbangan, kami memasangkan alat pengamat cuaca otomotis AWOS,” lanjutnya.
Terkait informasi cuaca, menurut Dwikorita informasi unsur cuaca yang sangat penting untuk diketahui oleh Pilot atau Penerbang adalah arah dan kecepatan angin, visibility, kondisi cuaca dan jenis awan, salah satunya adalah jenis awan cumulonimbus yang membahayakan penerbangan, suhu udara, serta tekanan. “Informasi tersebut kami berikan kepada AirNav Indonesia, lalu  oleh AirNav diinfokan kepada ATC tiap-tiap bandara dengan munggunakan system komunikasi yang disediakan oleh AirNav, yaitu AFTN (aeronauticl fixed telecommunication network),” ujar Dwikorita.
Dwikorita menjelaskan lebih lanjut, bahwa Stasiun Meteorologi Penerbangan di bandara secara rutin, yakni setiap 30 menit melakukan pengamatan dan pelaporan unsur cuaca, baik prakiraan cuaca di bandara, cuaca selama rute penerbangan, serta setiap ada perubahan cuaca ekstrim akan diberikan peringatan dini sebelum terjadinya cuaca ekstrim yang datang tiba-tiba, juga termasuk informasi penyebaran abu vulkanik gunung api dan semua informasi cuaca yang dapat mengganggu operasional penerbangan. “Selain informasi yang diberikan secara rutin tiap 30 menit, sebelum terbang Pilot harus ambil flight document terlebih dahulu ke stasiun meteorologi penerbangan di bandara. Informasi yang kami berikan berdasarkan data satelit Himawari dan radar cuaca. BMKG memiliki 40 radar yang tersebar di Indonesia, jadi informasi dari satelit akurasinya dipertajam oleh radar. Jika akan terjadi cuaca ektrim, kami memberikan peringatan dini tiga jam sebelum terbang,” jelasnya.
Demi menciptakan keselamatan penerbangan, BMKG bekerja 24 jam tujuh hari 30 menit dan sewaktu-waktu terjadi cuaca ektrim dan terus melakukan inovasi teknologi yang lebih canggih lagi dalam merapatkan jaringan yang dapat stabil dalam keadaan apapun agar dapat tercipta informasi cuaca yang lebih cepat, tepat dan akurasi. B